Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

💌 Abu Abdurrahman As Sulamy berkata :
“Para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan Al Qur’an kepada kami, menceritakan bahwa, dahulu mereka tidaklah berpindah dari sepuluh ayat pertama ke sepuluh ayat selanjutnya hingga mereka menguasai kandungan ilmu dan amalan pada sepuluh ayat pertama”,

Selanjutnya para sahabat berkata :

“Dengan demikian kami belajar ilmu dan amal secara bersamaan”. (Bukhari dan lainnya)
Subhanallahu, manhaj ilmu dan manhaj amal. Sungguh cerdas metode atau manhaj para sahabat dalam belajar, ilmu dan aplikasinya.
Betapa banyak sekarang orang yang pandai ilmu, paham bahwa suatu permasalahan adalah mubah, namun pada prakteknya, ia mencak mencak karena melihat ada orang lain yang berbeda selera dengannya. 
Paham bahwa baju putih atau hijau sama sama mubah, hanya saja yang putih lebih utama atau sunnah, namun pada prakteknya ketika melihat temannya berbaju hijau, ia merasa jijik, seakan akan sahabatnya memakai baju najis. 
Paham bahwa tawakkal itu bukan hanya teori atau ajaran yang terus di dendangkan, namun tawakkal juga amalan dan tindakan. Karena itu belajar tawakkal bukan hanya dengan duduk membaca buku, namun juga praktek langsung di pasar, di ladang dan lainnya.
Suatu hari ada segelintir orang yang duduk di Masjid, mereka mengaku bahwa mereka sedang bertawakal kepada Allah, walau tanpa bekerja maka rejeki pasti datang. Melihat mereka, sahabat Umar bin Khatthab merasa keheranan dengan cara berpikir mereka, lalu beliau berkata :
أنتم متواكلون ، إنما المتوكل من بذر الحب وتوكل على الله
“Kalian adalah orang yang bermalas-malasan, orang yang bertawakkal sebenarnya ialah orang yang menabur benih diiringi denga tawakkal kepada Allah”.
Manhaj ilmunya benar, namun belum sempurna karena terbukti manhaj amalnya masih pincang.
📝 Ditulis oleh : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri,MA حفظه الله تعالى
🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu

%d bloggers like this: