Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Diantara sebab kefuturan adalah

Tidak menjaga iman dari waktu kewaktu dari tinjauan naik-turunnya iman.

Hal ini karena seorang tanpa muhasabah dengan imannya, tentu akan jadi permainan sarana futur dari segala penjuru sehingga dapat menghancurkan bangunan iman. Oleh karena itu wajib bagi seorang mukmin apabila melihat adanya kekurangan pada imannya atau merasa memiliki fenomena futu untuk bersegera pemberbaiki imannya dengan ilmu yang manfaat dan amal shalih. Abu ad-Darda’ pernah menasehati kita semua dengan menyatakan:

من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما نقص منه ، ومن فقه العبد أن يعلم : أيزداد هو أم ينتقِص ؟

Diantara fikih seorang hamba adalah memperhatikan imannya dan yang dapat menguranginya. Dari fikih seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang?

Umar bin al-Khathab pernah berkata kepada para sahabannya:

هلموا نزدد إيمانًا ، فيذكرون الله عز وجل

Mari kita tingkatkan imam dengan berdzikir kepada Allah.
Sedangkan Ibnu Mas’ud berkata dalam do’anya:

اللهم زدنا إيمانًا ويقينًا وفقها

Ya Allah tambahkan kepada kami iman, yakin dan fikih.
Juga Mu’adz bin jabal berkata kepada seseorang:

اجلس بنا نؤمن ساعة

Mari duduk bersama kami untuk beriman sesaaat.
Demikian Ammar bin Yasir berkata:

ثلاث من كُنَّ فيه فقد استكمل الإيمان : إنصافٌ من نفسه ، والإنفاق من إقتار ، وبذل السلام للعالَم

Tiga hal bila dimiliki maka telah sempurna imannya; adil terhadap diri sendiri, berinfak ketika sempit dan memberi salam kepada semua orang. (Disampaikan al-Bukhori dalam shahihnya).

Mari muhasabah terus..! Semoga dijauhkan dari kefuturan.

Sebab kefuturan adalah
Tidak mengetahui syurga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang takwa, atau tidak mau tahu atau lupa atau tidak mengingat-ingatnya terus.
Apabila seorang mengalami hal-hal ini maka akan terkena futur dan malas berbuat ibadah; karena manusia bergantung kepada penghargaan dan mencari balasan pahala dari perbuatan baik. Oleh karena itu Allah sediakan untuk hambaNya balasan luar biasa seperti dalam firmanNya:

هذا ذِكْرٌ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآبٍ(49)جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمْ الْأَبْوَابُ(50)مُتَّكِئِينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ(51)وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ أَتْرَابٌ(52)هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ(53)إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ

Ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan (diatas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu. dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya. Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezki dari Kami yang tiada habis-habisnya. (QS Shaad 49-54)
Sedang Nabi bersabda:

قَالَ اللَّهُ : أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ (

Allah berfirman: Aku siapkan untuk hambaku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbesit dalam benak manusia. Bacalah kalau suka

(فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ). HR al-Bukhori.

Namun banyak dari kita yang tidak bersegera mendapatkan pahala tersebut atau lalai darinya, sehingga perasaan menginginkannya mati dan lemah semangat mendapatkannya.

%d bloggers like this: