Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

(*). Pertanyaan:

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang, apabila ia telah menyuruh keluarganya untuk mengerjakan shalat namun mereka tidak memperdulikannya, apa ia tetap tinggal bersama mereka dan bergaul dengan mereka atau keluar dari rumah tersebut ?

(*). Jawaban:

Jika keluarganya tidak mau melaksanakan shalat selamanya, berarti mereka kafir, murtad, keluar dari Islam, maka ia tidak boleh tinggal bersama mereka. Namun demikian ia wajib mendakwahi mereka dan terus menerus mengajak mereka, mudah-mudahan Allah memberi mereka petunjuk, karena orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir berdasarkan dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah serta pendapat para sahabat dan pandangan yang benar.

❤. Dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah tentang orang-orang musyrik:

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَآتَوُاْ الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِن

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menuaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.”
(Qs. At-Taubah: 11)

Artinya, jika mereka tidak melakukan itu, berarti mereka bukanlah saudara-saudara kita. Memang persaudaraan agama tidak gugur karena perbuatan-perbuatan maksiat walaupun besar, namun persaudaraan itu akan gugur ketika keluar dari Islam.

. Dalil dari as-Sunnah adalah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”[1]

. Disebutkan pula dalam Shahih Muslim sabda beliau dalam hadits Buraidah رضي الله عنه dan kitab-kitab Sunan:

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.”[2]

. Ucapan para sahabat: Amirul Mukminin Umar رضي الله عنه berkata:

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”[3]

Maksudnya, tidak ada bagian baik sedikit maupun banyak.
Abdullah bin Syaqiq mengatakan,
“Para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم tidak memandang suatu amal pun yang apabila ditinggalkan akan menyebabkan kekafiran, selain shalat.”

Adapun berdasarkan pandangan yang benar, dikatakan,
apakah masuk akal bahwa seseorang di dalam hatinya terdapat keimanan sebesar biji sawi, ia mengetahui agungnya shalat dan pemeliharaan Allah terhadapnya,
namun ia malah senantiasa meninggalkannya?

Tentu saja ini tidak masuk akal.

Jika diperhatikan alasan-alasan orang yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat tidak menyebabkan kekufuran,
maka akan ditemukan alasan-alasan itu tidak keluar dari lima hal :

. ~ Karena tidak ada dasar dalilnya;
. ~ Atau, hal itu terkait dengan suatu kondisi atau sifat yang menghalanginya sehingga meninggalkan shalat;
. ~ Atau, hal itu terkait dengan kondisi yang diterima uzurnya untuk meninggalkan shalat;
. ~ Atau, hal itu bersifat umum kemudian dikhususkan dengan hadits-hadits yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat;
. ~ Atau, hal itu lemah sehingga tidak bisa dijadikan alasan.

Setelah jelas bahwa orang yang meninggalkan shalat itu kafir,
maka berlaku padanya hukum-hukum orang murtad.
Lagi pula,
tidak disebutkan dalam nash-nash
bahwa orang yang meninggalkan shalat itu Mukmin, atau masuk surga,
atau selamat dari neraka,
dan sebagainya, yang memalingkan kita dari vonis kafir terhadap orang yang meninggalkan shalat menjadi vonis kufur nikmat atau kufur yang tidak menyebabkan kekafiran.

Di antara hukum-hukum murtad yang berlaku terhadap orang yang meninggalkan shalat:

~ PERTAMA :
Ia tidak sah menikah. Jika terjadi akad nikah maka nikahnya batal dan isterinya tidak halal baginya.

❤. Hal ini berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى tentang para wanita yang berhijrah :

‏فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآتُوهُم مَّا أَنفَقُوا

“Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
(Qs. Al-Mumtahanah: 10)

~ KEDUA :
Jika ia meninggalkan shalat setelah akad nikah, maka pernikahannya menjadi gugur sehingga isterinya tidak lagi halal baginya. Hal ini juga berdasarkan ayat yang telah disebutkan tadi.
Dan menurut rincian para ahlul ilmi, bahwa hukum ini berlaku baik setelah bercampur maupun belum.

~ KETIGA :
Orang yang tidak melaksanakan shalat,
jika ia menyembelih hewan,
maka daging hewan sembelihannya tidak halal dimakan,
karena daging itu menjadi haram.
Padahal, sembelihan orang Yahudi dan Nasrani dihalalkan bagi kita untuk memakannya.
Ini berarti -na’udzu billah- sembelihan orang yang tidak shalat itu lebih buruk daripada sembelihan orang Yahudi dan Nasrani.

~ KEEMPAT :
Ia tidak boleh memasuki Makkah atau batas-batas kesuciannya berdasarkan

❤. firman Allah سبحانه وتعالى :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاء إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Qs. At-Taubah: 28)

~ KELIMA :
Jika ada kerabatnya yang meninggal, maka ia tidak boleh ikut serta dalam warisan. Misalnya, ada seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan seorang anak yang tidak shalat. Orang yang meninggal itu seorang Muslim yang shalat, sementara si anak itu tidak shalat, di samping itu ada juga sepupunya. Siapakah yang berhak mewarisinya? Tentu saja sepupunya, adapun anaknya tidak ikut mendapat warisan,

. hal ini berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadits Usamah:

لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ

“Seorang Muslim tidak mewarisi yang kafir dan seorang kafir tidak mewarisi orang Muslim.” (Muttafaq ‘Alaih) [4]

. Juga berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

لْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ

“Bagikan harta warisan kepada para ahlinya, adapun sisanya adalah untuk laki-laki yang paling berhak.” [5]

Hal ini pun berlaku untuk semua warisan

~ KEENAM :
Jika ia meninggal, mk mayatnya tdk dimandikan, tdk dikafani, tdk dishalatkan dan tdk dikubur di pekuburan kaum Muslimin. Lalu, apa yg hrs kita lakukan? Kita keluarkan mayatnya ke padang pasir, lalu dibuatkan lobang, kemudian kita kubur langsung dgn pakaiannya, krn mayat itu tdk terhormat. Berdasarkan ini, tdk boleh seseorang yg ditinggal mati oleh org yg ia ketahui tdk shalat, utk mempersilahkan kaum Muslimin menyalatinya.

~ KETUJUH :
Bhw pada hari kiamat nanti ia akan dikumpulkan bersama Firaun, Haman, Qarun, Ubay bin Khalaf dan para pemimpin kaum kafir -na’udzu billah-, dan ia tdk akan masuk surga. Kemudian, tdk boleh keluarganya utk memohonkan rahmat dan ampunan baginya, krn ia seorg kafir yg tdk berhak mdptkan itu

❤. hal ini bdsrkn firman Allah سبحانه وتعالى :

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bg Nabi dan org2 yg beriman memintakan ampun (kpd Allah) bg org2 musyrik, walaupun org2 musyrik itu adlh kaum kerabat(nya), ssdh jelas bg mrk, bhwsanya org2 musyrik itu adlh penghuni neraka Jahannam.”
(Qs. At-Taubah: 113)

Jadi, saudara2-ku, mslh ini sngt berbahaya, nmn sayangnya, msh ada org yg menganggap remeh mslh ini, di antaranya ialah dgn menempatkan org yg tdk shalat di rumahnya, pdhl itu tdk boleh.

والله أعلم بالصوابْ

Semoga shalawat dan salam senantisa dilimpahkan kpd Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Risalah Shifat Shalatin Nabi, hal. 29-30, Ibnu Utsaimin.
________
Foote notei:
[1] HR. Muslim, kitab al-Iman (82).
[2] HR. Ahmad (5/346), at-Tirmidzi, kitab al-Iman (2641), an-Nasa’i (1/232), Ibnu Majah (1079).
[3] HR. Malik, kitab ath-Thaharah (84).
[4] Muttafaq ‘Alaih; al-Bukhari, kitab al-Fara’idh (6764), Muslim, kitab al-Fara’idh (1614).
[5] Al-Bukhari, kitab al-Fara’idh (6732), Muslim, kitab al-Fara’idh (1615).

Sumber:
Fatwa2 Terkini Jilid 1, Penerbit Darul Haq.

%d bloggers like this: