Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

(by ust. Badrussalam LC)

Saudaraku seiman,
sesungguhnya kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang abadi,
namun ia akan hancur dan amat hina di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala,
lebih hina dari bangkai.

(*) Jabir bin Abdillah رضي الله عنه berkata,

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم masuk ke pasar dari arah ‘Aliyah
dan para shahabatnya berada di sekitarnya,
beliau melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil
lalu beliau mengambilnya dengan memegang telinganya kemudian bersabda,
“Siapakah diantara kamu yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”
Mereka berkata,
“Kami tidak suka bangkai itu menjadi milik kami, apa yang bisa kami gunakan darinya.”
Beliau bersabda,
“Atau kamu suka bangkai ini menjadi milikmu?”
Mereka berkata,
“Demi Allah, kalaupun ia masih hidup maka ia binatang yang mempunyai aib karena telinganya kecil, bagaimana jadinya kalau ia bangkai?”
Beliau bersabda,
“Demi Allah, dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini untuk kalian.”
(HR Muslim).

. LEBIH HINA DARI BANGKAI ?!

Ya,
karena bangkai menjijikkan dan dibenci oleh manusia
sehingga mereka tidak akan dilalaikan untuk berlomba mencari bangkai,
sedangkan dunia menjadikan manusia lalai dan tertipu karena perhiasannya menyilaukan hati yang dipenuhi cinta dunia.

Maka jadikanlah dunia ini sebagai tempat perlombaan kita mencari pahala akhirat dan keridlaan Allah Azza wa Jalla,
sambil mencari harta yang halal
dan menggunakan harta itu untuk mendulang pahala sebesar-besarnya
dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dahulu,
kaum mukminin sibuk berlomba mencari pahala akhirat.

(*) Abu Dzar رضي الله عنه berkata,
”Sesungguhnya beberapa orang dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
”Wahai Rosulullah, orang-orang kaya telah pergi membawa pahala banyak ; mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka…”
(HR. Muslim).[1]

. Subhanallah !
mereka iri kepada orang kaya bukan karena mempunyai materi kekayaan yang tidak mereka miliki, namun iri karena orang kaya dapat berinfak dan shadaqah sementara mereka tidak bisa, sehingga mereka tidak meraih pahala besar seperti yang diraih oleh orang kaya.

Memang itulah tempat perlombaan kaum mukminin, maka selayaknya bagi seorang muslim untuk memikirkan masa depannya di hari akhirat.

Karena harta dan anak-anak pada hari itu tidak bermanfaat kecuali orang yang membawa hati yang selamat, membawa pahala besar agar dapat menyelamatkan dirinya dari api neraka.

%d bloggers like this: