Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

๐ŸŽˆ๐ŸŒบ๐ŸŽˆ

Orang awam kadang dibingungkan dengan pendapat ulama yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan boleh, ada yang tidak. Ada yang menyatakan haram, ada yang menyatakan halal. Ada ulama yang menyatakan wajib dan sunnah. Kalau kita sebagai orang yang buta akan dalil, bagaimanakah kita memilih pendapat-pendapat yang ada?

Yang jelas, ahlul ilmi atau orang yang berilmulah yang dijadikan referensi orang awam untuk bertanya ketika ia sulit menemukan dan memahami dalil. Allah Taโ€™ala memerintahkan untuk bertanya pada orang yang berilmu,

ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ููˆุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ

โ€œMaka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahuiโ€ (QS. An Nahl: 43 dan Al Anbiyaโ€™: 7).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan,

ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ู„ูู…ูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูŽุชูŽู‚ู’ู„ููŠู’ุฏู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู

โ€œAyat di atas berisi perintah bahwa yang tidak tahu hendaklah taqlid (mengikuti) yang lebih tahu.โ€ (Iโ€™lamul Muwaqqiโ€™in, 2: 448)

Ibnu Taimiyah โ€“guru dari Ibnul Qayyim- rahimahullah berkata,

ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ูุงุฌู’ุชูู‡ูŽุงุฏูŽ ุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ู„ูู„ู’ู‚ูŽุงุฏูุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ูุงุฌู’ุชูู‡ูŽุงุฏู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ู„ููŠุฏูŽ ุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ู„ูู„ู’ุนูŽุงุฌูุฒู ุนูŽู†ู’ ุงู„ูุงุฌู’ุชูู‡ูŽุงุฏู

โ€œIjtihad itu dibolehkan bagi orang yang mampu berijtihad. Taqlid juga dibolehkan bagi orang yang tidak mampu berijtihad.โ€ (Majmuโ€™ Al Fatawa, 20: 204).

Syaikh As Saโ€™di rahimahullah menyatakan bahwa kita diperintahkan untuk bertanya pada ahli ilmu di mana mereka diberikan kepahaman Al Qurโ€™an. Mereka mengetahui dan memahami Al Qurโ€™an tersebut. Ayat ini juga sekaligus pujian untuk orang yang berilmu. Adapun ilmu yang termulia adalah ilmu mengenai Al Qurโ€™an. Bahkan Syaikh As Saโ€™di mengungkapkan bahwa โ€˜ahlu dzikriโ€™ yang disebutkan dalam ayat adalah ahli Al Quran Al โ€˜Azhim. Merekalah ahlu dzikri yang sebenarnya. Mereka lebih utama dari lainnya yang menyandang nama semacam itu. (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 463).

Sekarang, bagaimana jika kita dihadapkan pada pendapat ulama yang berbeda dalam suatu masalah? Ada ulama yang menyatakan boleh, ada yang menyatakan tidak boleh.

Kita bisa mengambil pelajaran dari hadits berikut,

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽู„ุงูŽู„ูŽ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ูŽ ุจูŽูŠูู‘ู†ูŒ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ู…ูุดู’ุชูŽุจูู‡ูŽุงุชูŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู†ูŽู‘ ูƒูŽุซููŠุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ููŽู…ูŽู†ู ุงุชูŽู‘ู‚ูŽู‰ ุงู„ุดูู‘ุจูู‡ูŽุงุชู ุงุณู’ุชูŽุจู’ุฑูŽุฃูŽ ู„ูุฏููŠู†ูู‡ู ูˆูŽุนูุฑู’ุถูู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ููู‰ ุงู„ุดูู‘ุจูู‡ูŽุงุชู ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ููู‰ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ูƒูŽุงู„ุฑูŽู‘ุงุนูู‰ ูŠูŽุฑู’ุนูŽู‰ ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุญูู…ูŽู‰ ูŠููˆุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽุนูŽ ูููŠู‡ู ุฃูŽู„ุงูŽ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ู„ููƒูู„ูู‘ ู…ูŽู„ููƒู ุญูู…ู‹ู‰ ุฃูŽู„ุงูŽ ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุญูู…ูŽู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุญูŽุงุฑูู…ูู‡ู

โ€œSesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.โ€ (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin berkata bahwa dari hadits di atas sebagian ulama berdalil jika ada ulama yang menyatakan haram, ada pula yang menyatakan halal, maka hendaklah ia ambil pendapat yang menyatakan haram dalam rangka waraโ€™ (hati-hati). Namun Syaikh Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa tetap di sini dipandang terlebih dahulu dari para ulama yang berselisih. Manakah yang lebih berilmu, manakah yang lebih kredibel dari yang lainnya. (Lihat Fathul Dzil Jalali wal Ikram, 15: 156-157)

Berarti bagi orang awam yang mesti ia lakukan adalah memilih pendapat yang lebih hati-hati yang menunjukkan sikap waraโ€™. Jika tidak mampu, pendapat yang diikuti adalah dari orang yang lebih dipandang berilmu dari yang lain jika ia bingung dalam menimbang pendapat-pendapat ulama yang ada. Karena orang awam sulit untuk memahami dalil, maka ia ikuti yang paling berilmu di antara ulama yang ada.

%d bloggers like this: