Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Hukum Menjadi Vegetarian

Ternyata vegetarian kurang baik secara medis dan agama pun melarangnya. Berikut ini pembahasann ya…

Vegetarian sebagaimana yang kita tahu adalah mereka yang tidak memakan daging hewan secara total atau hal-hal yang berasal dari hewan dengan berbagai alasan mulai dari kesehatan versi mereka atau keyakinan-keyakinan tertentu.

Ternyata vegetarian kurang baik secara medis dan agama pun melarangnya. Berikut ini pembahasannya:

Menjadi vegetarian dirinci sesuai niat:

Jika niatnya beribadah maka ini adalah sesuatu yang tidak ada dalilnya dalam ibadah (bid’ah).
Tidak ada niat ibadah, niatnya hanya sekedar melarang diri maka ia telah mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan juga jika tidak baik untuk kesehatan, maka ini juga dilarang oleh agama.
Jika niatnya beribadah

Tidak ada dalam ajaran Islam beribadah dengan cara tidak makan daging, bahkan ini bisa menjadi tasyabbuh menyerupai ibadah suatu kaum yang ibadah mereka mengharamkan makan daging hewan menurut agama mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak”1.

Hukum asal ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang membolehkannya, sebagaimana kaidah

الأصل في العبادات التحريم

“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil)”.

Bahkan ada hadits terkait tentang hal ini yaitu ada sahabat yang berniat tidak akan makan daging dengan tujuan agar lebih beribadah, maka ini dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَمَلِهِ فِي السِّرِّ؟ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لَا آكُلُ اللَّحْمَ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاش ٍ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، فَقَالَ: (مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا ؟ لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَام ُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Sekelompok sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyai istri-istri Nabi tentang amalan beliau yang tersembunyi. Kemudian sebagian dari sahabat tersebut berkata, ‘Saya tidak akan menikah.’ Yang lainnya berkata, ‘Saya tidak akan memakan daging.’ Yang lain berkata pula, ‘Saya tidak akan tidur di atas ranjang.’ Bersebab (ucapan mereka) itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda, ‘Kenapa ada sekelompok orang yang berkata begini dan begitu! Aku shalat namun ada waktunya aku tidur. Aku berpuasa namun ada waktunya aku tak berpuasa. Aku juga menikahi wanita-wanita. Barang siapa yang menolak sunnahku maka dia bukan golongan umatku” 2.

Jika tidak ada niat ibadah

Ini juga terlarang dengan alasan:

Pertama: Mengharamkan apa yang telah Allah halalkan

Allah Ta’ala berfirman,

يا أيها الذين آمنوا لا تحرموا طيبات ما أحل اللَّه لكم

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengharamkan hal-hal baik yang Allah telah halalkan untuk kalian.” (QS. Al-Maidah: 87).

Kedua: Bisa jadi bentuk mengingkari nikmat Allah.

Daging yang bergizi dan lezat dimakan, malah diharamkan oleh diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

.وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Al-Maidah: 88).

Ketiga: bisa berbahaya bagi kesehatan.

Vegetarian akan kekurangan vitamin B 12 yang hanya ada pada hewan (katanya), padahal vitamin ini cukup penting teruatam ketika hamil dan keadaan lainnya. Selain itu ada juga zat gizi lainna yang cukup penting dan kandungannya tinggi pada hewan. Jika memang berbahaya maka ini dilarang oleh agama.

Rasulullah shallalahu a’laihi wa sallam bersabda,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain” 3.

Demikian semoga bermanfaat.

***

@Desa Pungka, Sumbawa Besar – Sabalong samalewa

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

%d bloggers like this: