Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Tidak diragukan lagi, harta yang baik lagi halal yang ada di tangan orang muslim yang sholih memiliki banyak manfaat dan keistimewaan bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain, baik itu menyangkut urusan dunia maupun agama. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang muslim yang ingin menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat untuk bermalas-malasan dan berpangku tangan serta menjadi beban bagi orang lain.

Jika seorang muslim hidup berkecukupan, maka baginya menuntut ilmu itu menjadi mudah, beribadah kepada Allah menjadi lebih lancar dan tenang, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul semakin indah, berdakwah semakin tangguh dan berwibawa, serta berumah tangga pun semakin stabil dan harmonis. Oleh karena itu, harta benda yang dimiliki oleh seorang muslim yang bertakwa bisa berfungsi sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah, dan perekat hubungan dengan sesama manusia.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ.

“Sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki orang yang shalih.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad IV/202, no. 17835 dengan sanad yang hasan, .).

Diantara keistimewaan dan manfaat harta benda yang dimiliki orang muslim yang sholih, ia dapat menjadi penyebab berlimpahnya pahala dari Allah kepada pemiliknya karena ia senantiasa menafkahkannya di jalan yang Allah ridhoi. Hal ini sebagaimana Allah berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (274) 

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabb-nya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 274).

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga telah memberikan pujian kepada seorang muslim yang dermawan dan membelanjakan hartanya di jalan kebaikan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan hadits shohih berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ وَالْمَسْأَلَةَ « الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى ، فَالْيَدُ الْعُلْيَا هِىَ الْمُنْفِقَةُ ، وَالسُّفْلَى هِىَ السَّائِلَةُ »

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan tangan yang di atas suka memberi dan tangan yang di bawah suka meminta.” (HR. Bukhari II/519 no.1362, dan Muslim II/716 no.1033).

Dengan harta yang halal dan bersih, para generasi salafus sholih berlomba dan berpacu mengejar pahala dan meraih surga. Sebagai contoh, seperti yang terjadi pada kehidupan Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu yang bersaing secara sehat dalam berinfak di jalan Allah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata: Aku pernah mendengar Umar bin Al-Khoththob radhiyallahu anhu mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالاً عِنْدِى فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ ». قُلْتُ مِثْلَهُ. قَالَ : وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ ». قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قُلْتُ لاَ أُسَابِقُكَ إِلَى شَىْءٍ أَبَدً

“Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada kami (para sahabat) agar bersedekah. Dan ketika itu saya sedang memiliki harta yang sangat banyak. Maka saya berkata, “Hari ini aku akan mampu mengungguli Abu Bakar,” lalu aku membawa separoh hartaku untuk disedekahkan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Saya jawab, “Aku tinggalkan untuk keluargaku harta yang semisalnya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membawa semua kekayaannya, maka Beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Wahai, Abu Bakar, Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.” Maka aku berkata: “Saya tidak akan pernah bisa mengunggulimu selamanya”. (HR. Abu Daud I/526 no.1678, dan At-Tirmidzi  V/614 no.3675 dan ia berkata, “Hadits ini (derajatnya) Hasan Shohih, dan Al-Hakim di dalam Mustarakah I/574 no.1510. dan ia berkata, “Hadits ini Shohih sesuai dengan syarat imam Muslim. Dan derajat hadits ini dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih Abi Daud I/315 no.1472, dan Shohih At-Tirmidzi III/202 no.2902).

Demikian penjelasan singkat tentang Harta Yang Paling Baik dan Paling Berkah adalah Harta yang ada di Tangan Orang Sholih. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba_nya yang bertakwa dan menagnugerahkan kepada kita harta benda yang baik, halal dan penuh berkah.

(Klaten, 17 Mei 2012. Http://abufawaz.wordpress.com ).

%d bloggers like this: