Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Tanya:
Perdagangan mata uang asing atau forex dalam hukum Islam diperbolehkan atau tidak ?

Jawab:
Dalam fikih Islam, penukaran mata uang dengan mata uang dikenal dengan istilah Shorf.

Dalam Shorf, ada satu aturan yang perlu diperhatikan yaitu harus ada qobdh (serah terima secara langsung) dalam majelis akad.

Setiap mata uang adalah jenis tersendiri. Mata uang rupiah itu mata uang tersendiri. Begitu pula uang dolar adalah mata uang jenis tersendiri. Dan keduanya memiliki ‘illah yang sama yaitu sebagai mata uang (alat tukar dalam jual beli, disebut tsaman) sehingga dihukumi sama dengan emas dan perak. Dalam emas dan perak, ada dua aturan yang perlu diperhatikan ketika terjadi Shorf (pertukaran):

1. Jika barang sejenis ditukar (semisal emas dan emas atau perak dan perak), ada dua syarat yang harus dipenuhi:

(1) harus tunai (yadan bi yadin) dan

(2) harus semisal (mitslan bi mitslin) atau jumlahnya sama.

2. Jika barang beda jenis namun masih satu ‘illah (sama-sama alat tukar atau mata uang), maka hanya satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu tunai (yadan bi yadin).

Sehingga dalam penukaran mata uang jika sejenis (rupiah dan rupiah), harus tunai dan jumlahnya sama. Contoh:

Selembar Rp100 ribu jika ditukar dengan pecahan Rp10 ribu maka jumlahnya harus sama dan harus tunai ketika menukarnya. Jika mata uang beda jenis ingin ditukar (semisal mata uang riyal ingin ditukar dengan rupiah), maka syaratnya harus tunai.

Jika dalam Shorf di atas tidak
mitslan bi mitslin (semisal) dalam penukaran mata uang sejenis, maka terjadi “riba fadhel”. Jika terjadi penundaan dalam penyerahan, maka terjadi “riba nasi-ah”.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/muamalah/3760-aturan-transfer-uang-ke-mata-uang-berbeda.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

%d bloggers like this: