Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

💌 Kebenaran selalu lebih mulia dan tinggi dibanding ikatan apapun, tanpa terkecuali ikatan perguruan. sejarah para ulama’ membuktikan akan hal ini, Imam Syafii pernah berguru kepada Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid senior Imam Syafii, rahimahumullah. Namun demikian,mmereka berbeda pendapat, bahkan mazhab. 
Perbedaan antara mereka sangatlah masyhur, dan sewajarnya perbedaan pendapat antara ulama’, antara mereka terjadi bantah membantah, demi tegaknya kebenaran dan pudarnya kesalahan. Perbedaan yang terjadi dan bantah membantah yang ada, tidak menyebabkan mereka saling membenci atau melupakan status sebagai murid dan guru. 
Imam syafii sering membantah pendapat gurunya sendiri yaitu Imam Malik. Bahkan kadang kala bantahan beliau terasa sedikit pedas, sebagaimana yang terjadi pada masalah khiyarul majlis ( hak membatalkan transaksi selama penjual dan pembeli masih berada satu majlis). 
Kala itu menyebar informasi bahwa Imam Malik tidak memfatwakan adanya khiyarul majlis, padahal beliau meriwayatkan hadits hadits tentang hal ini dalam kitabnya Al Muwattha’.
Tak ayal lagi, pendapat beliau ini menuai kritik dari ulama’ semasa beliau tanpa terkecuali Imam Syafii.
Tanpa mengurangi rasa hormat sebagai seorang Murid, Imam Syafii mengomentari pendapat gurunya dengan berkata:
رحم الله مالكاً لست أدري من اتهم في إسناد هذا الحديث اتهم نفسه أو نافعاً وأعظم أن أقول اتهم ابن عمر
Semoga Allah merahmati Malik, aku tidak tahu siapakah yang ia tuduh telah salah dalam meriwayatkan hadits ini? Apakah ia menuduh dirinya yang salah, atau gurunya yaitu nafi’, dan aku merasa sungkan untuk mengatakan bahwa Malik telah menuduh Ibnu Umar salah meriwayatkan hadits ini.
Allahu Akbar! Inilah contoh murid cerdas dan berbakti kepada guru, kebenaran lebih dijunjung tinggi dibanding apapun, demi baktinya kepada guru. 

Murid yang berbakti tidak rela bila kesalahan gurunya berkepanjangan, sehingga kesalahannya menyebar dan diikuti oleh banyak orang, akibatnya dosanya juga berkepanjangan.
Andai sikap dan ucapan Imam Syafii semisal di atas, dilakukan oleh seorang murid zaman sekarang, kira kira julukan apa ya yang akan disandangkan kepadanya?
Dan sebaliknya, bila murid melakukan kesalahan baik sikap atau pendapat makabitu adalah kewajiban guru sebagai seorang berilmu untuk menyampaikan atau mengajarkan ilmunya kepada masyarakat. 
Anda bisa saja membuat alasan atau penafsiran atau pembelaan, namun tetap saja itu adalah persepsi anda, bisa diterima dan bisa pula ditolak. Intinya, saya hanya ingin mencontohkan bagaimana dahulu para ulama’ membangun senioritas dan memperlakukannya, selebihnya terserah kepada anda. 
📝 Oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

%d bloggers like this: