Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Sudah jelas Allah menjadikan kebahagiaan manusia terletak pada semangatnya untuk meraih perkara yang bermanfaat bagi dirinya, baik untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya. Untuk mewujudkan semangat tersebut adalah dengan cara mengerahkan segenap kesungguhan dan mencurahkan segenap kemampuannya.
Apabila seseorang yang sangat bersemangat menggeluti perkara yang bermanfaat baginya maka semangatnya itu layak untuk dipuji. Seluruh potensi kesempurnaan diri akan terwujud dengan tergabungnya kedua perkara ini: ia memiliki semangat yang menyala-nyala dan semangatnya itu dicurahkan kepada sesuatu yang bermanfaat baginya…”
Oleh sebab itu Rasulullah bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ رواه مسلم.
Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila sesuatu menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim [2664] lihat Syarh Nawawi, jilid 8 hal. 260).

Bahan Renungan

Ke 1

akherat dan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk menggunakan dunia sebagai ladang khusus baginya. Menanam dan menabur benih-benih yang disukainya kemudian memanennya didunia dan akherat semua yang telah ditaburnya tersebut. Apabila menanam benih keburukan maka pohon dan buahnyapun buruk. Dan bila menabur benih kebaikan maka akan tumbuh pohon dan hasil yang baik.

Demikianlah balasan sesuai dengan jenis amalannya dan buah pun dari jenis pohonnya. Sebagai permisalan rasulullah pernah bersabda,
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang mengucapkan Subhanallah Al-‘Azhim wa bihamdihi maka ditanamkan uintuknya satu pohon kurma disyurga.” (H.r. At-tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani dalm shahih sunan At-Tirmidzi no. 2757)

Demikianlah pahala dan balasan diakherat sesuai dengan amalan yang dikerjakan seseorang didunia. Untuk itulah Allah berfirman,
الْيَوْمَ تُجْزَي كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لاَظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi Balasan dengan apa yang diusahakannya. tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah Amat cepat hisabnya.” (QS. Mu’min: 17).

Ke- 2

Semua amalan kita telah tertulis dalam satu kitab yang Allah tidak berbuat zhalim pada seorangpun. Allah berfirman:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فَيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَيُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلاَكَبِيرَةً إِلآ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَاعَمِلُوا حَاضِرًا وَلاَيَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun.” ( QS. Al-Kahfi: 49)

Tidak ada satupun amalan baik yang kecil maupun yang besar kecuali telah tertulis dalam kitab tersebut yang akan dibaca setiap orang masing-masing kitabnya. Allah jelaskan hal ini dalam firman-Nya:
وَكُلُّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al-Isra’ :13-14).

Demikian juga Allah jelaskan bahwa setiap amalan kita akan kita lihat nanti diakherat dalam firman-Nya,
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ {7} وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شّرًّا يَرَهُ {8

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah:7-8).

Ke-3

Baginda yang mulia Nabi Muhammad pernah bersabda menyampaikan hadits Qudsi yang berbunyi:
يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
Wahai hambaKu semua itu adalah amalan kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian aku sempurnakan balasannya. Siapa yang mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah dan yang mendapatkan selainnya maka jangan menyesal.” (HR. Muslim).
Barang siapa yang menggunakan hartanya yang halal dijalan Allah maka balasannya dihari kiamat nanti adalah kebaikan dan pahala. Allah berfirman:
وَمَاتُنفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَآءَ وَجْهِ اللهِ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah :272)
Sebaliknya orang yang mengumpulkan harta yang haram dan menggunakannya dalam larangan Allah dan RasulNya, maka balasannya dihari kiamat adalah keburukan dan siksaan.
Oleh karena itu marilah kita jadikan harta kita menjadi sebab kebahagian dunia dan akherat kita.

Ketiga;

kebaikan, kecintaan kepada Allah dan pelaksaaan syariat pada diri orang-orang beriman itu
bertingkat-tingkat.

Sebagaimana firman Allah:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُواْ

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan
(Qs al-Ahqaaf 19).

Mereka terdiri dari tiga golongan manusia.

Pertama;
kaum As-Saabiqun ilal Khairat, orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan-kebaikan.

Mereka adalah orang-orang yang menunaikan amal yang wajib maupun yang sunnah
serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh.

Kedua;
kaum Al-Muqtashidun atau pertengahan.

Mereka itu adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan melakukan kewajiban
dan meninggalkan keharaman.

Ketiga;
Azh-Zhalimuna li anfusihim.

Mereka adalah orang-orang yang mencampuri amal kebaikan mereka dengan amal-amal jelek.

Setelah menyampaikan tingkatan mukmin dan keutamaan mukmin yang kuat, maka Rasulullah bersabda:

“احرص على ما ينفعك واستعن بالله”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa seorang yang semangat harus dalam hal-hal yang bermanfaat.

Orang yg semangat tapi dalam perkara yg tdk manfaat adakalanya dalam perkara yg  membawa madharat atau menghilangkan kesempurnaan, maka buah semangatnya adalah kerugian dan kehilangan kebaikan serta mendapatkan keburukan dan kemadharatan.

Berapa banyak orang yg semangat melaksanakan satu amalan yg tdk manfaat, tdk mendapatkan dari semangat tersebut kecuali kelelahan, kesulitan dan kesengsaraan.

Oleh karena itu sangat penting mengerti hal2 yg manfaat baginya didunia dan akherat.

Keempat;
perkara yang bermanfaat ada dua macam; perkara akhirat/keagamaan dan perkara keduniaan.

Sebagaimana seorang hamba selain membutuhkan perkara agama, ia juga membutuhkan perkara dunia.

Kebahagiaan dirinya akan tercapai dengan senantiasa bersemangat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat di dalam kedua perkara tersebut dan bersungguh-sungguh mendapatkannya.

Kapan seorang hamba bersemangat melakukan perkara-perkara manfaat dan bersungguh-sungguh mendapatkannya lalu meangambil sebab dan caranya dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah dalam mendapatkan dan menyempurnakan hal-hal yang manfaat tersebut, maka ia mencapai kesempurnaannya dan menjadi tanda-tanda kesuksesannya.

Kapan ia kehilangan salah satu dari perkara-perkara ini maka ia akan kehilangan kebaikan dan kesuksesan sesuai dengan yang tidak dimilikinya tersebut.

Siapa saja yang tidak semangat mencarperkara-perkara manfaat tersebut dan bermalas-malasan maka ia tidak mendapatkan apa-apa.

Syeikh as-Sa’di menyatakan:

فالكسل هو أصل الخيبة والفشل. فالكسلان لا يدرك خيراً، ولا ينال مكرمة، ولا يحظى بدين ولا دنيا

Kemalasan adalah sumber kerugian dan kegagalan. Orang yang malas
tidak mendapatkan kebaikan dan tidak mencapai kemuliaan serta tidak mendapatkan kebaikan agama dan dunia.
(Bahjah Qulub al-Abrar).

Ingatlah Perkara yang bermanfaat dalam urusan agama kuncinya ada 2;

ilmu yang bermanfaat dan amal salih.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membersihkan hati dan ruh sehingga
dapat membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam ilmu hadits, tafsir, dan fiqih
serta ilmu-ilmu lain yang dapat membantunya seperti ilmu bahasa Arab dan lain sebagainya.

Adapun amal salih adalah amal yang memadukan antara niat yang ikhlas untuk Allah serta perbuatan yang selalu mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan perkara dunia yang bermanfaat bagi manusia adalah dengan bekerja mencari rezeki, karena manusia membutuhkannya.

Dalam mencari rezeki hendaknya seorang mengambil sebab duniawi yang paling manfaat dan sesuai dengan keadaannya.

Hal ini tentunya berbeda-beda sesuai dengan kondisi, waktu, keadaan dan kemampuan.

Namun hendaknya tujuan mencarinya adalah melaksanakan kewajiban dirinya dan kewajiban memenuhi kebutuhan orang yang berada dibawah kekuasaan dan naungannya.

Demikian juga hendaknya berniat mendapatkan sesuatu yang dapat menegakkan ibadah harta berupa zakat dan shadqah dengan mengambil usaha-usaha yang halal.

Kelima;
dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat itu tidak sepantasnya manusia bersandar kepada kekuatan, kemampuan dan kecerdasannya semata.

Namun, dia harus menggantungkan hatinya kepada Allah ta’ala dan meminta pertolongan-Nya dengan harapan Allah akan memudahkan urusannya.

Imam Ibnu Qayyim rohimahulloh mengatakan,

“Letak kebahagiaan manusia ialah pada semangatnya untuk meraih perkara yang bermanfaat bagi dirinya, baik untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya.

Mewujudkan semangat adalah dengan cara mengerahkan segenap kesungguhan dan mencurahkan segenap kemampuan.

Apabila seseorang yang sangat bersemangat menggeluti perkara yang bermanfaat baginya maka semangatnya itu layak untuk dipuji. Seluruh potensi kesempurnaan diri akan terwujud dengan tergabungnya kedua perkara ini:

ia memiliki semangat yang menyala-nyala dan semangatnya itu dicurahkan kepada sesuatu yang bermanfaat baginya…”

“Karena munculnya semangat dalam diri seseorang serta perbuatannya hanya bisa terwujud dengan pertolongan serta kehendak dan taufik dari Alloh maka beliau (Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) memerintahkan supaya (kita) meminta pertolongan-Nya.

Demi tergabungnya maqam iyyaaka na’budu (melakukan peribadahan) dan maqam iyyaaka nasta’iin (memohon pertolongan) di dalam dirinya.

Oleh karena semangat seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya termasuk ibadah kepada Alloh.

Sedangkan hal itu tidak akan bisa diwujudkan kecuali dengan pertolongan Alloh.

Maka beliau pun memerintahkan (kita) untuk beribadah dan sekaligus meminta pertolongan kepada-Nya.”

(Ibthaalu tandiid, Syaikh Hamad bin’Atiq)

Oleh karena itu syeikh as-Sa’di menyatakan:

إذا سلك العبد الطرق النافعة، وحرص عليها، واجتهد فيها: لم تتم له إلا بصدق اللجأ إلى الله، والاستعانة به على إدراكها وتكميلها وأن لا يتكل على نفسه وحَوْله وقوته، بل يكون اعتماده التام بباطنه وظاهره على ربه. فبذلك تهون عليه المصاعب، وتتيسر له الأحوال و هذا محتاج – بل مضطر غاية الاضطرار – إلى معرفة الأمور التي ينبغي الحرص عليها، والجد في طلبها.

Apabila seorang hamba berjalan pada jalan yang bermanfaat, bersemangat dan bersungguh-sungguh padanya maka hal itu tidak sempurna kecuali dengan benar-benar berlindung kepada Allah dan memohon pertolonganNya dalam mencapai dan menyempurnakan jalan kemanfaatn tersebut. Janganlah bersandar kepada diri, usaha dan kekuatannya semata, bahkan harus bersandar sempurna dengan batin dan lahirnya kepada Allah. Dengan ini semua kesulitan akan mudah  dan akan gampang semua keadaannya. Ini semua membutuhkan –bahkan tidak boleh tidak – pengetahuan terhadap perkara yang seharusnya ia bersemangat dan bersungguh-sungguh mendapatkannya.

Keenam;
apabila seseorang menjumpai perkara yang tidak menyenangkan setelah dia berusaha sekuat tenaga, maka hendaknya dia merasa ridha dengan takdir Allah ta’ala.

Tidak perlu berandai-andai, karena dalam kondisi semacam itu berandai-andai justru akan membuka celah bagi syaitan.

Dengan sikap semacam inilah hati kita akan menjadi tenang dan tentram dalam menghadapi musibah yang menimpa.

Ketujuh;
di dalam hadits yang mulia ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara
keimanan kepada takdir dengan melakukan usaha yang bermanfaat.

Sebab manusia tidak memiliki kekuasaan yang mutlak, bisa jadi manusia telah melakukan yang terbaik dan sudah memohon kepada Allah juga namun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkannya maka manusia harus ridha kepada takdir ilahi.

Agama seseorang  tidak akan sempurna kecuali dengan kedua hal itu.

Sabda Nabi,

“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu”

merupakan perintah untuk menempuh sebab-sebab agama maupun dunia, bahkan di dalamnya terkandung perintah untuk bersungguh-sungguh dalam melakukannya, membersihkan niat dan membulatkan tekad, mewujudkan hal itu  dan mengaturnya dengan sebaik-baiknya.

Sedangkan sabda Nabi,

“Dan mintalah pertolongan kepada Allah”

merupakan bentuk keimanan kepada takdir serta perintah untuk bertawakal kepada Allah ketika mencari kemanfaatan dan menghindar dari kemudharatan dengan penuh rasa harap kepada Allah ta’ala agar urusan dunia dan agamanya menjadi sempurna.

Petunjuk Nabi dalam hadits ini adalah:

1. Bersemangat mendapatkan perkara manfaat

2. Berijtihad (bersungguh-sungguh) dalam mendapatkannya.

3. Memohon pertolongan kepada Allah

4. Bersyukur kepada Allah atas semua kemudahan

5. Ridho dengan yang tidak didapatkan dan yang hilang darinya.

Mari kita bergerak dan bekerja berdasarkan petunjuk Rasulullah ini.

Wabillahittaufiq

%d bloggers like this: