Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan,
maka seolah-olah ia memakan bara api.” (HR. Ahmad IV/165 no.17543,
Ibnu Khuzaimah IV/100 no.2446, dan Ath-Thabrani IV/15 no.3506)

BEBERAPA PELAJARAN DAN FAEDAH ILMIYAH YANG TERKANDUNG DI DALAM HADITS-HADITS INI:

1) Meminta-minta atau mengemis adalah perbuatan hina yang diharam dalam syariat Islam.

2) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat dan ummatnya untuk meminta-minta atau mengemis kepada orang lain.

3) Dianjurkan untuk menjaga kehormatan diri kita dengan tidak
meminta-minta kepada orang lain.

4) Bila kita mengalami kesulitan, maka kita harus mengadukannya kepada Allah Ta’ala dan hanya mengharapkan apa yang ada di tangan-Nya.

5) Harta yang diperoleh dari minta-minta (mengemis) adalah tidak berkah.

6) Harta hasil dari meminta-minta (mengemis) tanpa kebutuhan mendesak yang dibenarkan syariat Islam adalah haram.

7) Meminta-minta atau mengemis akan menghilangkan rasa malu.

8) Orang yang meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan mendesak yang dibolehkan syariat, maka pada hari Kiamat tidak ada sepotong daging pun di wajahnya. Dan dengan sebab itu pula ia akan mencakar-cakar wajahnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut: Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َالْـمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ
يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِيْ أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ.

“Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya
dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas
suatu hal atau perkara yang sangat perlu.” (Shahîh. HR. At-Tirmidzi no. 681, Abu Dawud no. 1639, an-Nasâ`i V/100 dan dalam as-Sunan al-Kubra no. 2392, Ahmad V/10, 19, Ibnu Hibbân no. 3377 –at-Ta’liqatul Hisan), ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al Kabîr VII/182-183, no. 6766-6772, dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya` VII/418, no. 11076).

9) Meminta-minta tidak akan dapat menutupi kefakiran seseorang. Hal
ini sebagaimana hadits berikut ini:
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.

“Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya
kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat”. (Shahîh. HR. Ahmad I/389, Abu Dâwud no. 1645 dan hadits ini lafazh beliau, at-Tirmidzi no. 2326), dan al-Hâkim I/40).

10) Orang yang meminta-minta berarti ia meminta bara api Neraka Jahannam. Hal ini sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits di atas.

11) Terdapat beberapa keadaan yang membolehkan seseorang untuk mengemis atau meminta-minta sumbangan sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits yang shohih. Di antara keadaan-keadaan tersebut ialah sebagaimana berikut:

(1) Ketika seseorang menanggung beban diyat (denda) atau pelunasan
hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya,
kemudian berhenti.

(2) Ketika seseorang ditimpa musibah yang menghabiskan seluruh hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.

(3)Ketika seseorang tertimpa kefakiran yang sangat sehingga disaksikan oleh 3 orang berakal cerdas dari kaumnya bahwa dia tertimpa kefakiran, maka halal baginya meminta-minta sampai dia mendapatkan penegak bagi kehidupannya.

Untuk mengetahui pembahasan ini lebih detail, silakan baca artikel kami di link berikut ini: http://abufawaz.wordpress.com/2012/05/26/hukum-mengemis-dan-meminta-sumbangan-dalam-pandangan-islam/

%d bloggers like this: