Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi
Terjemah : Syafar Abu Difa
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama

Segala puji bagai Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan seluruh sahabatnya.

Adapun selanjutnya:
Dikarenakan anak adalah potensi umat ini, harapan masa depan, harta pusaka dan kekuatan inti, maka menjadi wajib bagi kita untuk benar-benar memanfaatkan potensi dan pusaka ini, untuk berkhidmat, mencintai agama dan mengamalkannya.

Kita tidak boleh mengabaikan generasi anak-anak dan menyia-nyiakannya. Melihat mereka seakan tidak membawa pesan apapun. Pandangan sedemikian itu merupakan kekeliruan fatal yang banyak dilakukan para orang tua dan pendidik. Karenanya pemikiran-pemikiran dan gagasan dalam tulisan ini, tidak lain untuk memperbaiki pemahaman dan gambaran yang keliru tersebut.

Untuk itu saya berupaya menjadikan pemikiran-pemikiran dan gagasan ini tertuang dalam bentuk langkah terapan sehingga mudah dipahami dan dipraktekkan, yang sesuai dengan karakteristik, akal dan kejiwaan mereka, yang mengarahkan kepada bagaimana berkhidmat dan mencintai agama ini.

Saya meminta kepada Allah -azawajalla- mengilhamkan ketepatan dan kebenaran serta menjauhkan kesalahan dan ketergelinciran. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Pengabul doa.

LANGKAH (1)

KESALEHAN IBU DAN AYAH

Langkah pertama dan yang paling penting adalah Kesalehan orang tua. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya.

Penyebutan ibu di dahulukan dari pada ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu, mengingat kebersamaannya yang lebih lama dengan anak-anak, berbeda dengan ayah yang sibuk mencari rezeki. Mendidik anak-anak agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur, sebagaimana yang dikatakan oleh as-Syaukhi:

Ibu adalah madrasah jika engkau mempersiapkannya
Dengan mempersiapkannya berarti telah menyiapkan generasi yang harum namanya

Ibulah madrasah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Karenanya ibu (istri) solehah. amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya:

(( تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فاظفر بذات الدين تَرِبَتْ يَدَاك ))

“Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.” [Sahih al-Bukhari no.5090, Kitab: Nikah, Bab: al-Akhiffa fi ad-Diin).

Bersambung..

%d bloggers like this: