Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
 
Bismillah. Sebagian orang awam yang menganut madzhab Ahlus Sunnah melakukan hal-hal yang membuat marah orang-orang Syi’ah Rafidhoh, yaitu dengan membuat hadits-hadits palsu seputar keutamaan hari Asyura’ (hari kesepuluh bulan Muharrom), karena orang-orang Syi’ah Rofidhoh menganggap atau bahkan meyakini bahwa hari Asyura’ adalah hari keburukan dan berkabung serta mengekspresikan kesedihan atas terbunuhnya Husain bin Ali bin Abu Tholib di Karbala’. Kami para penganut Akidah dan Manhaj Ahlus Sunnah wal-Jama’ah berlepas diri dari kedua kelompok (kubu) yang saling berlawanan tersebut dalam menyikapi hari Asyura’.

Telah ada riwayat yang shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang keutamaan puasa hari Asyura’ (tanggal 10 Muharrom), yaitu akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu, akan tetapi mereka (orang-orang awam/jahil) belum merasa puas dengan keutamaan seperti itu, sehingga mereka memberanikan diri untuk menambah-nambahi dan memperpanjang keutamaan-keutamaan berbagai amalan pada hari Asyura’ secara dusta dan mengatas-namakan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Diantara hadits yang mereka palsukan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam ialah sebagaimana berikut:

(*) Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada Bani Israil puasa satu hari dalam setahun, hari ‘Asyura’, yaitu hari kesepuluh dari bulan Muharrom.

» Oleh karena itu, hendaklah kalian berpuasa ‘Asyura dan lapangkanlah nafkah kalian terhadap keluarga kalian pada hari itu, karena sesungguhnya barangsiapa melapangkan nafkah kepada keluarganya dari harta bendanya pada hari ‘Asyura, niscaya Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.

» Lakukanlah puasa Asyura’, karena pada hari itu Allah menerima taubat nabi Adam, mengangkat nabi Idris pada tempat/kedudukan yang tinggi, menyelamatkan nabi Ibrahim dari kobaran api, mengeluarkan nabi Nuh dari kapalnya, menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa, memberikan tebusan bagi nabi Ismail dari penyembelihan, mengeluarkan nabi Yusuf dari penjara, mengembalikan mata penglihatan nabi Ya’qub, membebaskan nabi Ayub dari bencana (penyakit), mengeluarkan nabi Yunus dari perut ikan paus/hiu, membelah lautan menjadi daratan bagi bani Israil, mengampuni dosa-dosa nabi Muhammad yang telah lalu maupun yang akan datang. Pada hari (Asyura’) itu juga nabi musa menyeberangi lautan, Allah menurunkan taubat kepada kaum nabi Yunus.

» Maka barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, ia akan memperoleh penghapusan dosa selama 40 tahun.

» Hari Asyura’ adalah hari pertama yang Allah ciptakan dari (hari-hari) dunia. Pada hari Asyura’, Allah menurunkan hujan dari langit untuk pertama kalinya, dan pada hari itu juga pertama kali rahmat Allah turun (ke dunia).

» Barangsiapa berpuasa Asyura’, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun. Puasa Asyura’ adalah puasanya para nabi.

» Dan barangsiapa menghidupkan malam Asyura’ maka seakan-akan ia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya para penghuni tujuh langit.

» Barangsiapa sholat empat rokaat dan pada setiap rokaat ia membaca alhamdu (al-Fatihah) sekali dan Qul Huwallah (al-Ikhlas) 50 kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya selama 50 (lima puluh) tahun yang lalu dan 50 (lima puluh) tahun yang akan datang, dan Allah akan membuatkan baginya satu juta mimbar terbuat dari cahaya di hadapan para malaikat yang mulia.

» Barangsiapa memberi seteguk air minum (pada hari Asyura), maka seakan-akan ia tidak pernah bermaksiat kepada Allah sekejap

» Barangsiapa mengenyangkan keluarga orang-orang miskin pada hari Asyura’, maka ia akan berjalan di atas ash-shiroth (jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam menuju surga, pent) secepat kilat.

» Barangsiapa bersedekah dengan suatu sedekah pada hari Asyura’, maka seakan-akan ia tidak pernah menolak seorang pun yang meminta-minta.

» Barangsiapa mandi pada hari Asyura’, maka ia tidak akan mengalami sakit apapun kecuali kematian.

» Barangsiapa memakai celak pada hari Asyura’, maka kedua matanya tidak akan mengalami sakit sepanjang tahun itu.

» Barangsiapa tangannya mengusap kepala anak yatim, maka seakan-akan ia ia telah berbuat baik kepada semua anak yatim.

» Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diberi pahala 10.000 (sepuluh ribu) malaikat.

» Dan barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, ia akan diberi pahala 1000 (seribu) orang yang menunaikan haji dan umroh.

» Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’, maka ia diberi pahala 1000 (seribu) orang yang mati syahid.

» Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura’ , maka ia diberi pahala tujuh lapis langit. Pada hari Asyura’ Allah menciptakan (tujuh lapis) langit dan bumi, gunung-gunung dan lautan, ‘Arsy, al-Qolam (pena), Lauhul Mahfuzh, dan malaikat Jibril. Pada hari Asyura’ Allah mengangkat nabi Isa, dan memberikan kerajaan kepada nabi Sulaiman. Hari Kiamat juga terjadi pada hari Asyura’.

» Dan barangsiapa menjenguk orang sakit pada hari Asyura’, maka seakan-akan ia telah menjenguk semua orang sakit dari keturunan nabi Adam.”

(Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’aat, bab fi dzikri Asyura’ II/200-

(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’), karena di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Ibnu Abi Az-Zinad.

» Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia tidak ada apa-apanya, dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Dan nama Abu Az-Zinad adalah Abdullah bin Dzakwan. Sedangkan nama anaknya adalah Abdurrahman. Dahulu (Abdurrahman) Ibnu Mahdi tidak meriwayatkan hadits darinya.”

» Imam Ahmad berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang mudhthorib haditsnya (perowi yang menyampaikan riwayat secara tidak akurat atau berbeda-beda, pent).”

» Abu Hatim Ar-Rozi berkata tentangnya: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah. Barangkali sebagian ahlul ahwa (atau ahli bid’ah) telah memasukkannya di dalam haditsnya.”

» Al-Hafizh Ibnu hajar Al-Asqolani berkata tentangnya: “Shoduq (jujur), hafalannya mengalami perubahan ketika ia datang ke kota Baghdad.” (Taqrib At-Tahdzib II/340 no.3861).

(*) TANDA2 KEPALSUAN DI DALAM HADITS INI:

1. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kepalsuan hadits ini sudah sangat jelas dan tanpa diragukan lagi oleh setiap muslim yang berakal. Apalagi si pemalsu hadits ini tidak malu-malu lagi menyebutkan di dalamnya hal2 yg mustahil, sprti perktaannya; “hari yg pertama kali Allah ciptakan adalah hari Asyura’ (hari kesepuluh).” Ini merupakan ketololan dan kelalaian dari si pemalsu hadits. Sebab hari Asyura’ (kesepuluh Muharram) tidaklah dinamakan demikian melainkan tlh didahului dgn hari kesembilan. (Lihat kitab Al-Maudhu’aat II/201).

2. Di dalam hadits ini jg si pemalsu mengatakan, “Allah menciptakan Langit-langit dan bumi serta gunung-gunung pada hari Asyura’.” Padahal telah ada hadits shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam yg menyelisihi perkataannya, yaitu sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah menciptakan tanah (bumi) pada hari Sabtu dan telah menciptakan gunung-gunung pada hari Ahad, dan Allah menciptakan pepohonan pada hari Senin…dst.” (SHOHIH. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah, karya Syaikh Al-Albani IV/449 no.1833).

3. Di dalam hadits palsu ini juga, terdapat penyelewengan dan perubahan dlm masalah ukuran-ukuran pahala yg tidak sesuai dengan kebaikan dan kemurahan Syariat Islam. Apakah pantas seseorang yg berpuasa satu hari lalu diberi pahala seperti halnya 1000 (seribu) orang yang haji dan umroh serta 1000 (seribu) orang yang mati syahid? Yg demikian ini bertentangan dgn prinsip-prinsip syari’at Islam.

(Klaten, 28 November 20011).

» SilakanBaca Pula Hadits-hadits Dho’if & Palsu Lainnya di Link ini, KLIK: http://abufawaz.wordpress.com/2011/11/28/hadits-hadits-lemah-dan-palsu-tentang-keutamaan-amalan-amalan-di-bulan-muharram-bagian-ke-2/
 

%d bloggers like this: