Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Monthly Archives: July 2016

1. Hari Ied yang Berulang Setiap Pekan

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ »
Dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari ini (Jumat) Allah menjadikannya sebagai hari Ied bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang menghadiri shalat Jumat hendaknya mandi, jika ia memiliki wangi-wangian maka hendaknya dia memakainya dan bersiwaklah” (HR. Ibnu Majah dan haditsnya dinyatakan hasan oleh Al Albani)

Diantara fiqh hadits :
• Setiap ummat memiliki hari Ied (hari raya)

• Hari Ied bagi kaum muslimin dalam setiap pekannya adalah hari Jumat

• Disyariatkannya mandi bagi setiap yang mau menghadiri shalat Jumat

• Pada saat menghadiri shalat Jumat dianjurkan memakai wewangian bagi yang memilikinya dan juga diperintahkan bersiwak

• Disyariatkan mengagungkan hari raya

2. Diharamkan mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat dan dimakruhkan mengkhususkan malamnya untuk shalat malam
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ » (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata, aku mendengar Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat kecuali jika engkau juga berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Jangan kalian mengkhususkan malam Jumat dari malam-malam lainnya untuk shalat lail dan jangan kalian mengkhususkan hari Jumat dari hari-hari lainnya untuk berpuasa kecuali jika bertepatan dengan waktu yang seseorang yang biasa berpuasa padanya” (HR. Bukhari dan Muslim,lafal hadits ini baginya)

Diantara fiqh hadits :
• Larangan mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa sunnah

• Boleh berpuasa sunnah di hari Jumat jika berpuasa sebelumnya atau sehari sesudahnya atau jika bertepatan dengan puasa yang memiliki sebab tertentu seperti puasa Arafah dan lainnya

• Larangan mengkhususkan malam Jumat untuk shalat lail

3. Disunnahkan membaca surat As Sajadah di rakaat pertama dan Al Insan di rakaat kedua pada saat sholat shubuh
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِـ”ألم تَنْزِيلُ” فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى وَفِي الثَّانِيَةِ “هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا”
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam membaca pada shalat shubuh di hari Jumat Alif Laam Miim Tanzil (surat As Sajdah) di rakaat pertama dan Hal Ataa ‘alal Insan Hiinun Min Ad Dahr Lam Yakun Syaian Madzkuura (surat Al Insan) (HR. Bukhari dan Muslim)

Diantara fiqh hadits :
• Perhatian para sahabat terhadap surat/ayat yang dibaca oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada saat shalat

• Penjelasan kadar bacaan imam pada saat shalat shubuh

• Disyariatkannya membaca surat As Sajadah di rakaat pertama dan surat Al Insan di rakaat kedua pada saat shalat Shubuh di hari Jumat

4. Pada hari Jumat ada waktu mustajab untuk berdoa
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ : « فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang hari Jumat, “Pada hari Jumat ada waktu yang mana seorang hamba muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu melainkan niscaya Allah akan memberikan permintaannya”. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara fiqh hadits ini :

• Keutamaan berdoa pada hari Jumat

• Orang yang rajin beribadah adalah orang yang paling patut diterima doanya

• Anjuran untuk mencari waktu-waktu yang afdhal untuk berdoa

• Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jumat; Al Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan 42 pendapat para ulama beserta dalilnya dalam menentukan waktu tersebut. Diantara sekian banyak pendapat ada dua pendapat yang paling kuat karena ditopang oleh hadits shohih, yaitu :
Pendapat Pertama : Waktu antara duduknya imam di mimbar hingga selesainya shalat. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana beliau berkata saya telah mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang waktu ijabah, “Waktunya antara duduknya imam di atas mimbar hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam Nawawi dll.
Pendapat kedua menetapkan waktu ijabah tersebut adalah ba’da ashar terutama menjelang maghrib. Pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaai dan lainnya dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam beliau bersabda(artinya), “Hari Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang hamba muslim berdoa padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu tersebut di penghujung hari Jumat setelah shalat Ashar”. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya sahabat yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam Ahmad dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang menjelaskan waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar…”

5. Dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi di hari Jumat
    عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه وأحمد)
Dari Aus bin Aus radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang afdhal bagi kalian adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari Jumat juga sangkakala (pertanda kiamat) ditiup dan padanya juga mereka dibangkitkan, karena itu perbanyaklah bershalawat kepadaku karena shalawat kalian akan diperhadapkan kepadaku” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat yang kami ucapkan untukmu bisa diperhadapkan padamu sedangkan jasadmu telah hancur ?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi tanah untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Nasaai, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shohih)

Diantara fiqh hadits :
• Keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain

• Diantara kekhususan hari Jumat : Adam alaihissalam diciptakan dan diwafatkan padanya, hari kiamat dan hari kebangkitan juga terjadi padanya

• Perintah memperbanyak shalawat pada hari Jumat

• Shalawat yang kita peruntukkan kepada Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam akan disampaikan kepada beliau

• Jasad para nabi tidak hancur dimakan tanah

6. Hari Kiamat terjadi pada hari Jumat
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : » خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ « رواه مسلم
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan juga dikeluarkan darinya serta kiamat tidak terjadi melainkan pada hari Jumat” (HR. Muslim)

Diantara fiqh hadits :
• Hari Jumat adalah hari yang terbaik diantara hari-hari yang ada

• Nabi Adam alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan darinya pada hari Jumat

• Kiamat terjadi pada hari Jumat

Advertisements

الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

_Saudaraku yg dimuliakan & dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla._
_Bagaimana cara berbakti pada orang tua ketika mereka telah meninggal dunia atau tiada?_

_Perhatikan hadis berikut ini. Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,_
بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».
_“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam._

_Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?”_

_Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)_
_Dalam hadits yg lain, kita dapat melihat bagaimana bentuk berbakti pada orang tua yg telah meninggal dunia lewat berbuat baik pada keluarga dari teman dekat orang tua._

_Ibnu Dinar meriwayatkan, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata bahwa ada seorang lelaki Badui bertemu dengan Ibnu Umar di tengah perjalanan menuju Makkah. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Umar memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas keledainya serta memberikan sorban yg dipakai di kepalanya. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan sebenarnya ia diberi sedikit saja sudah senang.” ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sesungguhnya ayah Badui tersebut adalah kenalan baik (ayahku) Umar bin Al-Khattab. Sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,_
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
_“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)_
_Dalam riwayat yang lain, Ibnu Dinar bercerita tentang Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Apabila Ibnu ‘Umar pergi ke Makkah, beliau selalu membawa keledai sebagai ganti unta apabila ia merasa jemu, & ia memakai sorban di kepalanya._

_Pada suatu hari, ketika ia pergi ke Makkah dengan keledainya, tiba-tiba seorang Arab Badui lewat, lalu Ibnu Umar bertanya kepada orang tersebut, “Apakah engkau adalah putra dari si fulan?” Ia menjawab, “Betul sekali.” Kemudian Ibnu Umar memberikan keledai itu kepadanya dan berkata, “Naiklah di atas keledai ini.” Ia juga memberikan sorbannya (imamahnya) seraya berkata, “Pakailah sorban ini di kepalamu.”_
_Salah seorang teman Ibnu Umar berkata kepadanya, “Semoga Alloh memberikan ampunan kepadamu yg telah memberikan orang Badui ini seekor keledai yg biasa kau gunakan untuk bepergian & sorban yg biasa engkau pakai di kepalamu.” Ibnu Umar berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,_
إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّىَ
_“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya setelah meninggal dunia.” Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat baik (ayahku) Umar (bin Al-Khattab)._
_Bisa jadi pula bentuk berbuat baik pada orang tua adalah dengan bersedekah atas nama orang tua yg telah meninggal dunia._

_Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,_
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رضى الله عنه تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
_“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya._

_Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)_
_Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 24: 314._
_Ada enam hal yg bisa kita simpulkan bagaimana bentuk berbakti dengan orang tua ketika mereka berdua atau salah satunya telah meninggal dunia:_
1⃣ _Mendo’akan kedua orang tua._
2⃣ _Banyak meminta ampunan pada Alloh untuk kedua orang tua._
3⃣ _Memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia._
4⃣ _Menjalin hubungan silaturahim dengan keluarga dekat keduanya yg tidak pernah terjalin._
5⃣ _Memuliakan teman dekat keduanya._
6⃣ _Bersedekah atas nama orang tua yg telah tiada._
_Semoga bisa diamalkan. Selama masih hidup, itulah kesempatan kita terbaik untuk berbakti pada orang tua. Karena berbakti pada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga. Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,_
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
_“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)._
_Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, “Bakti pada orang tua adalah pintu terbaik & paling tinggi untuk masuk surga. Maksudnya, sarana terbaik untuk masuk surga & yg mengantarkan pada derajat tertinggi di surga adalah lewat mentaati orang tua & berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yg mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu. Yg paling nyaman dimasuki adalah yg paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu tersebut adalah melakukan kewajiban kepada orang tua.’ (Tuhfah Al-Ahwadzi, 6: 8-9)._
_Kalau orang tua kita masih hidup, manfaatkanlah kesempatan berbakti padanya walau sesibuk apa pun kita. Semoga bermanfaat._
_Ya Alloh teguhkanlah kami di atas iman & amal shalih, hidupkan kami dengan kehidupan yg baik & sertakan diri kami bersama golongan orang-orang yg beriman._
والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه .
Semoga bermanfaat.

فتوى هيئة كبار العلماء في (البوكيمون)
(فتوى رقم (2175 وتاريخ (3/12/1421هـ):

وردت إلى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء أسئلة كثيرة -مسجَّلة لدى الأمانة العامة لهيئة كبار العلماء-، ومنها (مسجل برقم 7180 في 11/11/1421هـ، ومسجل برقم 7246 وتاريخ 17/11/1421هـ) وغيرها، وكان نصُّ أحدِها ما يلي -ونُثبت مُلَخَّصَ السؤالِ-:

«انتشرت بين طلاب المدارس -في الفترة الأخيرة- لعبةٌ تُعرفُ بـ(البوكيمون)؛ هذه اللعبة التي استحوذت على عقول شريحة كبيرة من أبنائنا الطلاب، فأَسَرتْ قلوبهم، وأصبحت شغلَهم الشاغلَ، يُنفقون ما لديهم من نقود في شراء بطاقاتها…»، ثمَّ ذكر السائلُ معلوماتٍ جيدةً عن هذه اللعبة.

وقد سأل السائلون عن حكم تلك اللعبة التي تسمى: (البوكيمون).

وهذا نص جواب اللجنة:

«وحيث إنَّ هذه اللعبة تشتمل على عدد من المحاذير الشرعية التي منها: الشركُ بالله -باعتقاد تَعدُّد الآلهة-، ومنها الميْسِرُ الَّذي حَرَّمهُ اللهُ بنصِّ القرآن، وجعله قريناً للخمر والأنصاب في قوله -تعالى-: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمنُوا إِنَّمَا الخَمْرُ وَالمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلام رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ العَدَاوَةَ وَالبَغْضَاءَ فِي الخَمْرِِِ وَالمَيْسِرِ وَيَصُدكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنَتَهُونَ}، ومنها تَرويجُ شعارات الكفر، والدِّعايةُ لها، وترويجُ الصورِ المحرَّمةِ، وأكلُ المالِ بالباطلِ.

لهذه المحاذير وغيرها؛ فإن اللجنة الدائمة ترى تَحريمَ هذه اللعبة، وتَحريمَ الأموال الحاصلة بسبب اللعب بها؛ لأنها ميسرٌ -وهو القمارُ المحرَّم-، وتحريمَ بيعها وشرائها؛ لأن ذلك وسيلةٌ موصلةٌ إلى ما حرَّم اللهُ ورسولُه.

وتوصي اللجنةُ جميعَ المسلمين بالحذر منها، ومَنْعِ أولادهم من تعاطيها واللعب بها، محافظةً على دينهم وعقيدتِهم وأخلاقهم؛ وبالله التوفيق».
Fatwa no. 2175, tertanggal 3/12/1421 H, telah masuk beberapa pertanyaan ke Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah wal Ifta’, terdata di komisi bidang umum ulama besar KSA, diantaranya no 7180 pada 11/11/1421, dan no. 7246 dg tanggal 17/11/1421 H, dll.
Diantara teks soalnya sebagai berikut:
“Akhir2 ini lagi marak diantara pelajar sekolah permainan yg dikenal dg pokemon. Permainan ini telah menghipnotis otak kebanyakan anak2 pelajar dan menawan hati mereka sehingga menjadi candu untuk membeli kartu2 nya.
Bagaimana sebenarnya hukum permainan Pokemon ini ?
Jawaban Lajnah:
“Permainan ini mengandung beberapa pelanggaran terhadap syariat, diantaranya: syirik kpd Allah karena meyakini adanya bbrp Tuhan/dewa, perjudian yg diharamkan oleh Allah dlm Al Quran, menyebarkan syiar2 kekufuran, menebarkan gambar2 tak senonoh yg haram, memakan harta dg cara yg bathil/haram.
Karena hal-hal ini, maka Lajnah memandang haramnya permainan ini dan haramnya harta hasil dari permainan ini karena itu termasuk perjudian yg haram, demikian juga haram jual beli permainan ini, karena hal itu merupakan sarana kpd apa yg diharamkan oleh Allah dan rasulNya.
Lajnah mewasiatkan kpd segenap kaum muslimin untuk mewaspadainya dan melarang anak2 dari permainan ini guna menjaga agama, aqidah dan akhlak mereka. Hanya kpd Allah, kita memohon Taufiq”.
Dan tulisan yg bagus dr saudara kami, al Ustadz Abdul Qodir Abu Faizah Lc, Alumnus Universitas Islam Madinah,
pesantren-alihsan.org/bahaya-kartun-pokemon.html
Bahaya Kartun Pokemon | Website Pesantren-Alihsan.Org
Bermunculannya film-film kartun seiring dengan banyaknya perusahaan pertelevisian yang muncul ke permukaan. Semakin hari berjalan, semakin banyak kreasi yang diciptakan oleh para kartunis mulai dari yang sederhana sampai kepada kartun yang menggunakan alat-alat modern, sehingga terciptalah kartun-ka…
PESANTREN-ALIHSAN.ORG
Via FB Iwank Nurmawan- **TAHDZIR**
***
Bahaya Kartun Pokemon

Bermunculannya film-film kartun seiring dengan banyaknya perusahaan pertelevisian yang muncul ke permukaan. Semakin hari berjalan, semakin banyak kreasi yang diciptakan oleh para kartunis mulai dari yang sederhana sampai kepada kartun yang menggunakan alat-alat modern, sehingga terciptalah kartun-kartun animasi yang amat digandrungi oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pokemon adalah salah satu diantara sekian banyak kartun. Kartun yang bermula muncul di Jepang beberapa tahun yang silam. Semula ia hanya berupa permainan elektronik, lalu berkembang jadi film, komik dan merek dagang. Sebagian perusahaan yang menangani film kartun Pokemon berlomba-lomba membuat film serial, jurnal, dan situs yang menceritakan serial kehidupan Pokemon.
Tak kalah andilnya, para pemilik perusahaan pertelevisian domestik dan internasional ikut meramaikan dan meraup laba sebesar-besarnya dari film kartun itu. Sebab dengan menayangkan acara kartun tersebut, para pemirsa semakin banyak yang menyaksikan semua tayangan mereka berupa iklan dan acara-acara lainnya.Dengan iklan, perusahaan pertelevisian akan hidup.
Di balik munculnya Pokemon, mayoritas kaum muslimin atau manusia tak sadar terhadap bahaya film kartun Pokemon. Mereka tenang-tenang saja saat membiarkan buah hati mereka melongo di depan televisi yang akan mengisi dan memberikan pola bagi pemikiran dan benaknya yang masih bersih dan lugu. Inilah salah satu pintu setan yang merusak agama anak-anak kita. Setan yang merupakan musuh kita. Allah -Ta’ala- berfirman mengingatkan kita,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيم [النور : 21]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. An-Nuur : 21)
Para pembaca yang budiman, sebelum kami menyebutkan beberapa bahaya kartun Pokemon, perlu kami jelaskan bahwa kata “Pokemon” terdiri dari dua kata: Poke adalah singkatan dari kata pocket (saku atau kantong), dan Mon adalah singkatan dari kata monster, sehingga maknanya adalah monster saku. Maksud di balik itu bahwa betapa kecilnya monster-monster itu sehingga ia hanya terwadahi oleh saku. Sedangkan tokoh masyhur dalam kartun ini, “Pikachu” (bahasa Jepang) mengandung makna dan ungkapan tentang suara-suara yang keluar dari mulut tikus, sebab memang tokoh ini bentuknya seperti tikus yang bersenjatakan sengatan listrik.Dari sini tampaklah kesalahan orang yang menyatakan bahwa nama Pikachu berasal dari bahasa suryani, artinya “Saya Yahudi”. Itu bukan bahasa Suryani, tapi bahasa Jepang.
Para pembaca budiman, jika kita mencermati kartun Pokemon dari sisi syariat Islam yang suci, maka akan tampak bagi kita adanya beberapa pelanggaran di dalamnya:
Kartun ini Mengajarkan Kesyirikan dan Merusak Aqidah.
Di dalam kartun itu digambarkan adanya makhluk hidup fiktif yang mereka istilahkan dengan monster yang memiliki kekuatan gaib dan luar biasa. Tentunya hal seperti ini akan merusak aqidah dan pola pikir anak-anak. Hal seperti ini seakan-akan mau menyaingi mukjizat para nabi dan rasul, bahkan mau menyaingi Allah dalam sifat dan perbuatan-Nya. Bukankah monster-monster itu digambarkan mampu melakukan perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah. Sungguh ini adalah kesyirikan dalam hal rububiyyah (perbuatan-perbuatan) Allah dan juga penentangan terhadap ketentuan Allah. Seakan-akan mereka mampu melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan. Padahal perkara seperti ini hanya kembali kepada Allah. Dialah yang Maha Kuasa dan menentukan segala yang Dia kehendaki!!
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [آل عمران : 189]
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali Imraan : 189)
Allah -Ta’ala- berfirman,
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان : 2]
“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (QS. Al-Furqaan : 2)
Al-Imam Abul Fidaa’ Ibnu Katsir –rahimahullah– berkata, “Maksudnya, segala sesuatu selain-Nya adalah makhluk yang tercipta. Dia-lah Pencipta segala sesuatu, Pemiliknya, Rajanya, dan Sembahannya. Segala sesuatu ada di bawah kekuasaan, pengaturan dan ketentuan-Nya”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (6/93) karya Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]
Selain itu, perlu kita ingat bahwa para penggagas film Pokemon adalah orang-orang Jepang selaku kaum paganisme yang menyembah berhala. Semua keajaiban yang digambarkan dalam kartun itu adalah inspirasi dari keyakinan dan agama yang ia yakini bahwa dewa-dewa yang mereka sembah punya kehebatan yang luar biasa.
Berbohong kepada Anak-anak Kecil
Film kartun Pokemon jelas mengandung kebohongan yang akan mendidik anak kita untuk terbiasa berbohong dan dibohongi. Kebohongan itu terlihat nyata melalui penayangan makhluk dan benda fiktif alias bohong dan tidak memiliki hakikat dan bentuk serta sifat-sifat sebagaimana yang terdapat dalam film itu. Selain itu, perkara fiktif seperti ini akan merusak aqidah dan imajinasi anak, sehingga terkadang anak-anak mau berbuat yang tidak masuk akal dan bertingkah seperti orang gila dan kerasukan seusai nonton Pokemon. Ingin melakonkan aksi para tokoh Pokemon!!
Berbohong kepada anak, walaupun itu bercanda adalah perkara yang terlarang. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَه
“Kecelakaan bagi orang yang bercerita, lalu ia berdusta agar ia membuat orang lain jadi tertawa karenanya. Kecelakaan baginya dan kecelakaan baginya!!”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4992) dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (no. 2315). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 7136)
Al-Imam Al-Mubarokfuriy –rahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengulang-ulangi sabdanya sebagai bentuk pengabaran tentang besarnya kehancuran orang itu, sebab kedustaan itu sendiri adalah pokok (dasar) segala yang tercela dan inti segala keburukan”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/498), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]
Al-Imam Abdur Ra’uf Al-Munawiy –rahimahullah– berkata, “Jika berkumpul bersama kedustaan, adanya usaha membuat orang tertawa, tertawa yang akan mematikan hati dan menyebabkan lupa (kepada Allah) serta mewariskan kedunguan, maka kebohongan itu merupakan keburukan yang paling buruk. Dari sanalah, orang-orang bijak berkata, “Membawakan perkara yang menertawakan orang dengan cara gila merupakan puncak keburukan”. [Lihat Faidhul Qodir (6/368)]
Mendukung Teori Evolusi Darwin
Satu diantara bahaya film kartun Pokemon, ia menyusupkan paham kafir dan batil, yaitu paham dan teori yang pernah dicetuskan oleh Darwin. Teori itu dikenal dengan Teori Evolusi yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup mengalami evolusi (perkembangan) menuju kepada kesempurnaan, misalnya manusia asalnya dari kera yang mengalami evolusi sampai akhirnya berubah menjadi manusia sempurna dan mengenal peradaban. Ini tentunya menyalahi petunjuk Al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia asalnya dari Adam, dan Adam dari tanah.
Allah -Ta’ala- berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا  [النساء : 1]
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri (yakni Adam), dan darinya Allah menciptakan isterinya (yakni, Hawwa’); dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu”. (QS. An-Nisaa’ : 1)
Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa manusia asalnya dari Adam, bukan dari monyet!! Sedang Adam dari tanah sebagaimana yang dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits.
Nah, kita lihat dalam film Pokemon, digambarkan bahwa monster-monster ajaib itu mengalami evolusi dengan sendirinya. Ini sejalan dengan teori Darwin yang batil dalam menyatakan adanya perkembangan makhluk dengan sendirinya, serta meniadakan keterlibatan Allah sebagai Pencipta dalam hal itu. Jelas ini adalah kekafiran dan kebatilan.
Inilah beberapa bahaya dan efek dari film kartun Pokemon bagi generasi pelanjut kita, walapun disana masih ada yang lainnya. Sadar atau tidak kita telah mengikuti langkah-langkah setan dalam menyesatkan dan merusak anak-anak kita dan menjadikannya sebagai manusia tukang khayal yang hanya mampu berangan-angan. Sadar atau tidak kita telah tolong menolong dalam dosa dan permusuhan dan memperkaya para pemilik perusahaan pertelevisian, periklanan dan perniagaan, dengan rela merusak dan mengorbankan pribadi generasi kita. Semoga tulisan ringkas ini merupakan ketukan hati bagi para orang tua dan pendidik agar lebih mewaspadai sarana yang merusak anak-anak kita.
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid. 

Pimpinan Redaksi / Penanggung Jawab : Ustadz Abu Fa’izah Abdul Qadir Al-Atsary, Lc.

Barangsiapa yang menghendaki keburukan di kota Madinah maka Allah akan membinasakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ أَرَادَهَا بِسُوْءٍ أَذَابَهُ اللهُ كَمَا يَذُوْبُ الْمِلْحُ فِي المَاءِ
“Barangsiapa yang menghendaki keburukan padanya maka Allah akan meleburkannya sebagaimana garam yang melebur di air” (HR Ahmad)
Dan barangsiapa yang berencana buruk kepada penduduk kota Madinah maka Allah akan membinasakannya dan Allah tidak akan menundanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لاَ يَكِيْدُ أَهْلَ الْمَدِينَة أحدٌ إِلَّا انْمَاعَ كَمَا يَنْمَاعُ الْمِلْحُ فِي المَاءِ
“Tidaklah seorangpun yang berencana buruk kepada penduduk kota Madinah kecuali ia akan lebur sebagaimana garam yang lebur di air”(HR Al-Bukhari)
Barangsiapa yang menghendaki keburukan kepada penduduk kota Madinah maka Allah mengancamnya dengan adzab yang pedih di neraka. Nabi bersabda :
وَلَا يُرِيد أحدٌ أهلَ الْمَدِينَة بِسوء إِلَّا أذابه الله فِي النَّارِ ذَوْبَ الرَّصَاصِ، أَو ذَوْبَ الْمِلْحِ فِي المَاءِ
“Dan tidak seorangpun yang menghendaki keburukan kepada penduduk kota Madinah kecuali Allah akan meleburkannya di neraka sebagaimana leburnya timah, atau leburnya garam di air” (HR Muslim)
Barangsiapa yang menakut-nakuti penghuni kota Madinah maka Allah akan menjadikannya takut dan mengancamnya dengan laknat, Nabi berkata
مَنْ أَخَافَ أَهْلَ الْمَدِيْنَةِ ظَالِمًا لَهُمْ أَخَافَهُ اللهُ وَكَانَتْ عَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ
“Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk kota Madinah dengan menzolimi mereka, maka Allah akan menjadikan mereka takut, dan atas dia laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, tidak akan diterima darinya amal wajibnya dan tidak juga amal sunnahnya” (HR An-Nasai)