Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

☘🍀☘🍀☘🍀☘🍀☘

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 

Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah Fajar yaitu dua raka’at sebelum pelaksanaan shalat Shubuh adalah di antara shalat rawatib. Yang dimaksud shalat rawatib adalah shalat sunnah yang dirutinkan sebelum atau sesudah shalat wajib. Shalat yang satu ini punya keutamaan yang besar, sampai-sampai ketika safar pun, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus menjaganya. Bahkan ada keutamaan besar lainnya yang akan kita temukan.
Dalam Shahih Muslim telah disebutkan mengenai keutamaan shalat ini dalam beberapa hadits, juga dijelaskan anjuran menjaganya, begitu pula diterangkan mengenai ringkasnya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat tersebut.

Shalat Sunnah Fajar dengan Dua Raka’at Ringan

Dalil yang menunjukkan bahwa shalat sunnah qobliyah Shubuh atau shalat Sunnah Fajar dilakukan dengan raka’at yang ringan, adalah hadits dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar yang berkata bahwa Ummul Mukminin Hafshoh pernah mengabarkan,

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻜَﺖَ ﺍﻟْﻤُﺆَﺫِّﻥُ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥِ ﻟِﺼَﻼَﺓِ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢِ ﻭَﺑَﺪَﺍ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢُ ﺭَﻛَﻊَ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺧَﻔِﻴﻔَﺘَﻴْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﺗُﻘَﺎﻡَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu diam antara adzannya muadzin hingga shalat Shubuh. Sebelum shalat Shubuh dimulai, beliau dahului dengan dua raka’at ringan. ” (HR. Bukhari no. 618 dan Muslim no. 723).

Dalam lafazh lain juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat Sunnah Fajar dengan raka’at yang ringan. Dari Ibnu ‘Umar, dari Hafshoh, ia mengatakan,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫَﺍ ﻃَﻠَﻊَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮُ ﻻَ ﻳُﺼَﻠِّﻰ ﺇِﻻَّ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺧَﻔِﻴﻔَﺘَﻴْﻦِ

“ Ketika terbit fajar Shubuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah shalat kecuali dengan dua raka’at yang ringan ” (HR. Muslim no. 723).

‘Aisyah juga mengatakan hal yang sama,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳُﺼَﻠِّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻰِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻷَﺫَﺍﻥَ ﻭَﻳُﺨَﻔِّﻔُﻬُﻤَﺎ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendengar adzan, beliau melaksanakan shalat sunnah dua raka’at ringan ” (HR. Muslim no. 724).
Dalam lafazh lainnya disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata,

ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻳُﺼَﻠِّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻰِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻓَﻴُﺨَﻔِّﻒُ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﻧِّﻰ ﺃَﻗُﻮﻝُ ﻫَﻞْ ﻗَﺮَﺃَ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﺑِﺄُﻡِّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat sunnah fajar (qobliyah shubuh) dengan diperingan. Sampai aku mengatakan apakah beliau di dua raka’at tersebut membaca Al Fatihah? ” (HR. Muslim no. 724).

Imam Nawawi menerangkan bahwa hadits di atas hanya kalimat hiperbolis yaitu cuma menunjukkan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding dengan kebiasaan beliau yang biasa memanjangkan shalat malam dan shalat sunnah lainnya. Lihat

Syarh Shahih Muslim , 6: 4.
Dan sekali lagi namanya ringan juga bukan berarti tidak membaca surat sama sekali.
Imam Nawawi
rahimahullah berkata, “Sebagian ulama salaf mengatakan tidak mengapa jika shalat sunnah fajar tersebut dipanjangkan dan menunjukkan tidak haramnya, serta jika diperlama tidak menyelisihi anjuran memperingan shalat sunnah fajar. Namun sebagian orang mengatakan bahwa itu berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membaca surat apa pun ketika itu, sebagaimana diceritakan dari Ath Thohawi dan Al Qodhi ‘Iyadh. Ini jelas keliru. Karena dalam hadits shahih telah disebutkan bahwa ketika shalat sunnah qobliyah shubuh, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas setelah membaca Al Fatihah. Begitu pula hadits shahih menyebutkan bahwa tidak ada shalat bagi yang tidak membaca surat atau tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al Qur’an, yaitu yang dimaksud adalah tidak sahnya.” (Syarh Shahih Muslim , 6: 3).

Rajin Menjaga Shalat Sunnah Qobliyah Shubuh
Dan shalat sunnah fajar inilah yang paling Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
jaga, dikatakan pula oleh ‘Aisyah,

ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻰْﺀٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﻮَﺍﻓِﻞِ ﺃَﺷَ
ﺪَّ ﻣُﻌَﺎﻫَﺪَﺓً ﻣِﻨْﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢِ

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menjaga shalat sunnah yang lebih daripada menjaga shalat sunnah dua raka’at sebelum Shubuh ” (HR. Muslim no. 724).

Dalam lafazh lain disebutkan bahwa ‘Aisyah berkata,

ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓِﻰ ﺷَﻰْﺀٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﻮَﺍﻓِﻞِ ﺃَﺳْﺮَﻉَ ﻣِﻨْﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ

“ Aku tidaklah pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah yang lebih semangat dibanding dengan shalat sunnah dua raka’at sebelum Fajar” (HR. Muslim no. 724).

Dalil anjuran bacaan ketika shalat sunnah qobliyah shubuh dijelaskan dalam hadits berikut,

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗَﺮَﺃَ ﻓِﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻰِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ‏( ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ‏) ﻭَ ‏( ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ ‏)

“ Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ketika shalat sunnah qobliyah shubuh surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” (HR. Muslim no. 726).

💰💰 Keutamaannya: Lebih dari Dunia Seluruhnya

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah qobliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

ﺭَﻛْﻌَﺘَﺎ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ

“ Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya. ” (HR. Muslim no. 725).
Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Shubuh itu sendiri.

Dalam lafazh lain, ‘Aisyah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

berbicara mengenai dua raka’at ketika telah terbih fajar shubuh,

ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻰَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ

“ Dua raka’at shalat sunnah fajar lebih kucintai daripada dunia seluruhnya ” (HR. Muslim no. 725).

Hadits terakhir di atas juga menunjukkan bahwa shalat sunnah fajar yang dimaksud adalah ketika telah terbit fajar shubuh. Karena sebagian orang keliru memahami shalat sunnah fajar dengan mereka maksudkan untuk dua raka’at ringan sebelum masuk fajar. Atau ada yang membedakan antara shalat sunnah fajar dan shalat sunnah qobliyah shubuh. Ini jelas keliru. Imam Nawawi mengatakan,

ﺃَﻥَّ ﺳُﻨَّﺔ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢ ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻞ ﻭَﻗْﺘﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﻄُﻠُﻮﻉِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮ ، ﻭَﺍﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺏ ﺗَﻘْﺪِﻳﻤﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺃَﻭَّﻝ ﻃُﻠُﻮﻉ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮ ﻭَﺗَﺨْﻔِﻴﻔﻬَﺎ ، ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺬْﻫَﺐ ﻣَﺎﻟِﻚ ﻭَﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲّ ﻭَﺍﻟْﺠُﻤْﻬُﻮﺭ

“Shalat sunnah Shubuh tidaklah dilakukan melainkan setelah terbit fajar Shubuh. Dan dianjurkan shalat tersebut dilakukan di awal waktunya dan dilakukan dengan diperingan. Demikian pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan jumhur (baca: mayoritas) ulama.” ( Syarh Shahih Muslim , 6: 3).

Moga kita semakin semangat beramal sholih. Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

%d bloggers like this: