Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mengajari kami
shalat istikharah
dalam s̲e̲t̲i̲a̲p̲ ̲p̲e̲r̲k̲a̲r̲a̲ ̲/̲ ̲u̲r̲u̲s̲a̲n̲
yang kami hadapai,
sebagaimana beliau
mengajarkan kami
suatu surah dari Al-Quran.
Beliau berkata,
“Jika salah seorang di antara kalian
b̲e̲r̲n̲i̲a̲t̲ dalam suatu urusan,
maka
lakukanlah shalat dua raka’at
yang bukan shalat wajib,
kemudian berdoalah…”.
(HR. Al-Bukhari)

Para pembaca sekalian,
hadits di atas
merupakan hadits yang agung.

Karena di dalamnya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan kepada umatnya
apabila menemui
suatu perkara / urusan,
maka hendaknya
melakukan shalat istikharah.

Namun
yang menjadi poin bahasan kali ini
adalah dua hal saja,
yaitu
hanya pada tulisan
yang digaris bawahi
dari yang lain.

Yang pertama,
Nabi mengajarkan shalat istikharah
dalam setiap perkara / urusan.

Jadi tidak benar
ada anggapan bahwa
shalat istikharah
hanya dilakukan terbatas
untuk
urusan yang meragukannya,
sehingga
ia perlu melakukan shalat istikharah.

Karena dalam bahasa Arab,
kata كل memiliki arti setiap / semua.

Kedua,
sebagian orang salah paham
dalam
melaksanakan shalat istikharah.

Sebagian dari mereka
melakukan shalat istikharah
ketika dihadapkan
kepada pilihan
yang sulit atau meragukannya.

Padahal
ini kurang tepat,
karena yang tepat
adalah
ketika seseorang
telah mantap hatinya
dengan keputusan yang ia ambil
dalam urusan
yang dihadapinya.

Kata هَمَّ
(sebagaimana yang saya lihat
dalam kamus Arab-Indonesia
karya Mahmud Yunus)
memiliki arti
berniat.

Karena
sebagian orang mengartikannya
dengan
menghadapi,
padahal
jika diartikan demikian,
maka shalat istikharah
dilakukan
sebelum hati mantap
dengan keputusan.

Padahal shalat istikharah
dilakukan
saat hati telah mantap
dengan keputusan.

Apa hikmahnya
ketika shalat istikharah dilakukan
saat hati telah mantap?

Jawaban yang saya dapatkan
berasal dari penjelasan
Al-Ustadz Aris Munandar
dalam sesi tanya-jawab
kajian rutin pagi.

Beliau menuturkan jawaban
dengan dua alasan.

Jika seseorang telah mantap
dengan suatu urusan,
maka
ia memohon kepada Allah,
apabila urusannya
tersebut baik
dan diridhai oleh Allah,
maka
Allah akan
mempermudah jalannya
untuk mendapatkan
perkara tersebut.

Jika perkara tersebut
tidaklah baik baginya,
Allah akan datangkan penghalang
dan pencegah baginya,
sehingga
ia akan dicegah
untuk melaksanakan urusan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi
kamu membenci sesuatu,
padahal
ia amat baik bagimu,
dan
boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu,
padahal
ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Semoga
tulisan singkat ini
bermanfaat
bagi para pembaca sekalian.

Ditulis ulang dari:
http://muslim.or.id/

Bahasan selengkapnya
mengenai
Panduan Shalat Istikhoroh,
di:
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-shalat-istikhoroh.html

%d bloggers like this: