Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

1. Kaidah Fiqh:
Al aslu fil ibaadaati al khatri illa binassin, hukum asal dalam semua ibadah adalah haram kecuali ada dalil yg mensyariatkannya.

Jadi saat akan ibadah lihatlah dalilnya, ada atau tidak. Kalau ada, amalkan. Kalau tidak ada, tinggalkan. Kalau tidak tahu, tanyakan.

2. Jangan mengikuti kebanyakan orang.

Rasul sudah mewanti-wanti jgn mengikuti kebanyakan orang,

“Islam muncul dalam keadaan asing (aneh), dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yg terasingkan itu”. (HR. Muslim 208)

Beruntunglah al-Ghuraba, yaitu orang yg dianggap asing oleh kebanyakan orang karena dia melakukan sunnah & tidak melakukan ibadah yg tidak sesuai sunnah. Jadi terlihat seperti orang aneh, padahal yg aneh itu mereka.

Nabi mengatakan Orang asing/orang aneh : “Yaitu orang-orang yg memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah Saw) sesudah dirusak oleh manusia”. (HR.Tirmidzi 2630)

Ibadah yg banyak orang lakukan itu bukan dalil. Jadi kita jangan ikut-ikutan, tapi ikuti dalil saja walaupun hanya kita sendirian.

3. Ikhtiati

Artinya berhati-hati, maksudnya dalam ibadah kita lebih mendahulukan pendapat-pendapat yg melarang sebagai bentuk dari kehati-hatian kita terhadap ibadah. Insya Allah kita tidak akan kekurangan ibadah apabila kita berhati-hati.

Karena kalau tidak dikerjakan tidak berdosa tapi kalau dikerjakan maka konsekwensinya kita melakukan ibadah yg tidak sesuai sunnah, bukan saja ibadah tsb tertolak tapi malah berdosa.

Lakukan ibadah yg jelas-jelas sunnah saja.

4. Kadang menggunakan logika juga bisa, masuk akal atau tidak

Seperti adzankan jenazah saat dimakamkan, hal ini tidak masuk akal. Mengajak sholat kepada orang yg sudah tidak bisa shalat atau kepada bayi yg belum bisa shalat.

Beberapa waktu yg lalu pernah kita kaji hadits mengadzankan jenazah dan bayi ternyata lemah bahkan palsu.

Semoga bermanfaat…
بَارَكَ اللَّهُ فِيْك

%d bloggers like this: