Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Category Archives: Spirituality

~~~~~~~~~~~~~~~~
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور انفسنا وَمِنْ سيئات اعمالنا، من يهده الله فلا مضلله و من يضلله فلا هادي له. أشهد ان لا اله لا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمد عبده و رسوله. اما بعد

Ihwatal Iman anggota group Dirasah Islamiyah yang senantiasa dirahmati Allah Subhānahu wa ta’āla.

Ini adalah sesi ke-3 dari silsilah kajian Matan kitab Al-Ghoyah Wa Taqrib atau Al-Ghoyah Fii Taqrib buah karya Imam Abu Suja’ rahimahullāhu ta’āla.

Dan pada sesi ini kita masih berbicara tentang keutamaan ataupun manfaat dari pernikahan. Allah Subhānahu wa ta’āla telah mengodratkan manusia untuk memiliki berbagai kebutuhan termasuk kebutuhan biologis, Sehingga tentu kebutuhan ini haruslah dipenuhi agar anda bisa menjadi manusia yang seutuhnya sebagaimana ketika anda butuh akan makan, minum, anda tidak akan bisa menjadi manusia seutuhnya kecuali bila memenuhi kebutuhan makan minum demikian pula anda tidak akan bisa menjadi manusia seutuhnya kalau anda tidak memenuhi kebutuhan yang satu ini, Karnanya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa salam bersabda :

يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج؛

Wahai para pemuda, siapapun dari kalian yang telah mampu baik secara biologis ataupun secara material (finansial) anda telah mampu maka hendaknya anda segera menikah

فإنه أغض للبصر،

Karena dengan menikah anda lebih mudah untuk menundukkan, mengendalikan pandangan anda

وأحصن للفرج،

Dan anda juga lebih mudah untuk membentengi kemaluan anda sehingga tidak disalurkan hasrat biologis anda tidak disalurkan pada hal-hal yang haram

ومن لم يستطع فعليه بالصوم

Namun orang yang belum mampu hendaknya dia memperbanyak puasa, karena dengan memperbanyak puasa

فإنه له وجاءٌ

Dengan banyak puasa itu anda akan terbantu untuk sedikit mengendalikan kejolak nafsu anda.

Dan tentu tidak ada cara yang paling efektif, aman, baik secara kesehatan, maupun hukum syariat untuk menyalurkan kebutuhan biologis anda dibanding menikah, kemudian Allah Subhanallah Wata’ala juga telah mengkodratkan bahwa dengan adanya pernikahan anda sebagai makhluk sosial akan semakin merasakan betapa indahnya hidup sebagai makhluk sosial berkeluarga, berkerabat, memiliki hubungan pernikahan ternyata itu banyak mendatangkan manfaat dalam kehidupan anda, karena tentu anda tidak bisa hidup seorang diri dan juga anda tidak akan pernah merasakan betapa indahnya kehidupan sebagai umat manusia ketika anda hanya sebatang kara.

Allah Subhānahu wa ta’āla berfirman :

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا

Dan dialah Allah Subhanallahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan dari air mani manusia, dan dari air mani tersebut manusia turun temurun, saling beranak pinak, terus memiliki anak keturunan dan dengan sarana atau dengan adanya kebutuhan untuk menyalurkan kebutuhan air mani tersebut akhirnya terjalinlah hubungan yaitu hubungan yang terjalin dari pernikahan sehingga dua keluarga terjalin dengan pernikahan tersebut dan ini tentu menciptakan kondisi yang indah sebagai tatanan sosial kemasyarakatan.

(Q.S. Al-Furqaan : 54)

Tujuan yang selanjutnya adalah melalui pernikahan jenis manusia akan terawat dan terabadikan sehingga manusia yang memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan bumi ini dapat berkesinambungan, karenanya dahulu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menganjurkan kita untuk menikahi wanita-wanita yang subur karena dengan terlahirnya anak-anak yang banyak, keturunan yang banyak maka kemakmuran bumi ini akan dapat tercipta.

Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan bahwa kemakmuran bumi, indahnya kehidupan dunia tidak akan terwujud kecuali dengan banyaknya anak keturunan.

Allah Berfirman :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Sejatinya harta kekayaan dan anak kekurangan itu merupakan perhiasan kehidupan dunia. (Q.S. Al-Kahf : 56)

Mungkin bagi Anda yang masih bujang Anda tidak akan bisa atau belum mampu sepenuhnya untuk bisa membayangkan betapa indahnya kehidupan dunia ketika hadirnya anak-anak keturunan namun anda yang telah menikah dan memiliki anak keturunan Anda pasti sudah merasakan betapa dunia ini menjadi indah dengan suara anak-anak yang bercanda, bersenda gurau anak-anak yang bermain dengan riangnya, kehidupan Anda semakin terasa indah.

Apalagi ketika anda telah menginjak masa tua betul-betul anda semakin merasakan bahwa kehadiran anak itu merupakan perhiasan kehidupan dunia yang menjadikan Anda terus termotivasi untuk eksis bertahan hidup, termotivasi untuk berkarya di muka bumi ini karena anda tergugah untuk mencukupi, untuk mengantarkan anak keturunan anda pada pintu kesuksesan.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa salam juga telah mengingatkan pentingnya hal ini melalui sabdanya :

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث :

Bila manusia itu telah meninggal dunia maka seluruh amalannya akan terputus kecuali dari tiga hal salah satunya adalah

صدقة جارية، أو علم ينتفع به،

Anak sholeh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.

Menyadari bahwa dengan lahirnya anak yang sholeh akan senantiasa berbakti, berkarya dan kemudian mengharumkan nama orang tua dan selanjutnya setelah ada meninggal mereka terus mendoakan anda kita telah menjadi motivasi tersendiri bagi anda untuk bertahan hidup, untuk berkarya, untuk menorehkan karya-karya dan menyisakan hasil kerja yang akan berguna bagi anak keturunan anda.

والله تعالى اعلم

Advertisements

🔊 Manfaat Pernikahan
~~~~~~~~~~~~~~~~

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور انفسنا و سيئات اعمالنا، من يهده الله فلا مضلله و من يضلله فلا هادي له. أشهد ان لا اله لا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمد عبده و رسوله. اما بعد

Saudaraku seiman dan seaqidah, anggota group whatshap dirasah islamiyah yang semoga senantiasa dirahmati Allah Subhānahu wa ta’āla.

Ini adalah sesi kedua dari silsilah kajian kita pada kitab matnul ghayah fil iqtishar, buah karya Imam Abu Suja’ Asy Syafi’i rahimahullāhu ta’āla.

Pada kesempatan ini saya mengajak ikhwah sekalian untuk mengenali manfaat dari pernikahan. Semoga dengan mengenali manfaat dan tujuan-tujuan pernikahan, maka bagi yang belum menikah dapat menyusun rencana dan visi misi dalam pernikahannya serta cita-cita dan harapannya. Sedangkan bagi yang telah menikah dapat membenahi tujuan dan visi misi pernikahannya, sehingga jika terdapat hal-hal yang kurang tepat dapat segera dibenahi sehingga pernikahan tersebut menjadi semakin indah dan semakin mendatangkan banyak manfaat untuk pasangan suami istri tersebut.

Allah Subhānahu wa ta’āla telah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Ar Ruūm: 21)

Berdasarkan ayat di atas, terlihat bahwa tujuan pertama pernikahan adalah sebagai media untuk mendapatkan ketenangan/ketenteraman. Tentu saja bukan hanya ketenangan secara biologis, namun juga ketenangan secara psikologis. Misalnya, seorang suami yang tentu saja memiliki kekurangan dan kelebihan, maka kekurangannya akan tertutupi ketika ia berada di samping istrinya. Karena meskipun para lelaki itu memiliki banyak kelebihan, namun sebenarnya kelebihannya itu merupakan sumber dari kekurangannya. Sebagaimana juga kelebihan wanita seringkali juga merupakan sumber kekurangannya. Misalnya, seorang wanita yang memiliki kelebihan pada kelembutan, maka kekurangannya sebenarnya juga pada kelembutannya tersebut. Maka ketika kekuatan dan kegagahan suami disandingkan dengan kelembutan, kesabaran, kasih sayang, dan kearifan istri, maka suami istri tersebut akan menjadi pasangan yang sempuna karena keduanya saling melengkapi. Oleh karena itu, dalam ayat di atas allah menyebutkan litaskunū ilaihā (agar dengan pernikahan tersebut kalian mendapatkan ketenangan), yaitu ketenangan dalam segala urusan.

Dan di antara bentuk ketenangan yang diperoleh dalam pernikahan adalah, ketika seorang lelaki yang seringkali lebih temperamen dan kasar, kemudian mendapatkan sentuhan-sentuhan kelembutan dari istrinya, lalu perpaduan antara kekasaran dan kelembutan itu menghasilkan kebijaksanaan, sehingga keputusan-keputusan yang kemudian diambil dalam rumah tangga tersebut akan semakin indah. Maka Allah menyebutkan wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan, yaitu pada suami istri tersebut terdapat kasih sayang dan semangat untuk saling menyayangi satu sama lain.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa salam juga bersabda:

لَمْ يُرَى لِلْمُتَحَابِّيْنَ مِثْلٌ التَّزْوِجْ

Artinya:

Aku tidak pernah melihat orang yang benar-benar saling mencintai sebagaimana yang terjadi pada dua orang yang telah menikah.

Maka tidak ada solusi yang paling tepat bagi dua orang yang telah saling mencintai selain pernikahan, yaitu dengan menyatukan dua orang insan dalam ikatan pernikahan sehingga kasih sayang di antara keduanya akan menjadi sempurna. Selain itu, pernikahan juga akan mengubah kasih sayang yang hanya dilandasi oleh nafsu menjadi kasih sayang yang dilandasi oleh kesetiaan.

Allah Subhānahu wa ta’āla dalam ayat lain juga menjelaskan tentang tujuan dari pernikahan, yaitu dalam firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Artinya:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Q.S. An Nisa: 34)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kaum laki-laki telah diberi kelebihan, baik berupa kelebihan fisik, kematangan emosional, keberanian, dan berbagai kelebihan yang lain dibandingkan dengan kaum wanita. Sehingga, secara kodrat dan natural/alamiah, kaum laki-laki adalah pemimpin yang mampu melindungi, mengayomi, mengarahkan, menggandeng, dan mendidik kaum wanita. Hal itu sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an kepada para suami,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka… (Q.S. At Tahrim: 6)

Ayat di atas (Q.S. An NIsa: 34) juga menjelaskan bahwa kaum laki-laki secara kodrati dijadikan sebagai pemimpin karena mereka menafkahi dan mencukupi kaum wanita. Secara kodrat, fisik laki-laki memang lebih tepat untuk bekerja mencari penghasilan yang dengannya mereka bisa mencukupi kebutuhan istrinya. Sedangkan kodrat kaum wanita, baik secara fisik dan emosional memang lebih cocok untuk mendidik anak-anak dan mengurusi urusan rumah tangga.

OLeh karena itu dalam Al Quran Allah Subhānahu wa ta’āla menyebutkan:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

Artinya:

Dan hendaklah kamu (para wanita) banyak menetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.

والله تعالى اعلم

*Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.*
📗

🔊 Mukadimah
~~~~~~~~~~~~~~

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور انفسنا و سيئات اعمالنا، من يهده الله فلا مضلله و من يضلله فلا هادي له. أشهد ان لا اله لا الله وحده لا شريك له و اشهد ان محمد عبده و رسوله. اما بعد

Saudaraku seiman dan seaqidah, anggota group whatshap dirasah islamiyah yang senantiasa dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada kesempatan ini saya mengajak ikhwah sekalian untuk bersama-sama mengkaji satu bab dalam kitab matan ghayyah wa taqrib buah karya Syaikh Ahmad Ibnul Hasan Ibnu Ahmad Al Ashbahani atau yang lebih dikenal di negeri kita dengan sebutan Al Imam Abu Syuja’ rahimahullahu ta’ala.

Kitab ini tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, terlebih bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan di dunia pesantren, karena kitab matnu ghayyah wa taqrib ini telah menjadi referensi utama dalam kajian-kajian fiqih di negeri kita di kalangan para penganut madzhab Syafi’i secara umum.

Secara khusus kita akan membahas kitabun nikah, karena pembahasan tentang hukum-hukum pernikahan dan etika-etika pernikahan tersebut sangat penting bagi kita semua. Utamanya, bagi kawula muda yang hendak menikah, yaitu yang baru berencana memasuki pintu pernikahan maupun bagi yang telah menikah. Karena permasalahan pernikahan seringkali dianggap mudah, ringan, dan simple, sehingga seringkali terabaikan seiring dengan menipisnya sekat-sekat sosial, rasa malu, rasa sungkan, dan rasa segan yang terus menipis dan bahkan bisa jadi sirna setelah seseorang menikah.

Sebelum menikah seringkali seseorang merasa sungkan, malu, segan, dan hormat dengan calon pasanganya. Hal itu juga terbawa sampai di awal-awal pernikahan. Namun, seiring berjalannya usia pernikahan, hal itu terus menipis dan bahkan bisa jadi akhirnya sirna sehingga tidak ada lagi rasa sungkan dan segan dari seorang suami/istri kepada pasangannya, dan bahkan kepada keluarga pasangannya. Terlebih lagi bagi seorang suami yang merupakan kepala rumah tangga, di mana ia merasa memiliki power, kekuatan, dan kekuasaan untuk berbuat sesuka hatinya.

Dengan demikian apabila setelah menikah seorang suami masih mampu mempertahankan akhlak karimahnya terhadap istrinya, masih tetap memuliakan istrinya, masih memiliki rasa malu dan segan kepada istrinya, sehingga ia tidak ceroboh dalam bertindak, tidak berlaku semena-mena kepada istrinya, serta tetap memuliakan dan menghormatinya, maka itu merupakan pertanda bahwa ia adalah betul-betul orang yang baik sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, di mana beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,

خَيْرُكُمْ خُيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَ اَنَا خَيْرُكُمْ لِأَلْهِىْ

Artinya:

Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik dalam bergaul dengan keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik dalam bergaul dengan keluargaku.

Oleh karena itu, sepatutnya kita terus berusaha untuk memuliakan keluarga kita sebagai upaya kita semua untuk menjadi orang yang paling bertaqwa dan sebagai upaya untuk merealisasikan nilai-nilai taqwa karena orang yang bertaqwa itu adalah orang yang berbuat karena Allah, bukan karena segan kepada manusia. Maka seorang suami hendaknya berbuat baik karena mengharapkan mardhatillah, walaupun ia berada di posisi berkuasa dan mampu, serta bukan karena takut kepada manusia. Sehingga, ketika ia menggauli istrinya yang lemah serta di bawah kuasanya, maka ia tidak berbuat semena-mena, tetapi betul-betul karena menjalankan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ketika haji wada’:

إِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ

Artinya:

Hendaknya kalian senantiasa mewaspadai dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk berbuat baik kepada istri-istri kalian, karena mereka itu bagaikan tawanan di sisi kalian, yaitu karena mereka harus mengabdi, berbakti, serta tunduk dan patuh kepada kalian (para suami).

Oleh karena itu, sebagai timbal baliknya, suami harus berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berbuat baik dan memuliakan istrinya karena mereka adalah manusia yang Allah muliakan sebagaimana disebutkan dalam hadits:

لاَ يُكْرِمُ هُنَّ إِلاَّ كَرِيْمٌ، وَلاَ يُهِيْنُ هُنَّ إِلاَ اللَّئِيْم

Artinya:

Tidaklah memuliakan seorang wanita kecuali orang yang mulia juga, dan tidaklah merendahkannya kecuali seorang yang rendah dan tidak pandai bersyukur.

والله تعالى اعلم

Allah dan agamanya mustahil terkalahkan… bahkan agamanya pasti di depan akan mengalahkan semua agama sebagaimana yg dikabarkan Allah dalam 3 ayat dalam surat yang berbeda :

Dalam surat at-Taubah 33 :

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُشْرِكُونَ

*”Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.*

Dalam surat Al-Fath : 28 :

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا

*”Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.*

Dalam surat As-Saf : 9 :

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُشْرِكُونَ

*”Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.*

Jadi tak ada yg perlu dirisaukan tentang Islam, tetapi *hendaknya kita risau apakah diri kita termasuk nantinya tergolong orang yg diselamatkan berada dalam agama yg dimenangkan tsb atau justru tergolong dalam golongan yg dikalahkan.*

Oleh karenanya hendaknya kita selalu berada dalam barisan penolong agama Allah *bukan dalam barisan yg melecehkan & memusuhi agama Allah & umatnya*, karena Allah menyuruh kita berada dalam barisan penolong agama yg akan dimenangkanNya itu :

*“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.* (As Shaff: 14)

Sungguh Allah akan menolong hambaNya yg membela agamaNya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya : *“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”* (QS. Muhammad : 7)

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : *“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,”* (QS. Al Hajj : 40)

Kemenangan agamaNya Dia sudah pastikan, *hanya Dia ingin mengetahui siapa dari hambaNya yg diam saja tak peduli saat agama Allah dinista atau siapa dari hambaNya yg membela agamaNya* :

وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : *“dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya.* Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid : 25)

SEMOGA KITA DIKARUNIAI ALLAH SEBAGAI BAGIAN HAMBANYA YANG DICATAT MEMBELA AGAMANYA. (FU)

DAHSYATNYA PERMAINAN HATI!

قال ابن القيم رحمه الله: وها هنا أمرٌ ينبغي التفطّن له، وهو أن الكبيرة قد يقترن بها من الحياء والخوف، والاستعظام لها ما يلحقها بالصغائر. وقد يقترن بالصغيرة من قلّة الحياء، وعدم المبالاة، وترك الخوف، والاستهانة بها ما يلحقها بالكبائر. بل يجعلها في أعلى المراتب. وهذا أمرٌ مرجعه إلى ما يقوم بالقلب. وهو قدر زائد على مجرّد الفعل. والإنسان يعرف ذلك من نفسه ومن

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Disini terdapat sebuah perkara yang harus dicermati, bahwa sebuah dosa besar terkadang dibarengi dengan rasa malu dan takut serta merasa berat terhadapnya, sehingga dianggap sebagai dosa kecil. Dan terkadang dosa kecil dibarengi dengan sedikit rasa malu, acuh tak acuh, tidak ada rasa takut serta sikap peremehan terhadapnya yang menjadikannya dianggap sebagai dosa besar, bahkan menjadikannya pada tingkatan yang tertinggi. Dan perkara ini kembali kepada apa yang tegak di dalam hati, ini adalah nilai tambah dari hanya sekedar perbuatan, dan seorang manusia mengetahui hal itu pada dirinya daripada orang lain.”

Doa Bila Melihat Orang Yang Mengalami Musibah/Cobaan

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً

Alhamdulillaahil-ladzii ‘aafaanii mimmabtalaaka bihi, wa fadh-dholanii ‘alaa katsiirin mimman kholaqo tafdhiilan.

Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkanku dari musibah yang menimpamu, serta memberikan kelebihan kepadaku atas sekian banyak ciptaan-Nya.

HR. Tirmidzi 3431 dan Ibnu Majah 3898.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang menyaksikan orang yang terkena musibah, kemudian mengatakan: (doa di atas), niscaya Allah akan menghindarkannya dari musibah tersebut sepanjang hayatnya, walau bagaimanapun keadaannya.”

Kehidupan kita di Dunia *hanyalah tamu,* dan karena tamu maka *kehadiran kita hanyalah sementara…..*
_Kaya atau miskin *hanyalah sementara.*_
_Kejayaan atau kegagalan, *juga sementara.*_
_Jabatan atau kedudukan, popularitas dan kemuliaan, *semua lagi² hanya sementara saja…..*_
*Menjadi Bapak atau Ibu, menjadi Suami atau Isteri, menjadi Manager atau Direktur, bahkan jadi Presiden ataupun Raja, tidak ada yang abadi…..* *Sebab kita semua hanyalah TAMU…!*
_Karena kita *hanya tamu,* begitu waktunya tiba…..,Kita semua *harus beranjak pergi.*_
*Semua harta benda, emas permata, rumah dan kendaraan hanyalah pinjaman…..!*
_Walaupun semua asset adalah *hasil jerih payah keringat kita……*_
_Walaupun kita *mempunyai surat kepemilikan yang sah dan semua harta benda atas nama kita secara hukum…..?!*_
_Namun semuanya *hanyalah kepemilikan sementara,* hanyalah *pinjaman semata….!*_
*Karena pinjaman, begitu waktunya tiba, harus dikembalikan…..!*
_*Ketika lahir,* dua tangan kita kosong, ketika *meninggal dunia* kedua tangan kita juga kosong…..!_
_*Waktu datang* kita tidak membawa apa-apa, *waktu pergi* kita juga tidak membawa apapun.!_
_*Jangan sombong,* karena kaya dan berkedudukan, *jangan minder* karena miskin dan rendah…..!_ _Bukankah kita semua hanyalah tamu dan_ *Semua yang ada pada diri kita hanyalah pinjaman…..!*
*TETAPLAH RENDAH HATI…..,* _seberapapun tinggi kedudukan kita._
*TETAPLAH PERCAYA DIRI…..,* _seberapapun kekurangan kita._
*HANYA SATU KEPUNYAAN KITA….,* _yang bukan pinjaman, yang akan kita bawa kemanapun kita pergi, yaitu…….:_ *IMAN- AMAL- PERBUATAN KITA.*
_Semoga kita senantiasa bisa *meningkatkan ke- Iman-an dan ke-Taqwa-an , dan membawa serta amal perbuatan baik.*_
🎁 *Hadiah untuk semua Sahabat….. :
_Kami tidak menghadiahkan Matahari dan Bulan karena *keduanya akan hilang (dengan pergantian Siang dan Malam).*_
_Kami tidak menghadiahkan Lilin dan Es, karena keduanya akan meleleh._
_Kami tidak menghadiahkan kepada Saudaraku,warna-warni bunga karena akan layu._
_Namun,Kami menghadiahkan untuk Saudaraku…..:_
‎ سبحان الله *Subhanallah*
‎ والحمدلله *Walhamdulillah*
‎ ولا إله إلا الله *Wa lailaha ilallah*
‎ والله أكبر *Wallahu Akbar*
_Karena *hadiah itu kekal* untuk Anda dan akan *memberatkan timbangan amal* di Akhirat._
*Obat yang menjadikan kehidupan tidak akan pernah Cemas/Gelisah.*
‎لا إله إلا انت سبحانك إني كنت من الظالمين
*Laa Ilaha Illaa Anta Subhaanaka Innii Kuntu Minadzaalimiin.*
“Barangsiapa bersandar pada harta, ia akan miskin.
Barangsiapa bersandar pada harga diri, ia akan hina.
Barangsiapa bersandar pada akalnya, ia akan tersesat.
Namun barangsiapa bersandar pada Allah, sesungguhnya ia tak pernah miskin, hina dan sesat.”
( Ali bin Abi Thalib RA).