Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Shahabat Abu Dzar رضي الله عنه menjelaskan

bahwa kondisi susah (miskin dan sakit)
lebih baik bagi seorang hamba
daripada kondisi senang (kaya dan sehat),
karena biasanya
seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan
daripada bersabar untuk tidak melanggar perintah Allah Ta’ala dalam keadaan senang dan lapang,

. sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian,
akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian
sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian,
maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia
sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya,
sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian
sebagaimana dunia membinasakan mereka”

[ HR al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).

❤. Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah Ta’ala bagi hamba-Nya
adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya
dan ini merupakan sebab utama Allah Ta’ala akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutamaan bagi hamba-Nya.

. Dalam sebuah hadits qudsi
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku”

[ HR al-Bukhari (no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir) dan Muslim (no. 2675).

. Makna hadits ini :

Allah akan memperlakukan seorang hamba
sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya,
dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya
sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut,
maka hendaknya hamba tersebut
selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala

[ Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/312) dan
“Tuhfatul ahwadzi” (7/53) ].

Takdir yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-Nya,
baik berupa kemiskinan atau kekayaan,
sehat atau sakit,
kegagalan dalam usaha atau keberhasilan
dan lain sebagainya,
wajib diyakini
bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut,
karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui
bahwa di antara hamba-Nya
ada yang akan semakin baik agamanya
jika dia diberikan kemiskinan,
sementara yang lain
semakin baik dengan kekayaan,
dan demikian seterusnya

[ Lihat keterangan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” (hal. 149-150).

%d bloggers like this: