Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih.

Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh ‘Aisyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim).

Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc.

Cukupkan diri kita dengan dzikir-dzikir yang telah disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw bukan dengan dzikir yang tidak dicontohkan oleh beliau, yang tidak disyari’atkan oleh Allah swt.

Diantara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad adalah dzikir setelah salam dari shalat fardhu. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir.

Dzikir setelah shalat fardhu merupakan perintah langsung dari Allah Swt sebagaimana firman-Nya:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah (dzikrullah) di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring”. (An-Nisa’: 103)

Nabi saw bersabda,
“Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati”. (HR. Al-Bukhari no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)

Dengan dzikir setelah shalat fardhu menanamkan kedalam hati kita akan kebenaran dan kebaikan Allah, juga sebagai pelengkap shalat fardhu.

Barakallahu fiikum

%d bloggers like this: