Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Ketika
suatu pendapat manusia
berseberangan dengan
sabda Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yang harus kita dahulukan
adalah
pendapat Nabi kita Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak seperti sebagian orang
ketika sudah disampaikan
hadits shahih
melarang ini dan itu
atau
memerintahkan pada sesuatu,

eh dia malah mengatakan,

“Tapi Pak Kyai saya bilang begini eh.”

Ini beda
dengan imam
yang biasa jadi rujukan kaum muslimin
di negeri kita.

Ketika ada hadits shahih
yang menyelisihi perkataannya,
beliau memerintahkan

untuk tetap
mengikuti hadits tadi
dan
acuhkan pendapat beliau.

Imam Asy Syafi’i berkata,

“Jika terdapat hadits yang shahih,
maka
lemparlah pendapatku ke dinding.
Jika engkau melihat hujjah
diletakkan di atas jalan,
maka
itulah pendapatku.”

Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i)
bercerita,
Ada seseorang yang bertanya
kepada Imam Syafi’i
tentang sebuah hadits,
kemudian (setelah dijawab)
orang itu bertanya,
“Lalu bagaimana pendapatmu?”,

maka
gemetar dan beranglah
Imam Syafi’i.
Beliau berkata kepadanya,

“Langit mana
yang akan menaungiku,
dan
bumi mana
yang akan kupijak
kalau sampai
kuriwayatkan hadits
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
kemudian
aku berpendapat lain…!?”

Imam Syafi’i juga berkata,

“Jika kalian mendapati
dalam kitabku
sesuatu yang bertentangan
dengan
sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka
sampaikanlah sunnah tadi
dan
tinggalkanlah pendapatku
–dan dalam riwayat lain
Imam Syafi’i mengatakan–
maka
ikutilah sunnah tadi
dan
jangan pedulikan ucapan orang.”

“Setiap masalah
yang di sana ada hadits shahihnya
menurut para ahli hadits,
lalu
hadits tersebut bertentangan
dengan pendapatku,
maka
aku menyatakan rujuk (meralat)
dari pendapatku tadi
baik semasa hidupku
maupun sesudah matiku.”

Semoga kata-kata Imam Syafi’i
menjadi teladan
bagi kita
dalam berilmu dan beramal.
Tidak membuat kita jadi fanatik
dan
taklid buta pada suatu madzhab.

%d bloggers like this: