Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Dalam kitab shohih bukhori dan muslim diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shalallahu alaihiwasalam bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu itu sendiri dari dalam diri manusia, tetapi pencabutan-Nya dengan mematikan para ulama. Dan jika tidak tersisa seorang alim pun, maka manusia akan mengangkat para pemimpin yang sangat bodoh, lantas mereka ditanyai lalu memberi fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

‘Ubadah bin ash-Shamit pernah ditanya mengenai makna hadits tersebut ia berkata, “Kalau aku berkehendak, niscaya aku akan memberitahukanmu mengenai ilmu yang pertamakali akan lenyap dari diri manusia: yaitu kekhusyu’an.”

Sesungguhnya alasan mengapa ‘Ubadah mengatakan hal tersebut, karena ilmu itu ada dua macam:
salah satunya ialah ilmu yang hasilnya bisa dirasakan dalam hati manusia, yaitu mengetahui tentang Allah azzawajalla sehingga menumbuhkan rasa takut dan harap serta cinta kpdNya, dari sisi nama-nama-Nya, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang bisa menjadikan seseorang khusyu’ kepada-Nya, merasa takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan inilah yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya ada beberapa kaum yang membaca al-Qur-an, bacaan mereka tidak melewati kerongkongan mereka, namun bila bisa merasuk ke dalam hati maka akan terpatri dan bermanfaat bagi pemiliknya.”

Adapun ilmu yg kedua adalah ilmu yang ada dilisan dalam berdalil dan berhujjah.
Al-Hasan [al-Bashri] rohimahullah berkata :“Ilmu itu ada dua macam: Ilmu yang ada pada lisan dan ilmu yang ada pada hati. Ilmu yang merasuk ke dalam hati adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya sebatas pada lisan kelak anak Adam tersebut akan di mintai pertanggung jawabannya

Wallahu a’lam bishowab.

✏ Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

🌱🌻💐🌹🌷🌹💐🌻🌱

Dalam kitab shohih bukhori dan muslim diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr dari Nabi shalallahu alaihiwasalam bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu itu sendiri dari dalam diri manusia, tetapi pencabutan-Nya dengan mematikan para ulama. Dan jika tidak tersisa seorang alim pun, maka manusia akan mengangkat para pemimpin yang sangat bodoh, lantas mereka ditanyai lalu memberi fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

‘Ubadah bin ash-Shamit pernah ditanya mengenai makna hadits tersebut ia berkata, “Kalau aku berkehendak, niscaya aku akan memberitahukanmu mengenai ilmu yang pertamakali akan lenyap dari diri manusia: yaitu kekhusyu’an.”

Sesungguhnya alasan mengapa ‘Ubadah mengatakan hal tersebut, karena ilmu itu ada dua macam:
salah satunya ialah ilmu yang hasilnya bisa dirasakan dalam hati manusia, yaitu mengetahui tentang Allah azzawajalla sehingga menumbuhkan rasa takut dan harap serta cinta kpdNya, dari sisi nama-nama-Nya, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang bisa menjadikan seseorang khusyu’ kepada-Nya, merasa takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, dan inilah yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya ada beberapa kaum yang membaca al-Qur-an, bacaan mereka tidak melewati kerongkongan mereka, namun bila bisa merasuk ke dalam hati maka akan terpatri dan bermanfaat bagi pemiliknya.”

Adapun ilmu yg kedua adalah ilmu yang ada dilisan dalam berdalil dan berhujjah.
Al-Hasan [al-Bashri] rohimahullah berkata :“Ilmu itu ada dua macam: Ilmu yang ada pada lisan dan ilmu yang ada pada hati. Ilmu yang merasuk ke dalam hati adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya sebatas pada lisan kelak anak Adam tersebut akan di mintai pertanggung jawabannya

Wallahu a’lam bishowab.

✏ Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

🌱🌻💐🌹🌷🌹💐🌻🌱

%d bloggers like this: