Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Seringlah terjadi kejadian ini,
bila seseorang
mengingatkan seseorang yang lain
tentang
apa yg telah menjadi tuntunan
dan ketentuan Alloh dan Rosul-Nya.

Agar
orang yg di ingatkan tersebut
mengikuti dan tidak melanggar
aturan Alloh dan Rosululloh.

Orang yg mengingatkan itu berkata:

“Itu adalah
Sunnah (tuntunan) Rosululloh,
taatlah,
janganlah dilanggar.”

Dan jawaban
orang yg di ingatkan itu
menjawab,
dengan jawaban
yg bisa membuat
orang yg mengingatkan tersebut,
geleng2 kepala,
mendengar jawabannya.

Biasanya yg di ingatkan
akan menjawab,
dengan entengnya:

“Tenang aja,
itu kan cuman Sunnah….
Kan bukan hal yang Wajib,
dan
hal itu
bukan hal yg Haram dan berdosa….

Jawaban yg dikatakan seperti diatas, menunjukkan
akan jahil (bodoh) nya
orang yg di ingatkan tersebut,
tentang ilmu Alloh dan Rosul-Nya.

Sekarang akan kita bahas secara mendalam dan bertahap
tentang Sunnah.

(*)Definisi Sunnah(*)

Syariat
yang telah sempurna ini
adalah
sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam makna umum.

Adapun
sunnah itu sendiri,
terbagi menjadi empat definisi:

Pertama
Sesungguhnya,
segala sesuatu yang terdapat
di dalam Al-Kitab (Al-Quran –pen)
dan
As-Sunnah
(hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam)
adalah sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia merupakan
sebuah jalan
yang ditempuh oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara contoh definisi ini
adalah
sabda beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa
yang menolak sunnahku
maka
dia bukanlah bagian dariku.”
(H.R. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])

Kedua
Sunnah yang bermakna
“al-hadits”.

Hal tersebut
jika
digandengkan dengan “Al-Kitab”.

Di antara contohnya
adalah
sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai sekalian manusia,
sungguh
telah aku tinggalkan
bagi kalian
sesuatu
yang jika kalian
berpegang teguh dengannya
maka
kalian kalian
tidak akan tersesat selamanya:
(yaitu)
Kitabullah
dan
sunnah Nabi-Nya
shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Juga sabda beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya
telah aku tinggalkan
dua hal bagi kalian
sehingga
kalian tidak akan tersesat
selamanya
setelah
berpegang teguh
dengan kedua hal tersebut:
(yaitu)
Kitabullah dan sunnahku.”

Kedua hadits tersebut
diriwayatkan oleh
Al-Hakim dalam Mustadrak beliau (I/93).

Di antara bentuk kata
“sunnah”
yang bermakna
“al-hadits” adalah
perkataan sebagian ulama
dalam menyebutkan
beberapa permasalahan,

“Dan ini adalah
sebuah permasalahan
yang berdasarkan
dalil
Al-Kitab, as-sunnah,
dan ijma’ para ulama.”

Ketiga
Sunnah pun
dapat didefinisikan
sebagai lawan dari bid’ah.

Di antara contoh penggunaannya
adalah
sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam hadits
‘Irbadh bin Sariyah,

“Sesungguhnya
barangsiapa di antara kalian
yang tetap hidup
(setelah kematianku –pen),
niscaya
akan menyaksikan
banyak perselisihan.

Maka,
berpegang teguhlah kalian
dengan sunnahku
dan sunnah khulafa’ur rasyidin
yang memperoleh petunjuk
dan berilmu.

Gigitlah sunnah tersebut
dengan gigi geraham kalian,

serta
berhati-hatilah
terhadap perkara-perkara baru
yang dibuat-buat.

Sungguh,
setiap perkara baru
yang dibuat-buat
adalah bid’ah,
dan
setiap bid’ah itu sesat!”

(Hadits ini
dikeluarkan oleh
Abu Daud [4607] –
–lafal hadits ini adalah milik beliau–,
dikeluarkan pula oleh
At-Tirmidzi [2676]
dan
Ibnu Majah [43—44];
At-Tirmidzi berkata,
“Hadits ini hasan shahih”)

Di antara contoh
penerapan istilah
“sunnah”
yang bermakna
“lawan dari bid’ah”
adalah
sebagian ulama hadits zaman dahulu
yang menyebut
buku-buku karya mereka
dalam bidang akidah
dengan nama
“As-Sunnah”,

semisal
As-Sunnah
karya Muhammad bin Nashir Al-Marwazii,
As-Sunnah
karya Ibnu Abii ‘Aashim,
As-Sunnah karya Al-Laalikaa`i,
dan selainnya.

Dalam kitab Sunan
karya Abu Daud pun
terdapat bab berjudul
“As-Sunnah”
yang memuat banyak hadits
tentang akidah.

Keempat

Sunnah pun
dapat bermakna
“mandub” dan “mustahab”,
yaitu
segala sesuatu
yang diperintahkan
dalam bentuk anjuran,
bukan dalam bentuk pewajiban.

Definisi ini digunakan
oleh para ahli fikih.

Di antara contohnya
adalah
sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Seandainya
bukan karena takut
memberatkan umatku,
niscaya
akan kuperintahkan mereka
untuk melakukan siwak
setiap hendak
melaksanakan shalat.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari [887]
dan Muslim [252])

Sesungguhnya
perintah untuk bersiwak
berada pada derajat anjuran,
dan
hal tersebut
semata-mata karena
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
khawatir
akan memberatkan umat beliau
jika menetapkannya
sebagai sebuah kewajiban.

(terjemahan kutipan dari
kitab
“Al-Hatstsu ‘Alaa Ittibaa’is Sunnah wat Tahdziiru minal Bida’i wa Bayaanu Khatharihaa”,
karya
Syeikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbaad Al-Badr)

Ditulis ulang dari:
http://muslimah.or.id/

%d bloggers like this: