Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu anhu, ia berkata; Aku pernah mndengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (godaan yg merusak/menyesatkan mereka), dan fitnah yang ada pada umatku adalah harta”. (HR. Tirmidzi IV/569 no.2336, dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam AsSilsilah Ash-Shohihah II/139 no.592).

Maksud hadits ini, bahwa menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah bentuk fitnah atau ujian yang bisa merusak agama seseorang, karena harta dpt melalaikn pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kpd Allah dan membuatnya lupa kpd akhirat. Hal ini sbgmn firmn Allah Ta’ala (yg artinya): “Sesungguhnya hartamu dan anak2mu merupakan fitnah atau ujian bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yg besar.” (QS. At-Tagabun; 15)

Di dalam hadits ini trkandung nasehat brharga dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bagi siapa sj yg dibukakan baginya pintu2 harta (org2 kaya) agar mereka bersikap waspada dari keburukan dan kerusakan fitnah harta, dengan tidak berlebihan dlm mencintainya dan terlalu berambisi dlm mngejarnya. (Nasehat imam Ibnu Baththal yg dinukil dlm kitab Fathul Bari XI/245).

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Orang yg mencintai harta dunia secara berlebihan tidak akan lepas dari 3 kerusakan atau pnderitaan (yaitu):
1. Kekalutan pikiran yg tidak akan pernah hilang.
2. Keletihhn yg brkepanjangan,
3. Dan penyesalan yg tiada akhirnya.” (Lihat Ighotsatul Lahfaan hal.83-84).

Yg prlu digaris bawahi bhwa celaan dan peringatan thdp bahaya fitnah harta tsb bukan pd zat harta itu sndri, akan tetapi mksudnya adalah celaan thdp kecintaan yg berlebihan thdapnya sehingga melalaikan manusia dr mengingat Allah dan tdk menunaikan hak2 Allah yg wajib dilakukan oleh para hamba-Nya.

Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi رحمه الله berkata:

“Dunia (dan perhiasannya) tidaklah dilarang atau dicela pada zatnya, tp krn dikhawatirkan harta dunia itu menghalangi manusia utk mencapai ridho Allah,
sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut dan dipuji pada zatnya,
tp krn kemiskinan itu pd umumnya tdk menghalangi dan tdk menyibukkan manusia dr beribadah kpd Allah.
Berapa banyak org kaya yg kekayaannya tdk melupakan dr beribadah kpd Allah spt nabi Sulaiman alaihis salam,
demikian pula sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه.
Dan berapa banyak orang miskin yg kemiskinannya justru melalaikannya dr beribadah kpd Allah dan memalingkannya dr kecintaan serta kedekatan kpdaNya.”

(Lihat Al-Adab Asy-Syar’iyyah III/469).

%d bloggers like this: