Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Oleh Ust Abu Hazzam Juanedi Abdillah
Diedarkan Admin Assunnah

Allah ta’ala yang telah menciptakan manusia dan semua perbuatan-perbuatannya, termasuk diantaranya adalah maksiat yang dilakukan sebagian mereka, sekalipun demikian bukan berarti bahwa Allah ridlo dan senang dengan maksiat tersebut, akan tetapi ada hikmah yang luar biasa di balik penciptaan maksiat-maksiat, diantaranya :

1. Agar Allah dapat menunjukkan kepada hamba-hamba-NYA bahwa Dia mencintai orang-orang yang suka bertaubat. Dengan adanya maksiat, maka akan nampak orang-orang yg bertaubat kepada Allah dan mengharap ampunan-Nya, bahkan Allah sangat senang melebihi senangnya orang yang kehilangan kendaraanya yg berisi makanan dan minuman di padang pasir yang sepi.

2. Agar seorang hamba mengetahui bahwa manusia sangat membutuhkan penjagaan Allah, dan pertolongan-Nya. Tanpa pertolongan Allah dan penjagaan-Nya, seorang hamba akan mudah terjatuh dalam kubangan maksiat.

3. Agar hamba mengetahui hakikat dirinya sendiri yang suka berbuat dlolim, dan sangat bodoh. Adapun petunjuk, kebaikan, ilmu, ampunan dan takwa dari Allah ta’ala, sehingga jika seorang hamba melakukan suatu dosa, dia akan tahu kekurangan dirinya, dan menuntut untuk berusaha sekuat tenaga menyempurnakannya dengan taubat dan istighfar.

4. Allah ingin menunjukkan kedermawanan, kasih sayang, dan kelemah lembutan-Nya sehingga tidak tergesa-gesa mengadzab hamba-hamba-Nya yang bermaksiat. (Bersambung).

5. Allah ingin menegakkan hujjah terhadap hamba-Nya yg bermaksiat, sehingga dia bisa sadar, jika ada suatu musibah yg menimpanya, tidak lain karena sebab perbuatannya sendiri.

6. Agar hamba-hamba dapat berinteraksi dengan perlakuan yang disenangi sesamanya. 7. Agar para hamba menyadari pentingnya taufiq dan ampunan Allah ta’ala.
8. Agar para hamba dapat mensyukuri nikmat Allah walau pun sedikit, karena jika mereka mengetahui kejelekan mereka sendiri, sementara Allah terus melimpahkan rahmat-Nya. 9. Agar para hamba mengetahui keburukan, sehingga mereka dapat mengantisipasi supaya tidak terjatuh di dalamnya. 10. Agar para hamba menyibukkan dengan kejelekan diri mereka sendiri dan tidak menyibukkan diri dg aib orang lain. (Al-Iman bil Qodlo wal Qodar hal. 112 – 120).

%d bloggers like this: