Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Monthly Archives: June 2014

Sobat! Fatwa beberapa ulama’ besar yang saya unggah di status saya beberapa waktu lalu, hanyalah menjelaskan bolehnya menggunakan hak pilih untuk memilih yang paling ringan madharatnya. Harapannya, gerakan tokoh tokoh pembawa kerusakan dapat dibendung, bukan dalam rangka mencari pemimpin yang dapat menegakkan Hukum hukum islam.

Sobat! Camkan baik baik sabd Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:
«أنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة، وأن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر»
Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini dengan perantaraan orang fajir/ keji.” ( Muttafaqun Alaih)

Karena tanggapan sebagian teman terhadap fatwa tersebut dengan anggapan : ” sia sia keberadaan orang orang baik di parlemen, atau partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam” adalah tanggapan yang sangat mengherankan dan salah sasaran.

Menggunakan hak suara dalam pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.

Dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau Shallallahu alaihi wa sallam membuat perjanjian damai/ kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan Islam, namun beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan Kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab kitab sirah dan juga dikisahkan oleh para ulama’ dalam kitab kitab mereka.

Demikian pula fatwa ulama’ yang membolehkan penggunaan hak suara pada pemilu mendatang. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan menepis kesalah pahaman sebagian saudara kita. wallallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

 Oleh Ustadz Dr.  Arifin Badri حفظه الله تعالى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ
“Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-Kabir, Shahihul Jami’ no. 1110)

Saudaraku!

Allah yg kita sembah adalah yg Maha sempurna, Maha Penyayang lagi Maha Lembut..

Lantas, apa efek realita tersbt terhdp ibadah kita?

Efeknya sangat jelas, bhw sekecil apapun amal ibadah yg kita lakukan adalah bentuk kebutuhan manusia kpd Rabbnya..

Logikanya jelas, Allah itu Maha sempurna, lantas mengapa Ia menyuruh kita beribadah kpd-Nya?
pesan & jwbnnya jelas, krn kalian semua butuh Aku( Allah) yg akan membahagiakan mu dunia akhirat

Ibadah bukan sekedar seremonial, atau transaksi jual beli ( saya beramal, maka Allah memberi pahala) atau wujud ketabahan dlm menjalani ujian..apalagi adanya anggapan bhw ibadah itu beban ( yg mengekang kebebasan sebebas binatang)

Semua pemahaman itu hanya bercokol dihati yg sama sekali tdk mengenal Allah kecuali sekedarnya saja..

Simak statement ibnul Qoyyim berikut, “Jika anda benar2 mengenal Allah dgn baik & benar, justru ibadah itu penyejuk mata manusia, puncak kelezatan & kedamaian hati serta    kenikmatan tersendiri yg tiada duanya.”

So, sobat!

Semakin kita merasa butuh kpd ibadah (ikhlas & mencontoh Rasul), maka semangat ibadah akan mengalir ke seluruh tubuh secara dahsyat & kedamaian serta kebahagiaan merasul ke bagian hati yg paling dalam secara berangsur namun pasti tanpa harus mengeluarkan biaya mahal & energi dgn percuma..

Semoga Allah memberi hidayah & taufik kpd kita semua!

 Ditulis oleh Ustadz Jazuli, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Oleh: Abu Fawaz Asy-Syirboony

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “(Untuk memperoleh) Ilmu itu memiliki 6 (enam) tingkatan, yaitu:

1. Bertanya (tentang ilmu) dengan cara yg baik.
2. Diam dan Mendengarkan ilmu dengan baik.
3. Memahami ilmu dengan baik dan benar.
4. Menghafal ilmu.
5. Mengajarkan Ilmu.
6. Mengamalkan ilmu.

Dan sebagian ulama sunnah lain menambahkan kiat dan sebab lain agar seorang muslim dan muslimah sukses dlm menuntut ilmu syar’I, diantaranya:

7. Menimba ilmu agama dari ahlinya (Ulama Robbani).

8. Mendahulukan yg paling pokok dan wajib dlm menuntut ilmu.

9. Mempelajari ilmu secara bertahap dan kontinue.

10. Tertib dan Disiplin dalam menuntut ilmu.

Demikian faedah ilmiyah yg dapat kami sampaikan pd hari ini. Smg Allah ta’ala senantiasa memberikan taufiq n kemudahan kpd kita dlm menuntut ilmu agama-Nya dan mengamalkannya serta mengajarkannya hingga akhir hayat. Amiin. (Klaten, 22 Mei 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah, KLIK:
http://abufawaz.wordpress.com

Pernahkah anda mencintai ?? Bila ya, coba tanya mengapa anda mencintai..??
Ada beberapa sebab yang memunculkan cinta di hati..

1. Keelokan jasad.
Bila kita melihat pemandangan yang indah, atau sesuatu yang cantik dan elok, hati kita akan tertambat kepadanya.. Namun akan segera sirna tatkala keelokan itu pudar atau kebosanan menghantui diri..

2. Keindahan agama dan akhlak.
Walaupun wajahnya biasa saja, atau mungkin di bawah nilai 6, namun akhlaknya yang mulia dan agamanya yang kokoh memberi pesona tersendiri..
Cinta ini muncul dari keimanan.. Dan ia lebih merekat di hati.. Bahkan akan kekal abadi.. Berjumpa setelah mati..

3. Harta yang melimpah..
Cinta karena ketamakkan dan kerakusan.. Yang menunjukkan kepada kekerdilan jiwa dan cinta dunia..
Seperti orang yang berangan menjadi si qorun, lalu ditegur oleh temannya yang shalih: “Celaka kamu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar”. (QS 28 : 80).
Sebab ini memang fitrah manusia yang cinta harta, namun ia adalah cinta yang tidak mulia.

4. Fitrah manusia.
Seperti seorang ayah yang mencintai anaknya, dan juga sebaliknya, cinta ini tidak berhubungan dengan walaa dan baraa..
Dan cinta ini menjadi ancaman tatkala lebih didahulukan dari mencintai Allah RasulNya.

Cobalah periksa.. Karena apa kita mencintai..??

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

 Akhi ukhti…

Apakah kau masih mendengarkan detak jantungmu?

Apakah denyut nadimu masih terasa?

sejatinyanya detak jantung dan denyut nadi menuliskan sebuah pesan singkat untuk semua insan

“Sesungguhnya kehidupan itu tidak lain hanyalah hitungan menit dan detik”

Akan datang suatu detik yang detak jantungmu berhenti…
Dirimu diam seribu bahasa, bungkam tak dapat berbicara
Keluargamu sibuk bersegera membawamu dengan ambulan
Kemudian didorong ke ruang IGD
Perawat memasang infus, selang oksigen dan EKG, alat rekam jantung
Semua mata memandang ke monitor EKG yang menunjukan garis datar, pertanda jantungmu telah berhenti berdetak
Dokter berkata, “Siapkan defibrilator (alat kejut jantung)”
Gel bening dioleskan ke dadamu. Lalu dokter memberi aba-aba “200 joule, all clear??”
Kaupun dikejutkan…
“360 joule, all clear??”
Kau dikejutkan untuk kedua kalinya

Namun ternyata  Monitor EKG masih menunjukan garis datar
Sebagai pertanda jantungmu sudah berhenti berdetak…
Masa kontrakmu di dunia ini sudah selesai
Harta benda yang kau miliki tidak sempat kau bawa
Semuanya ditinggal
Tangisan perpisahan memecahkan keheningan
Jeritan kesedihan mewarnai ruangan itu
Selamat tinggal

MAKA SEBELUM TERLAMBAT
sebelum jantungmu berhenti berdetak bersegeralah untuk mempersiapkan diri
Belilah tas yang sebesar mungkin
Masukkan barang-barang kebutuhanmu

Air, makanan, selimut, cahaya dan semuanya
SIAPKAN KENDARAAN YANG TANGGUH
Ingat bahwa perjalananmu panjang, 1 hari sama dengan 1000 tahun
Jalannya gelap dan sempit…
bawalah lampu yang terang dan banyak
Jangan tinggalkan apapun yang bisa kau bawa untuk perjalananmu.
CATAT SEMUA YANG AKAN KAU BAWA
Dan jangan menunda-nunda, karena jantungmu akan berhenti berdetak secara otomatis
DAN KAU TIDAK TAHU, KAPAN ITU TERJADi

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah MA حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Imam Thabaraniy mengetengahkan sebuah riwayat dari Jabir bin ‘Utaik, bahwa Rasulullah saw bersabda:

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Syahid ada tujuh macam selain gugur (terbunuh) di jalan Allah; orang yang mati karena penyakit lepra adalah syahid. Orang yang mati tenggelam adalah syahid, orang yang mati karena penyakit bisul perut adalah syahid; orang yang mati terbakar adalah syahid; orang yang mati karena tertimpa bangunan atau tembok adalah syahid; dan wanita yang gugur disaat melahirkan (nifas).”[HR. Imam Thabaraniy]