Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Monthly Archives: March 2016

💌 
Betapa sering kita mendengar ucapan: Islam Indonesia, atau Islam Jawa, atau Islam ormas ini dan ormas itu….
Aneh bin ajaib memang terdengarnya! Islam dikotak-kotakkan menjadi sempit. Bahkan ada yang lebih sempit lagi, yaitu ketika ada dari kita yang berkata: Islam saya atau Islam menurut saya. Padahal anda pasti mengetahui bahwa Islam agama bagi semua orang, bangsa dan negri alias universal. Anda pasti sering mendengar, atau bahkan membaca ayat berikut:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya’ 107)
Sobat, mari kita lepaskan berbagai baju yang sempit, atribut lokal, pola pikir yang picik, dan menggantinya dengan yang luas, universal dan pola pikir cerdas. Mungkin anda bertanya: Bagaimanakah caranya?
Jawabannya: sederhana, yaitu pelajari dan amalkan Islam yang jauh dari embel-embel lokal, yaitu Islam yang hanya bersumberkan dari Al Qur’an dan As Sunnah.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan apapun yang diajarkan oleh Rasulullah, maka terimalah dan apapun yang dilarang oleh Rasulullah, maka tinggalkanlah.dan bertaqwalah kalian, karena sejatinya Allah Maha Pedih Siksanya” (QS. Al Hasyr 7)
Anda siap menjadi muslim sejati? Buktikan segera!
📝 Oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, MA حفظه الله تعالى

🎈🌺🎈
Dari Abdullah bin As-Saib, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa menunaikan shalat 4 rakaat setelah waktu zawal (matahari bergeser ke barat), sebelum shalat zhuhur (dilaksanakan). Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِى فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ
“Ini adalah waktu dibukakannya pintu langit. Aku suka jika amalan shalihku naik pada saat itu.” (HR. Tirmidzi, no. 478 dan Ahmad, 5: 418. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
Shalat rawatib zhuhur dapat dikerjakan dengan 3 cara berikut.
– Shalat 4 rakaat sebelum dan 4 rakaat sesudahnya.

– Shalat 4 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudahnya.

– Shalat 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudahnya.
Semua cara ini bisa dikerjakan.
Pembahasan lengkapnya ada di sini:
https://rumaysho.com/13091-shalat-rawatib-di-waktu-zhuhur.html

TENANG AJA, ALLAH MAHA PENGAMPUN KOQ… YANG PENTINGKAN TAUHID…
Sobat, semoga ini tidak terjadi kepada Anda, saya dan kita semua…

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Terlalu ujub membanggakan diri sehingga meremehkan maksiat dan tidak ada kelezatan dalam ibadah.

BERSANDAR KEPADA TAUHID DEMI MEREMEHKAN DOSA, PADAHAL SEJATINYA SEMAKIN BERTAUHID SEMAKIN TAKUT DAN MERASA DIAWASI OLEH ALLAH!

KATANYA BERTAUHID TAPI TATKALA SENDIRIAN LEBIH GANAS MAKSIATNYA!

KATANYA BERTAUHID TAPI TATKALA SENDIRIAN SANGAT MEREMEHKAN KEWAJIBAN KEPAD ALLAH!
قال أبو العالية – رحمه الله – :

يأتي على الناس زمانٌ تَخْرُبُ صدورُهم من القرآن ، ولا يجدون له حلاوةً ولا لذاذةً ، إن قصّروا عما أُمِروا به قالوا: إن الله غفور رحيم ! ، وإن عملوا بما نُهوا عنه قالوا: سيُغفر لنا إنا لم نشرك بالله شيئا ! ، أمرُهم كلُّه طمع ليس معه صدق . الزهد للإمام أحمد 1714 

Berkata Abul Aliyah (tabiie) rahimahullah: 

“Akan datang pada manusia suatu masa, hati mereka rusak terhadap Al Quran, mereka tidak mendapati rasa manis dan kelezatan terhadapnya, jika mereka meremehkan apa yang diperintahkan terhadap mereka, mereka berkata: “Allah Maha Pengampun dan Pengasih!”, jika mengerjakan apa yang dilarang, mereka berkata: “Akan diampuni dosa kita, karena sesungguhnya kita tidak mensyirikkan Allah dengan apapun!”, Seluruh sikap mereka adalah ketamakan, tidak memilki sedikitpun kejujuran (iman).” lihat Kitab Az Zuhud, karya Imam Ahmad, 1714.
Jakarta, Kamis 8 Jumadats Tsaniah 1437H

Ahmad Zainuddin Al Banjary
========🍀

Assalamualaikum.Wr.Wb.بِسْــــــــمِ اللَّــہ الرَّحْمَــــــانِ الرَّحِيـــــــم

Bismillahir Rahmanir Rahim
Su’udzon berasal dari kata “zhan” yang artinya purbasangka, yang diarahkan kepada sangka yang buruk, 
lawan kata Su’udzon adalah husnudzon artinya berbaik sangka. 
Su’udzon dapat merusak persaudaraan dan tali silaturahim, karena dapat menimbulkan fitnah, 
dan fitnah sangat merugikan orang lain sehingga sangat ditentang dalam Islam.
Sebagai umat islam harus memiliki sifat husnudzon atau berbaik sangka kepada orang lain, hal ini dapat menimbulkan rasa saling menghormati dan menghargai antar sesama hamba Allah.
Disebutkan bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi, salah seorang ulama perawi Hadits yang wafat di Syam pada sekitar tahun 104 H berkata :
“Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. 
Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, 
“Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut” [kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) ] 
Beruntunglah manusia yang selalu menilai manusia lain dengan positif, 
sehingga perilaku yang tidak menyenangkan kepadanya tidak akan membuatnya tersinggung, marah ataupun sakit hati, 
ia penuh toleransi (pemaaf). Inilah yang disebut Husnudzon kepada sesama manusia. 
Akibatnya hidupnya akan dapat dijalani dengan penuh kenikmatan dan keberkahan, rukun dan damai, saling pengertian dan kasih sayang.
Adapun perwujudan sikap husnudzon kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala adalah dengan senantiasa taat kepada Allah,
bersyukur apabila mendapatkan kenikmatan, bersabar dan ikhlas apabila mendapatkan ujian serta cobaan dan yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala penderitaan dan kegagalan.
Allah Subhannahu Wa Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:  
“Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. 
Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.

(Muttafaqun ‘alaih).
Semoga bermanfaat, selamat pagi dan selamat menanti waktu sholat subuh
“Taqobbalallahu minna wa minkum”

 وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

(Wassalamu‘alaikum Wr. Wb)

Pertama: Gerhana mengingatkan akan ayat tanda kuasa Allah, bukan fenomena alam semesta.

Oleh karenanya dalam khutbah shalat gerhana Nabi disebutkan,
إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.” (HR. Bukhari, no. 1044)
 

Kedua: Karena itu ayat Allah, tujuannya adalah untuk menakut-nakuti.
Bahkan hal semacam ini dirasakan oleh orang di masa silam. Sampai ketika gerhana itu terjadi ada yang punya keyakinan harus bunyikan kentongan atau ibu hamil harus masuk dalam kolong tempat tidur. Walau sebenarnya yang dilakukan itu keliru. Namun sudah menunjukkan bahwa mereka benar-benar takut. Beda dengan orang saat ini yang menjadikannya sebagai euforia dan hiburan.
Padahal dalam ayat disebutkan,
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآَيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا
“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS. Al-Isra’: 59)
Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ
“Sesungguhnya ketika tertutup cahaya matahari dan bulan (gerhana) bukanlah sebab karena ada yang mati atau karena ada yang hidup, namun itu adalah tanda kuasa Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya dengan terjadi gerhana tersebut.” (HR. Muslim, no. 901)
 

Ketiga: Amalan kebaikan mesti disegerakan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
”Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari, no. 1046)
Juga diperintahkan untuk perbanyak do’a, bertakbir, dan memperbanyak sedekah,
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
”Jika melihat gerhana maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, no. 1044)
Dalam riwayat lain dari Abu Musa disebutkan untuk memperbanyak istighfar pula,
فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
“Jika kalian melihat gerhana itu terjadi, maka segeralah untuk berdzikir, memperbanyak do’a dan beristighfar.” (HR. Bukhari, no. 1059; Muslim, no. 912)
Dan itu dilakukan sampai peristiwa gerhana selesai,
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ
“Jika kalian melihat gerhana itu terjadi, maka berdo’alah pada Allah dan lakukanlah shalat hingga gerhana itu selesai.” (HR. Bukhari, no. 1060; Muslim, no. 915)
Kalau pun shalat gerhana telah selesai dilaksanakan sedangkan gerhana masih terjadi, maka tetap diperintahkan untuk memperbanyak istighfar, dzikir, takbir, do’a dan sedekah.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Fatawanya menyebutkan,
“Pendapat yang masyhur, shalat kusuf tidaklah diulangi. Akan tetapi, imam hendaklah memperhatikan selama gerhana terjadi, jadikan shalat selama waktu terjadinya gerhana tersebut. Jika gerhana hanya berlangsung singkat, maka shalatlah singkat. Biasanya pula ada info tentang lamanya gerhana (dari pakar astronomi, pen.), kalau gerhana terjadi pada jam sekian sampai jam sekian, maka imam hendaklah memperhatikannya. Namun jika shalat itu selesai sebelum gerhana itu berakhir, maka sibukkanlah diri dengan memperbanyak do’a dan dzikir hingga gerhana berakhir.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibnu ‘Utsaimin, 16: 322)
Selengkapnya di sini:
https://rumaysho.com/13069-pesan-berharga-dari-shalat-gerhana-1.html

Muhammad Abduh Tuasikal

○●○●○●○🔰  🔰

——————————————————

🔘 MENJAGA KESELAMATAN HATI.

——————————————————

🎓 Berkata Al-‘Allāmah Råbī’ bin Hādī Al-Madkhålī hafizhåhulläh:
《 Maka lihatlah kepada dirimu sendiri -demi Allah- tidaklah bermanfaat bagimu hartamu dan tidak juga anak-anakmu di hari kiamat, dan tidak juga teman-temanmu dan tidak pula selain mereka, tidak ada padamu kecuali keselamatan hati; dia lah yang akan memberikan kemanfaatan bagimu di hari kiamat, keselamatan hati ini, dan kembalinya hati ini kepada Allah -Tabāråka wa Ta’āla-, yang datang dengan membawa hati yang munīb (bersih) akan didekatkan baginya surga,
﴿ وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ ﴾ [ق : 31-32] 
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).[31] Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).” [Qs. Qõf: 31-32].
▪️ Yang menjaga batasan-batasan Allah, konsisten dengan batasan-batasan Allah, konsisten terhadap perintah-perintah Allah, jauh dari hal-hal yang membuat murka Allah -Tabāråka wa Ta’āla-, menjaga ketaatan kepada Allah dan hak-hak Allah pada derajat yang pertama, dan menjaga hak-hak para hamba, memuliakan kehormatan mereka. 》
             •┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈•
📚 Majmu’ Ar-Råiq, halaman: 436.

———————-

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Sudahkah kita bersedekah di hari jum’at ini?

Ibnul Qoyim al-Jauziyah rohimahulloh (w. 751),Dalam kitabnya Zadul Ma’ad, beliau menyebutkan beberapa keistimewaan hari jumat
,الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدسالله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا، وسمعتهيقول: إذا كان الله قد أمرنا بالصدقة بين يدي مناجاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالصدقة بين يدي مناجاته تعالى أفضل وأولى بالفضيلة
Keutamaan yang keduapuluh lima,Bahwa sedekah di hari jumat memiliki keistimewaan khusus dibandingkan hari yang lain. Sedekah di hari jumat, dibandingkan dengan sedekah di hari yang lain, seperti perbandingan antara sedekah di bulan ramadhan dengan sedekah di selain ramadhan.
Saya pernah melihat Syaikhul Islam – rahimahullah – apabila beliau berangkat jumatan, beliau membawa apa yang ada di rumah, baik roti atau yang lainnya, dan beliau sedekahkan kepada orang di jalan diam-diam. Saya pernah mendengar beliau mengatakan,
“Apabila Allah memerintahkan kita untk bersedekah sebelum menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bersedekah sebelum menghadap Allah lebih afdhal dan lebih besar keutamaannya.” (Zadul Ma’ad, 1/407).

Ya Allah,perbaikilah agamaku yang merupakan sandaran segala urusanku.Dan perbaikilah urusan duniaku yang merupakan tempat tinggalku,dan perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku..dan jadikanlah kehidupanku sebagai tambahan bagi kebaikanku dan kematianku sebagai tempat istirahat dari segala kejelekanku. (HR Muslim)

Subhahanakallahuma Wabihamdika, Ashyadu alaa ilaa ha ilaa anta, astaghfiruka wa atubuu ilaik
آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ

Syeikh Ali Musthafa Thanthawi -rahimahullah- pernah berkata:
“Apakah Allah mencintaiku?”
Pertanyaan ini terus mengusikku! 

Aku teringat bahwa kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya hadir karena beberapa sebab dan sifat yang disebutkan didalam al Quran al Karim..
Aku membalikkannya kedalam memoriku, untuk membandingkan apakah diriku sudah seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, agar aku dapat menemukan  jawaban atas pertanyaanku itu.
Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang bertakwa” dan aku tidak berani menganggap diriku bagian dari mereka (yang bertakwa)..!
Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang sabar” maka aku teringat betapa tipisnya kesabaranku…!
Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berjihad” maka aku pun tersadar akan kemalasanku dan rendahnya perjuanganku…!
Aku menemukan bahwa Allah mencintai “orang-orang yang berbuat baik” Betapa jauhnya diriku dari sifat ini.
Saat itulah aku berhenti meneruskan pencaharian dan pengamatanku : Aku takut bila nanti aku tidak menemukan sesuatu pun didalam diriku yang dapat menyebabkan Allah mencintaiku !
Aku periksa semua amal-amalku….

Ternyata di dalamnya banyak yang bercampur dengan kemalasan/kelemahan, kotoran-kotoran dan dosa-dosa. seketika itu terbersitlah dalam ingatanku firman Allah Ta’ala :
( إنّ الله يحب التوابين )
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
Seakan-akan aku menjadi faham bahwa ayat itu adalah untuk diriku dan orang-orang yang sepertiku, seketika mulutkupun mulai komat-kamit membaca:
أستغفر الله وأتوب إليه 

أستغفر الله وأتوب إليه 

أستغفر الله وأتوب إليه
Astaghfirullah wa Atuubu ilaihi 

“Aku memohon ampunan Allah dan aku bertaubat kepada Nya”.
Diterjemahkan dari: http://www.mktaba.org

Oleh: ACT El-Gharantaly, حفظه الله

💌 .�
Akhi ukhti…
Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita
Dan kita mengetahui pula bahwa jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya
Bahkan kalau kita mempekerjakan diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.
sekarang coba bayangkan, dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan
Kita tidak pernah menghitungnya, kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung…
sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…
Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiem…
Yang Maha mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…
Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
– حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no.5641 dan Muslim no. 2573)
Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya
Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah
Salah satu ulama’ salaf berkata:
لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين
“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”.
Bagi akhi ukhti yang sedang dapat musibah…
saatnya menjadikan musibah itu sebagai ladang pelunasan dosa…
Dengan menata hati,
Bersabar
Meridhoi takdir ilahi
Bersyukur kepada Rabbi
Selamat mengamalkan
📝🎨.Ditulis oleh Üsƭάϑz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA حفظه الله تعالى