Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

“ketik REG Bla Bla Bla…”

Iya,
inilah kata – kata yang manis
penuh dengan madu
yang seringkali diucapkan
mas – mas ber”blangkon”
(memakai topi khas Jawa-pen)
pada iklan – iklan
yang tayang di layar televise.

Bagi sebagian pemuda
yang bertampang melas,
masa depan belum jelas
dan tipe pemalas…
mungkin

REG (spasi) PRIMBON
kirim ke 9877
dan lain sebagainya iklan sejenis

merupakan angin segar
yang bisa membuat
karir,
jodoh
dan kehidupannya
semakin membaik.

Tapi…

Eits…!
Tunggu dulu…!
Tahukah sejatinya kita
tentang hal – hal semacam ini?

Dan
sudahkah kita mengetahui
hakikat mereka yang sesungguhnya…???

Sangatlah jelas
bagi seorang yang mengerti
tentang islam yang mulia ini
akan perkara syirik modern
yang dipopulerkan
via handphone ini.

Bagaimana tidak???

Setiap manusia hamba Allah,
disarankan untuk
minta bantuan dan pertolongan
pada mas – mas berblangkon
agar jodohnya lancer.

Manusia – manusia
yang setiap shalatnya mengucapkan
“laa haula wa laa quwwata illa billah”
justru diminta
untuk mengadukan nasibnya
pada mas- mas berblangkon…???

Mas – mas berblangkon
yang lebih tepatnya dikatakan
dukun atau tukang ramal itu
memanfaatkan
kelengahan orang-orang awam
(yang minta pertolongan padanya)
untuk mengeruk
uang mereka sebanyak-banyaknya.

Mereka menggunakan banyak sarana
untuk perbuatannya tersebut.

Di antaranya
dengan membuat garis di pasir,
memukul rumah siput,
membaca (garis) telapak tangan,
cangkir,
bola kaca,
cermin, dsb.

Jika sekali waktu mereka benar,
maka
sembilan puluh sembilan kalinya
hanyalah dusta belaka.

Tetapi tetap saja
orang-orang dungu
tidak mengingat,
kecuali waktu yang sekali itu saja.

Maka
mereka pergi
kepada para dukun dan tukang ramal
untuk mengetahui nasib mereka
di masa depan,

apakah akan bahagia,
atau sengsara,

baik dalam soal pernikahan,
perdagangan,
mencari barang-barang yang hilang
atau yang semisalnya.

Lantas
bagaimana hukum
orang yang mendatangi
tukang ramal atau dukun?
……

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah:
“Tidak ada seorangpun
di langit dan di bumi
yang mengetahui perkara yang ghaib,
kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)

Dari sebagian para isteri Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bahwa beliau bersabda:

“Barangsiapa
yang mendatangi dukun
lalu
dia bertanya kepadanya
tentang suatu hal,
maka
shalatnya tidak akan diterima
selama
empat puluh malam.”
(HR. Muslim no. 2230)

Dari Abu Hurairah dan Al Hasan
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
beliau bersabda:

“Barangsiapa
yang mendatangi dukun atau peramal
kemudian
membenarkan
apa yang dia katakan,
maka
dia telah kafir
terhadap
apa (Al-Qur`an) yang diturunkan
kepada Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam.”
(HR. Ahmad no. 9171)

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata;

“Beberapa orang bertanya
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
mengenai dukun-dukun,

lalu beliau menjawab:
“Mereka (para dukun)
bukanlah apa-apa.”

Mereka berkata:
“Wahai Rasulullah!
Terkadang
apa yang mereka ceritakan
adalah benar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Perkataan yang nyata (benar) itu
adalah
perkataan yang dicuri oleh jin,
kemudian
dia membisikkannya
ke telinga walinya (dukun)
lalu
mereka mencampuradukkan
bersama kebenaran itu
dengan seratus kedustaan.”

(HR. Al-Bukhari no. 5762
dan Muslim no. 2228)

Penjelasan ringkas:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata,

“Al-arraf (dukun) adalah
nama bagi al-kahin (peramal),
munajjim (ahli nujum),
ar-rammal (tukang tenung),
dan semisalnya mereka
dari
orang-orang yang berbicara
dalam masalah ghaib
dengan metode-metode
semacam itu.”

(Kitab Tauhid,
Bab: Keterangan Tentang Dukun
dan Semisal Mereka)

Maka
ini adalah keterangan dari
Ibnu Taimiah
bahwa
semua orang yang mengklaim
mengetahui perkara ghaib
maka
dia adalah dukun.

Karenanya
walaupun gelarnya dirubah
menjadi
ustadz,
atau kyai,
atau para normal (yang sebenarnya
orangnya tidak normal),
orang pintar (padahal orang bodoh),
magician,
ki,
madam,
atau
gelar-gelar lainnya,

maka
dia tetaplah seorang dukun
yang berlaku padanya hukum-hukum

selama
dia mengaku
mengetahui perkara ghaib.

Karena
hakikat dan hukum
tidak akan berubah
dengan berubahnya nama,
yakni:

Selama
hakikat dari sesuatu itu sama
maka
hukumnya juga sama
walaupun namanya berbeda.

Maka
perkara ghaib
merupakan hak Allah Ta’ala semata,
tidak ada satu makhluk pun
yang mengetahuinya
baik dari kalangan malaikat
maupun para Nabi.

Karenanya
barangsiapa yang mengaku mengetahuinya
maka
dia adalah dukun
walaupun
sesekali dia berkata benar.

Al-Qur’an
telah menegaskan bahwa
tidak ada
yang mengetahui perkara ghaib
kecuali Allah,

karenanya
barangsiapa yang mengklaimnya
atau meyakini
ada makhluk
yang mengetahui perkara ghaib

maka
sungguh dia telah kafir

karena
telah mendustakan Al-Qur`an,
dan itu
menyebabkan dirinya
keluar dari agama Islam,

wal ‘iyadzu billah.

Sisi kekafiran dukun yang lain
adalah karena
dia menggunakan bantuan jin
dalam mencuri berita dari langit,
dan tentunya
jin tidak akan membantunya
kecuali
setelah dia kafir atau musyrik,

misalnya

dia harus menyembelih
untuk selain Allah,

meninggalkan shalat,

menghinakan mushaf al-Qur’an,
dan semacamnya.

Ini hukum bagi dukunnya,
adapun

bagaimana hukumnya
bagi langganannya ??
…….

Hukum bagi langganannya:

Jika dia bertanya
tidak membenarkannya

misalnya
pergi untuk sekedar ingin tahu,
coba-coba  atau sejenisnya,

maka
ia tidak tergolong orang kafir,

tapi
shalatnya tidak diterima
selama 40 malam.

Tapi
jika dia mempercayai
dan membenarkan
ucapan dukun
maka
dia juga kafir
sebagaimana
kafirnya dukun tersebut.

Jika ada yang bertanya:

Bukankah terkadang
ramalan mereka benar?

Maka
Nabi -alaihishshalatu wassalam-
telah menjawabnya
sebagaimana di atas,
bahwa

ramalan mereka asalnya adalah
kalimat yang benar
tapi
ditambahkan oleh jin-jin
dengan 100 kedustaan.

Karenanya
perbandingan benar dan salahnya
adalah
1 banding 99,

tapi ironisnya
para langganan hanya memperhitungkan
kalau
dukun itu pernah benar

dan
sama sekali tidak memperhitungkan
sudah sangat banyaknya
kesalahan mereka.

Jadi,
kita tidak boleh bertanya
kepada mereka
bukan hanya

karena
kebanyakan kabar mereka
adalah dusta,

tapi
kita tidak boleh bertanya
karena
dilarang oleh syariat,

terserah
kabar mereka benar atau salah.

Tambahan keterangan:

Maksud
tidak diterima shalatnya
selama 40 malam’
adalah

bahwa
shalatnya selama 40 hari
syah
sehingga
dia tidak perlu mengulangnya,

hanya saja
pahala shalatnya
selama 40 malam itu
terhapus
dengan dosa
dia bertanya kepada dukun.

Jadi
ketika shalatnya tidak diterima
bukan berarti
dia tidak perlu shalat,

karena
itu hanya akan menambah dosanya.

Jadi
saking besarnya dosa

sekedar bertanya
kepada dukun

sampai dosanya
seimbang dengan
pahala 40 hari shalat.

Itu kalau mendatangi dukun,
bagaimana hukumnya
bila didatangi dukun ??
……

Bertanya kepada dukun
sama saja hukumnya

baik
dia yang mendatangi dukun
maupun
dukun yang datang ke tempatnya.

Karenanya
termasuk bertanya kepada dukun
adalah

membaca ramalan nasib
(shio dan zodiak)

dan atau
mendengarnya melalui radio

atau
menyaksikan ramalan melaui TV,

semuanya
masuk dalam kategori
bertanya kepada dukun

dan shalatnya
tidak akan diterima
selama 40 hari.

Demikian diterangkan
oleh
Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh
dalam syarah beliau
terhadap kitab At-Tauhid.

Hukum bertanya kepada dukun:

Jika
dia bertanya
(membaca atau menonton)
hanya sekedar
ingin tahu atau
hanya iseng-iseng atau penasaran
tapi
dia tidak membenarkan ramalannya
maka

shalatnya
tidak akan diterima
selama 40 malam.

Jika dia melakukannya
karena
mempercayai ramalannya
maka
dia telah kafir.

Jika dia melakukannya
untuk mengungkap
kedustaan dan kebatilan dukun,
maka
itu termasuk jihad
dan nahi mungkar
selama
dia yakin bisa membuktikannya.

Sebagaimana yang Nabi
-alaihishshalatu wassalam-
lakukan
tatkala beliau bertanya
masalah ghaib kepada
Ibnu Shayyad

guna mengetahui
hakikat keadaan dirinya,
dan akhirnya
nampak bagi beliau
bahwa
dia hanyalah seorang dukun.

Selesai

Ditulis ulang dari:
http://al-atsariyyah.com dan
http://fitrahfitri.wordpress.com/

%d bloggers like this: