Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Nama besar (Tokoh) bukan tolak ukur kebenaran

Apabila mereka menjadi tolak ukur kebenaran maka kita telah menyembah mereka dan kubur-kuburnya menjadi ramai dikunjungi orang untuk mendapatkan berkah dan dimintai pertolongan dan pada akhirnya kubur mereka menjadi tempat ibadah.

Allah Swt berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah, dan (juga mereka menyembah) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
[At-Taubah: 31]

Dari ‘Adi bin Hatim dikisahkan bahwa tatkala dia mendengar Nabi saw membaca ayat,

“Mereka (ahlul kitab) menjadikan para ulama (pendeta) dan rahib-rahib (ahli ibadah) mereka sebagai tuhan sesembahan selain Allah.” (QS. At Taubah [9]: 31)

Maka Adi bin Hatim pun berkomentar kepada Nabi, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.”

Maka Nabi mengatakan, “Bukankah mereka sudah mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian pun ikut mengharamkannya?

Dan bukankah mereka juga menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah kemudian kalian pun ikut menghalalkannya?”

Adi bin Hatim menjawab, “Memang demikian”

Maka Nabi pun bersabda, “Itulah wujud peribadahan kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

%d bloggers like this: