Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

. KAIDAH – 1
Setiap ibadah yang berdasarkan hadits yang palsu adalah bid’ah.
(*) Seperti shalat raghaib, nishfu sya’ban, dsb.
(Al I’tisham 1/224-231).
 
. KAIDAH – 2
Setiap ibadah yang hanya berdasarkan ra’yu dan hawa nafsu adalah bid’ah.
(Al ibdaa’ hal 41).
(*) Seperti hanya berdasar pendapat sebagian ulama, atau adat istiadat suatu tempat yg dijadikan ibadah, atau berdasar hikayat dan mimpi.
(*) Seperti khuruj.
 
. KAIDAH – 3
Suatu ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah sementara pendorongnya ada dan penghalangnya tidak ada maka hukumnya bid’ah.
(Al I’tisham 1/361, majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah 26/172).

Karena sesuatu yg tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak lepas dari tiga keadaan:

. A. Tidak dilakukan karena belum ada pendorongnya atau belum dibutuhkan.

. B. Tidak dilakukan karena masih ada penghalangnya.

Dua poin ini, bila pendorongnya telah muncul atau penghalangnya telah hilang, dan amat dibutuhkan dan mashlahatnya jelas maka melakukannya tidak dianggap bid’ah, seperti mengumpulkan alqur’an, membuat ilmu nahwu dsb.

. C. Tidak dilakukan padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukannya bid’ah. Seperti adzan dan qamat untuk shalat ied, perayaan-perayaan yg tidak disyari’atkan dsb.
 
. KAIDAH – 4
Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para shahabat, padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, maka melakukannya bid’ah.
(Al Ba’its hal 48).
(*) Contoh : Perayaan Maulid Nabi yg baru muncul pada tahun 317H, yg pertama kali melakukannya banu Fathimiyah Syi’ah ekstrim.
 
. KAIDAH – 5
Setiap ibadah yang menyelisihi kaidah syari’at dan maksud tujuannya adalah bid’ah.
(Al I’tisham 2/19-20).
(*) Contoh : Baca al-Qur’an keras-keras dengan mikrophon, karena sangat mengganggu, sedangkan mengganggu kaum muslimin adalah haram, dan kaidah berkata:
“Menghindari mafsadah lebih didahulukan dari mendatangkan mashlahat”.

. KAIDAH – 6
Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan sesuatu dari adat kebiasaan atau mu’amalah dari sisi yang tidak dianggap oleh syari’at adalah bid’ah.
(Al I’tisham 2/79-82).
(*) Contoh : beribadah dengan cara diam terus menerus, atau menganggap memakai pakaian yang terbuat dari kain wol adalah ibadah.
Yang harus difahami adalah bahwa masalah adat dan mu’amalat pada asalnya adalah mubah, dan bisa berubah hukumnya bila dijadikan sebagai wasilah, namun ketika dijadikan sebagai ibadah yang berdiri sendiri dapat menjadi bid’ah.
 
. KAIDAH – 7
Setiap taqarrub kepada Allah dengan cara melakukan apa yang Allah larang adalah bid’ah.
(Jami’ul uluum wal hikam 1/178).
(*) Contoh : Allah melarang tasyabbuh, maka bertaqarrub kepada Allah dengan cara bertasyabbuh adalah haram, seperti merayakan kelahiran Nabi karena ini menyerupai kaum nashara yang merayakan natal.
 
. KAIDAH – 8
Setiap ibadah yang telah ditentukan oleh syari’at tata caranya, tempat, waktu, jumlah, sebab dan jenisnya, maka merubah-rubahnya adalah bid’ah. (Al I’tisham 2/34).
(*) Contoh tata cara shalat telah ditentukan tata caranya, maka merubah-rubah atau menambah-nambah dari yang disyari’atkan adalah bid’ah.
 
. KAIDAH – 9
Setiap ibadah yang TIDAK ditentukan oleh syari’at tata caranya, tempat, waktu, jumlah, sebab dan jenisnya, maka menentukannya dengan tanpa dalil adalah bid’ah.
(Al ba’its hal 47-54).
(*) Contoh: dzikir dengan cara berjama’ah dan suara koor, atau membuat jumlah dzikir tertentu tanpa dalil, atau membuat do’a tertentu tanpa dalil.
 
. KAIDAH – 10
Berlebih-lebihan dalan ibadah dengan cara menambah-nambah dari batasan yang disyari’atkan adalah bid’ah.
(Majmu’ fatawa 10/392).
(*) Contoh melafadzkan niat, atau shalat malam semalaman tidak tidur, atau tidak mau menikah untuk ibadah dsb.

. KAIDAH – 11
Setiap keyakinan atau pendapat atau ilmu yang bertentangan dengan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah atau bertentangan dengan ijma’ salafush-shalih adalah bid’ah.
(I’laamul muwaqqi’in 1/67).
 
Kaidah ini mencakup tiga macam:

. A. Semua kaidah-kaidah yang mengandung penolakan terhadap al Qur’an dan Sunnah, seperti: kabar ahad tidak boleh dijadikan dalil dalam aqidah, atau cukup al Qur’an saja dan tidak perlu hadits.

. B. Berfatwa dalam agama dengan tanpa ilmu.

. C. Menggunakan ra’yu dalam kejadian-kejadian yang belum terjadi, dan menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu yang aneh dan nyeleneh.
 
. KAIDAH – 12
Setiap aqidah yang tidak terdapat dalam al Qur’an dan Sunnah dan tidak juga diyakini oleh para shahabat dan tabi’in adalah bid’ah.
(Ahkaamul janaaiz hal 242).
 
Masuk dalam kaidah ini adalah:

. A. Ilmu kalam dan mantiq.

. B. Tarikat-tarikat sufi.

. C. Menggunakan lafadz-lafadz global untuk menetapkan sifat atau menolaknya.

Seperti kata tempat untuk menolak keyakinan bahwa Allah bersemayam di atas ‘arasy.
 
. KAIDAH – 13
Bertengkar dan berjidal dalam agama adalah bid’ah

Masuk dalam kaidah ini :

. A. Bertanya tentang sesuatu yang mutasyabihat, seperti tata cara bersemayam Allah, dsb

. B. Fanatik madzhab dan golongan dgn memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya

. C. Menuduh kaum muslimin dengan bid’ah atau kafir dengan tanpa bukti yang kuat

. KAIDAH – 14
Mewajibkan manusia untuk melakukan suatu kebiasaan (adat) atau mu’amalah tertentu, dan menjadikannya bagaikan syari’at yang tidak boleh disalahi, dan bahkan dianggap sebagai agama yang tidak boleh ditentang, maka ini bid’ah.
(*) Seperti sungkeman, adat dalam perkawinan yg bertentangan dengan syari’at dsb.

. KAIDAH – 15
Keluar dr batasan2 syari’at yg tlh ditentukan adalah bid’ah.

Kaidah ini mencakup tiga macam:

. A. Merubah hukum Allah dlm pelaksanaan had, spt hukum rajam diganti dgn denda dsb.

. B. Akal2-an (hilah) utk menghalalkan yg haram atau menggugurkan kewajiban. Spt riba yg diberi embel2 syari’at.

. C. Kejadian2 yg akan datang spt munculnya wanita2 yg berpakaian tp telanjang, wanita2 yg membantu suaminya di pasar dsb.
 
. KAIDAH – 16
Menyerupai kaum kafirin dlm kekhususan mrk dlm ibadah atau kebiasaan adlh bid’ah baik yg ada dlm agama mereka maupun yg mrk ada-adakan.
Dlm ibadah spt perayaan2, dan dlm kebiasaan spt tdk mau makan daging dsb.
 
. KAIDAH – 17
Melakukan suatu perbuatan jahiliyah yg tdk syari’atkan oleh islam adlh bid’ah.
(*) Spt bergembira dgn anak laki2 dan bersedih dgn anak wanita, meratapi mayat dsb.
 
. KAIDAH – 18
Melakukan suatu perbuatan yg disyari’atkan dengan cara yg menyebabkan manusia mengira selainnya, mk ia adlh bid’ah.
(*) Spt terus menerus membaca di shalat fajar hari jum’at surat as-Sajdah dan al-Insan, shg manusia menyangkanya sbg sesuatu yg wajib pdhl hukumnya sunnah.
 
. KAIDAH – 19
Melakukan suatu perbuatan yg tdk disyari’atkan dgn cara yg menyebabkan manusia mengira bhw itu disyari’atkan, adlh bid’ah.
(*) Spt menghias masjid shg manusia mengira bhw itu tmsk menegakkan islam dan menta’mir masjid.
 
. KAIDAH – 20
Penyimpangan yg dilakukan ulama shg dianggap agama oleh kaum awam adlh msk dlm bid’ah.
(*) Spt sebagian ulama yg membolehkan tabarruk dgn org shalih, atau membolehkan bersafari ziarah kubur wali dsb.
 
. KAIDAH – 21
Maksiat yg didiamkan oleh para ulama, shg kaum awam mengira bhw perbuatan itu diperbolehkan msk dlm kategori bid’ah.
 
. KAIDAH – 22
Sgla sesuatu yg mendukung bid’ah adlh bid’ah.
Spt membawakan makan utk org yg sdg berbuat bid’ah dsb.

%d bloggers like this: