Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Monthly Archives: April 2016

🎈🌺🎈

ﻗﺎﻝ أﺣﺪ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﻟﺸﻴﺨﻪ :
ﻛﻢ ﻧﻌﺼﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺎﻗﺒﻨﺎ ..
Seorang santri bertanya kepada guru nya:

Berapa kali kita bermaksiat kepada Allah سبحانه وتعالى  dan Dia tidak menghukum kita???

ﻓﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ :

Maka sang guru pun menjawab :

ﻛﻢ ﻳﻌﺎﻗﺒﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﺖ ﻻ ﺗﺪﺭﻱ .. ﺃﻟﻢ ﻳﺴﻠﺒﻚ ﺣﻼﻭﺓ ﻣﻨﺎﺟﺎﺗﻪ .. ﻭﻣﺎ ﺍبتلى أﺣﺪ ﺑﻤﺼﻴﺒﺔ ﺃﻋﻈﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻗﺴﻮﺓ ﻗﻠﺒﻪ ..

Berapa kali Allah subhanahu wata’ala telah menghukummu namun kamu tidak mengetahuinya?

Bukankah ketika dihilangkannya dari dirimu akan rasa ni’mat bermunajat kepada-Nya adalah merupakan sebuah hukuman?
Dan tidak ada musibah yang lebih besar menimpa seseorang lebih dari kerasnya hati…

إﻥ أﻋﻈﻢ ﻋﻘﺎﺏ ﻣﻤﻜﻦ أﻥ ﺗﺘﻠﻘﺎﻩ ﻫﻮ ﻗﻠﺔ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ إﻟﻰ أﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﻴﺮ ..

Sesungguhnya hukuman yang paling besar yang mungkin kamu temui adalah sedikitnya taufik kepada perbuatan baik…

أﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﺍلأﻳﺎﻡ ﺩﻭﻥ ﻗﺮﺍﺀﺓ القرآﻥ ..

Bukankah telah berlalu nya hari-harimu tanpa bacaan Al Quran?  (itu adalah sebuah hukuman)

أﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ﺍﻟﻄﻮﺍﻝ ﻭﺃﻧﺖ ﻣﺤﺮﻭﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ..

Bukankah telah berlalu malam malam yang panjang sedangkan engkau terhalang dari shalat malam?  (itu juga adalah sebuah hukuman)

أﻟﻢ ﺗﻤﺮ ﻋﻠﻴﻚ ﻣﻮﺍﺳﻢ ﺍﻟﺨﻴﺮ .. ﺭﻣﻀﺎﻥ .. ﺳﺖ ﺷﻮﺍﻝ .. ﻋﺸﺮ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ .. ﺍﻟﺦ ﻭﻟﻢ ﺗﻮﻓﻖ إﻟﻰ ﺍﺳﺘﻐﻼﻟﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ .. أﻱ ﻋﻘﺎﺏ أﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ؟

Bukankah telah berlalu musim-musim kebaikan, Ramadhan, enam hari syawwal, sepuluh hari dzulhijjah, dan lainnya…, sedangkan engkau tidak mendapatkan taufik untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya… hukuman manalagi yang lebih banyak dari ini…?

أﻻ ﺗﺤﺲ ﺑﺜﻘﻞ ﺍﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ..

Tidakkah engkau merasakan beratnya ketaatan?

أﻻ ﺗﺤﺲ ﺑﻀﻌﻒ أﻣﺎﻡ ﺍﻟﻬﻮﻯ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ ..

Tidakkah engkau merasa lemah dihadapan hawa nafsu dan syahwat?

أﻟﻢ ﺗﺒﺘﻠﻰ ﺑﺤﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﺠﺎﻩ ﻭﺍﻟﺸﻬﺮة ..

Bukankah engkau sedang diuji dengan cinta harta, kedudukan, dan popularitas..?

ﺃﻱ ﻋﻘﺎﺏ أﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ..

Hukuman mana yang lebih banyak dari itu?

أﻟﻢ ﺗﺴﻬﻞ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻐﻴﺒﺔ ﻭﺍﻟﻨﻤﻴﻤﺔ ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ ..

Bukankah engkau merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta..?

أﻟﻢ ﻳﺸﻐﻠﻚ ﺑﺎﻟﻔﻀﻮﻝ ﻭﺍﻟﺘﺪﺧﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻻ ﻳﻌﻨﻴﻚ ..

Bukankah engkau tersibukkan untuk campur tangan pada hal yang tidak bermanfaat untukmu..?

أﻟﻢ ﻳﻨﺴﻴﻚ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻭﻳﺠﻌﻞ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ أﻛﺒﺮ ﻫﻤﻚ ..

Bukankah dengan engkau melupakan akhirat menjadikan dunia sebagai tujuan utamamu?

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺬﻻﻥ ﻣﺎ ﻫﻮ إﻻ ﺻﻮﺭ ﻣﻦ ﻋﻘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ..

Tipuan ini tidak lain kecuali bentuk hukuman dari Allah…

# ﺇﺣﺬﺭ ﻳﺎ ﺑﻨﻲ ﻓﺎﻥ أﻫﻮﻥ ﻋﻘﺎﺏ ﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺴﻮﺳﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺃﻭ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺼﺤﺔ ..

Hati-hatilah anakku, sesungguhnya hukuman Allah yang paling ringan adalah yang terletak pada materi, harta, anak, kesehatan …

ﻭإﻥ أﻋﻈﻢ ﻋﻘﺎﺏ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﺐ ..

Dan sesungguhnya hukuman terbesar adalah yang ada pada hati…

ﻓﺎﺳﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﻟﺬﻧﺒﻚ ..

Maka, mintalah keselamatan kepada Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu…

فإﻥ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﻄﺎﻋﺎﺕ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻳﺼﻴﺒﻪ

Karena sesungguhnya seorang hamba yang diharamkan taufik untuk melakukan ketaatan karena sebab dosa yang menimpanya….    

                    
Ternyata hukuman Allah yang terberat itu bukanlah hanya ketika kita kehilangan materi, harta dan jabatan, tetapi hukuman yang terberat dari Allah itu adalah ketika Allah subhanahu wata’ala telah menutup diri kita untuk dapat berbuat dan melakukan kebaikan-kebaikan. 
  
Semoga bermanfaat..

Advertisements

🔖🔋
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

🍃 Wahai kaumku, Beristighfarlah kepada Tuhanmu kemudian Bertaubatlah kepadaNya, niscaya Ia akan menurunkan hujan lebat kepada kalian dan akan menambah Kekuatan kalian, dan janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa. (Q.S Huud: 52).

💊 Istighfar adalah bagaikan ‘Doping’ yang akan melipatgandakan tenaga dan kekuatan seseorang baik lahir maupun batin.

🍒 Manfaat ini sebagaimana bacaan Dzikir-dzikir lain yang disunnahkan Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam Menjadi penambah energi dalam beraktifitas.

🎁 Pernah suatu ketika Fathimah Radhiyallahu Anha putri Nabi mendatangi beliau untuk meminta budak sebagai pembantu. Mungkin ada tawanan perang yang bisa membantu aktifitas rumah tangga.

🌹 Ternyata Nabi tidak memberikan pembantu, tapi justru mengajarkan bacaan sebelum tidur: membaca tasbih (Subhaanallah) 33 kali, membaca tahmid (Alhamdulillah) 33 kali, dan membaca takbir (Allaahu Akbar) 34 kali.

🌷 Nabi mengatakan bahwa itu lebih baik dibandingkan mendapatkan pembantu. (hadits riwayat alBukhari dan Muslim).

✅ Para Ulama’ menjelaskan bahwa Dzikir sebelum tidur tersebut akan memberikan Kekuatan ekstra dalam menjalankan aktifitas esok harinya. Seakan-akan kita mendapatkan bantuan tambahan yang lebih baik dibandingkan ada pembantu.

🍓 Demikian juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, seperti dikisahkan oleh Ibnul Qoyyim (muridnya) Rahimahumullah. Selepas sholat fajar beliau akan berdzikir dengan dzikir yang panjang hingga menjelang tengah hari. Ibnu Taimiyyah berkata: Ini adalah ‘sarapanku’. Jika aku tidak ‘sarapan’ dengan ini, hilanglah Kekuatanku.

=====================

📗 Dikutip dari Buku “Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat.”

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

================

Perintah Allah Ta’ala untuk Menjaga Shalat Ashar

Allah Ta’ala berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [QS. Al-Baqarah [2]: 238]

Menurut pendapat yang paling tepat, yang dimaksud dengan “shalat wustha” dalam ayat di atas adalah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi perang Ahzab,

شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ

“Mereka (kaum kafir Quraisy, pent.) telah menyibukkan kita dari shalat wustha, (yaitu) shalat ashar.” [2]

Dalam ayat di atas, setelah Allah Ta’ala memerintahkan untuk menjaga semua shalat wajib secara umum (termasuk di dalamnya yaitu shalat ashar), maka Allah Ta’ala kemudian menyebutkan perintah untuk menjaga shalat ashar secara khusus. Apabila seseorang dapat menjaga shalat wajibnya, maka dia akan mampu untuk menjaga seluruh bentuk ibadahnya kepada Allah Ta’ala. [3]

Balasan bagi Orang yang Menjaga Shalat Ashar

Terdapat hadits khusus yang menyebutkan pahala bagi orang yang menjaga shalat ashar, yaitu mendapatkan pahala dua kali lipat dan tidak akan masuk ke neraka. Abu Bashrah al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ashar bersama kami di daerah Makhmash. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ عُرِضَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَضَيَّعُوهَا، فَمَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَهَا حَتَّى يَطْلُعَ الشَّاهِدُ» ، وَالشَّاهِدُ: النَّجْمُ.

‘Sesungguhnya shalat ini (shalat ashar) pernah diwajibkan kepada umat sebelum kalian, namun mereka menyia-nyiakannya. Barangsiapa yang menjaga shalat ini, maka baginya pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya sampai terbitnya syahid (yaitu bintang).’” [4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا»

“Tidak akan masuk neraka seorang pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (yakni shalat subuh, pent.) dan sebelum matahari terbenam (yakni shalat ashar, pent.).” [5]

Ancaman bagi Orang yang Meninggalkan Shalat Ashar

Di antara dalil yang menunjukkan pentingnya kedudukan shalat ashar adalah ancaman bahwa barangsiapa yang meninggalkannya, maka terhapuslah pahala amal yang telah dikerjakannya di hari tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar, maka terhapuslah amalannya.” [6]

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Yang tampak dari hadits ini – dan Allah lebih mengetahui tentang maksud Rasul-Nya- adalah bahwa yang dimaksud ‘meninggalkan’ ada dua kondisi. Pertama, meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak melaksanakan shalat sama sekali. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya seluruh amal. (Kondisi ke dua), meninggalkan shalat tertentu di hari tertentu. Maka hal ini menyebabkan terhapusnya amal di hari tersebut. Terhapusnya amal secara keseluruhan adalah sebagai balasan karena meninggalkannya secara keseluruhan, dan terhapusnya amal tertentu adalah sebagai balasan karena meninggalkan perbuatan tertentu.” [7]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»

“Orang yang terlewat (tidak mengerjakan) shalat ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya.” [8]

Ketika seseorang kehilangan keluarga dan hartanya, maka dia tidak lagi memiliki keluarga dan harta. Maka ini adalah perumpamaan tentang terhapusnya amal seseorang karena meninggalkan shalat ashar.

Ancaman bagi Orang yang Menunda-nunda Pelaksanaan Shalat Ashar sampai Waktunya Hampir Habis

Apabila seseorang mengerjakan shalat ashar di akhir waktu karena berada dalam kondisi darurat tertentu, maka shalatnya tetap sah meskipun dia hanya mendapatkan satu raka’at shalat ashar sebelum waktunya habis. Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

“Barangsiapa yang mendapati satu raka’at shalat ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat ashar.” [9]

Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sengaja menunda-nunda pelaksanaan shalat ashar sampai waktunya hampis habis tanpa ada ‘udzur tertentu yang dibenarkan oleh syari’at. Atau bahkan hal ini telah menjadi kebiasaannya sehari-hari karena memang meremehkan shalat ashar. Maka hal ini mirip dengan ciri-ciri orang munafik yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»

“Itulah shalatnya orang munafik, (yaitu)duduk mengamati matahari. Hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan (yaitu ketika hampir tenggelam, pent.), dia pun berdiri (untuk mengerjakan shalat ashar) empat raka’at (secara cepat) seperti patukan ayam. Dia tidak berdzikir untuk mengingat Allah, kecuali hanya sedikit saja.” [10]

Catatan kaki:

[1] Tulisan ini kami sarikan dari kitab Shahih Fiqh Sunnah, jilid 1 hal. 241-242.

[2] HR. Bukhari no. 2931 dan Muslim no. 627. Lafadz hadits ini milik Muslim.

[3] Taisir Karimir Rahman, hal. 106; karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.

[4] HR. Muslim no. 830.

[5] HR. Muslim no. 634.

[6] HR. Bukhari no. 553, An-Nasa’i 1/83 dan Ahmad 5/349.

[7] Ash-Shalah wa Hukmu Taarikiha hal. 43-44.

[8] HR. Bukhari no. 552 dan Muslim no. 200, 626.

[9] HR. Bukhari no. 579 dan Muslim no. 163, 608.

[10] HR. Muslim no. 622.

📢 SHAUM REMINDER 🌸    

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Yuuuk ….. saling memberi semangat..💪 dan saling mengingatkan dalam kebaikan 

Semoga kt Istiqomah ya ..
Mari kita melaksanakan sunah Rasulullah SAW.
Puasa Ayyamul Bidh Jatuh pada hari : 

 Kamis, Jum’at, Sabtu

(tgl 21,22,23 April’16)
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 

1. berpuasa tiga hari setiap bulannya, 

2. mengerjakan shalat Dhuha,

3. mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al7 ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari no. 1979). 
Semoga bermanfa’at….

🎈🌺🎈
(Rasulullah) shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ).
“Apabila menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Allah menyegerakan hukuman bagi (hamba) tersebut di dunia. Akan tetapi, apabila menghendaki keburukan kepada hamba-Nya, Dia menangguhkan dosa (hamba) tersebut 

hingga Dia membalasnya nanti pada Hari Kiamat.” 
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa tanda kalau Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya adalah dengan menyegerakan hukuman atas dosa-dosanya ketika di dunia sehingga ia keluar dari dunia tidak ada lagi dosa yang harus ditanggung (hukumannya) pada hari kiamat, karena barangsiapa yang dihisab amalannya di dunia maka akan ringan hisabnya nanti di hari kiamat.
Adapun di antara tanda kalau Allah menghendaki hal yang buruk bagi hamba-Nya adalah bahwa hamba tersebut tidak ditunaikan pembalasan dosa-dosanya di dunia sampai ia datang pada hari kiamat dengan penuh dosa-dosa, kemudian Allah memberikan balasan hukuman padanya. Maka ia diberikan ganjaran yang pantas baginya pada hari kiamat.

Pada hadits ini terdapat anjuran untuk bersabar terhadap musibah-musibah dan untuk ridha dengan ketentuan takdir, karena hal tersebut akan membawa kebaikan bagi hamba.
Faedah Hadits

1. Tanda kalau Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, yaitu dengan menyegerakan pelaksanaan hukuman atas dosa-dosa hamba tersebut di dunia.

2. Tanda kalau Allah menghendaki hal yang jelek bagi hamba-Nya, yaitu dengan ditangguhkannya hukuman atas dosa-dosanya di dunia sampai nanti diberikan hukuman pada hari kiamat.

3. Kekhawatiran kalau mendapatkan kesehatan terus menerus, menjadi tanda kejelekan.

4. Peringatan agar senantiasa berbaik sangka kepada Allah dan berharap (kebaikan) pada-Nya atas apa yang ditentukan oleh-Nya dari adanya hal-hal yang tidak disukai (yang menimpa dirinya).

5. Bahwa manusia terkadang membenci sesuatu, padahal sesuatu itu lebih baik baginya, dan terkadang mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu lebih jelek baginya.

6. Anjuran untuk bersabar akan musibah-musibah.
[Diringkas dari Kitab Penjelasan Ringkas Kitab Tauhid karya Syaikh Shalih Al-Fauzan]

________________________________

💌 .
Betapa sering anda menghitung uang harta kekayaan, unit usaha dan jasa kebaikan anda .
Pernahkah anda berpikir, untuk apa Anda Menghitung semua itu Anda kawatir ada yang hilang, berkurang atau dicuri orang?
Perkenankan saya bertanya sekali lagi : Pernahkah anda Menghitung dosa dan kesalahan anda? berapa banyak? dan sudahkah anda menyiapkan tebusannya?
Sobat ! percayalah bahwa dosa dan kesalahan anda pasti akan anda pertanggungjawabkan . Esok atau lusa, anda pasti mendapatkan balasan dan siksa atas seluruh dosa dan kesalahan, sebagaimana saat ini anda menikmati keberhasilan dan kekayaan anda.
Sobat! Ketahuilah, bahwa orang bijak bukanlah orang yang pandai menghitung keberhasilan, harta kekayaan dan jasa kebaikannya. Orang bijak adalah orang yang selalu menghitung dosa dan kesalahan lalu ia membenahinya dan beristighfar memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla.
Dahulu sahabat Abdullah Bin Masud radhiallahu ‘anhu berkata:
عدوا عليكم سيئاتكم فإني أضمن على الله ألا يضيع شيء من حسناتكم
Hitung dan ingatlah selalu dosa-dosa kalian, dan aku jamin bahwa tidak satupun dari kebaikanmu yang akan Allah lupakan.
Astaghfirullah, ya Allah ampunilah dosa dosa hamba-Mu yang lemah lagi bodoh ini. Amiin.
http://salamdakwah.com/baca-artikel/hitung-dosamu.html
📝🎨.Ditulis oleh Üsƭάϑz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

📜  🍂 🍂 🍂

Agar tetap teguh di atas istiqamah maka seseorang harus melakukan hal-hal berikut ini, dinataranya adalah :
➡1). Taubat nasuha.
➡2). Senantiasa mentauhidkan Allâh dan menjauhkan syirik.
➡3). Selalu berusaha untuk selalu konsekuen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allâh danRasul-Nya.
➡4). Muraqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.
➡5). Muhasabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan.
➡6). Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa di atas ketaatan kepada Allâh Ta’ala.
➡7). Ikhlas dalam beramal dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasûlullâh).
➡8). Berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah.
➡9). Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
➡10). Berani dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.
➡11). Senantiasa menuntut ilmu syar’i.
➡12). Takut kepada Allâh Ta’ala dengan mengingat pedihnya siksa neraka.
➡13). Mencari teman yang shâlih.
➡14). Menjaga hati, lisan, dan anggota badan serta sabar dari hal-hal yang diharamkan.
➡15). Mengetahui langkah-langkah setan.
➡16). Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqamah.

Diantara do’a yang sering Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baca ialah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.” [HR at-Tirmdizi (no. 3522) dan Ahmad (VI/302, 315) dari Ummu Salamah radhiyallâhu ’anha]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📗 Diringkas dari Pembahasan “Keutamaan Istiqomah” oleh Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas