Skip to content

EoiN

Growing Spiritually in Grace and Peace

Monthly Archives: February 2012

Hukum shalat Dhuha adalah sunnah (dianjurkan) berdasarkan dalil dari Abu Hurairah,

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menasehatkan padaku tiga hal: puasa tiga hari setiap bulannya, shalat Dhuha dua raka’at, berwitir sebelum tidur.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat Ahmad dan Muslim terdapat lafadz, “Dua raka’at shalat Dhuha setiap harinya.”

Jumlah raka’at shalat Dhuha maksimal adalah delapan raka’at. Dalilnya adalah dari Ummu Hani, ia berkata, “Ketika tahun Fath al-Makkah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau di bagian dataran teratas dari Makkah. Rasulullah sedang mandi, lalu Fathimah menutupinya. Kemudian beliau mengambil bajunya, lalu berselimut dengannya, kemudian shalat delapan raka’at pada pagi Dhuha.” (Muttafaqun ‘alaih)

Waktu pelaksanaan shalat Dhuha ialah mulai dari berakhirnya waktu terlarang untuk shalat (setelah matahari setinggi tombak) hingga mendekati waktu zawal (matahari hendak tergelincir ke barat). Hal ini berdasarkan hadits, “Allah Ta’ala berfirman:

ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِى مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Wahai anak Adam, ruku’lah kamu kepada-Ku dipermulaan siang sebanyak empat raka’at, niscaya Aku akan memenuhi kebutuhanmu di akhir siang.” (Dikeluarkan oleh yang lima kecuali Ibnu Majah)

Waktu pelaksanaan shalat Dhuha yang paling afdhol jika keadaan semakin panas (semakin siang). Hal ini berdasarkan hadits,

صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalat awwabin (shalat orang yang bertaubat yaitu shalat Dhuha) dikerjakan ketika anak unta mulai beranjak karena kepanasan.” (HR. Muslim)

Diterjemahkan oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Diarsipkan di: Majalah Fatawa

Sumber: (Al As-ilah wal Ajwibah Al Fiqhiyah, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Salmaan, Soal Jawab no. 274)

Al Laknawi rahimahullah berkata:
“Telah tersebar di zaman ini pada kebanyakan negeri, terutama di negeri Dakan yang merupakan tempat munculnya bid’ah dan fitnah dua perkara:

1. Mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk masjid di waktu sholat fajar,
mereka langsung masuk masjid lalu sholat sunnah dan fardlu,
setelah itu mereka saling mengucapkan salam setelah sholat.
Ini adalah perkara buruk,
karena salam itu disunnahkan hanya ketika bertemu saja,
sebagaimana dalam hadits hadits.

2. Mereka saling berjabat tangan setelah selesai sholat fajar, ashar, hari raya dan jum’at.
Padahal berjabat tangan hanya disyari’atkan ketika bertemu.”

Beliau berkata lagi,
“Diantara ulama yang melarangnya adalah ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’i, Quthbuddin bin ‘Alaudin Al Hanafi,
bahkan Al Fadlil Ar Rumi menganggapnya sebagai bid’ah yang jelek..

Beliau juga berkata,
“Ibnu Hajar dari ulama madzhab Asy Syafi’i berkata, “Apa yang dilakukan orang-orang berupa bejabat tangan setelah sholat lima waktu adalah dibenci karena tidak ada asalnya dari syari’at.”

(As Si’ayah fil Kasyf ‘amma fi syarhil wiqoyah hal 264. Lihat akhthaa almusholliin hal 294-295 karya Syaikh Masyhur Salman)

Ikhwan fillah, perlu kita ketahui bersama, bahwa ilmu nahwu merupakan ilmu Чαπƍ begitu fenomenal dalam bahasa arab. Betapa tidak, ilmu Чαπƍ dengannya kita dapat memahami bahasa arab dengan benar. Karena kalimat dalam bahasa arab tidak dapat dipahami kecuali dengan perantara ilmu nahwu. Sebagaimana Чαπƍ dikatakan oleh syekh al-Imrithi:

قال صاحب الدرة البهية في نظم الآجرومية شرف الدين العمريطي:
والنحو أولى أولا أن يعلما ~ إذ الكلام دونه لن يفهما

Penulis kitab ad-Durrotu al-Bahiyyah fii Nazhomi al-Aajurumiyyah yaitu Syarofuddin al-Imrithi mengatakan:

والنحو أولى أولا أن يعلما ~ إذ الكلام دونه لن يفهما

Dan ilmu nahwu lebih utama untuk dipelajari ~ karena ucapan Чαπƍ tidak bernahwu tidak bisa dipahami.

Dan,

قال الشيخ العثيمين: إن النحو في أوله صعب و في آخره سهل. فإن علمَ النحوِ علمٌ شريف, علمُ وسيلة, يتوسّل بها إلى شيئين مهيمين:

Syekh al-Utsaimin berkata, bahwasanya ilmu nahwu itu pada awalnya sulit, dan akhirnya mudah. Karena ilmu nahwu adalah ilmu Чαπƍ mulia, ilmu sarana, Чαπƍ dengannya bisa mencapai dua hal penting:

الشيء الأول: فهم كتاب اللّه و سنة رسوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فإن فهمهما يتوقف على معرفة النحو.

Чαπƍ pertama: Memahami Kitabullah (al-Quran) dan sunnah
Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم .
Maka memahami keduanya (al-Quran dan sunnah) itu tergantung dari pengetahuannya dengan ilmu nahwu tersebut.

الشيء الثاني: إقامةُ اللسان على اللسان العربي, الذي نزل به كلام اللّه عز وجل; لذلك كان فهم النحو أمرا مهما جدا.

Чαπƍ kedua, memperbaiki lisan dengan bahasa arab Чαπƍ dengannya turun firman Allah عز وجل, oleh karena itu memahami ilmu nahwu merupakan perkara Чαπƍ sangat penting.
(Syarh al-Jurumiyyah، hal:9. Oleh Syaikh Muhammad Ibn Sholih al-‘Utsamin. Teks arabic tulisan syekh Dian BW – Abdurrahman Muslim jazahullahu khoiron).

Oleh karena itu hendaknya kita selalu antusias dalam belajar bahasa arab, terlebih ilmu nahwu.

Kejahatan homoseksual merajalela dimana-mana. Banyak pihak mengecamnya, tapi tak sedikit yang ingin melegalkannya. Naluri setan, tapi mereka beralasan ini adalah takdir tuhan. Bukan hanya orang jalanan, tapi juga mereka yang dipandang sebagai kyai langitan. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Tapi ternyata islam tidak mentoleransi perbuatan hina itu.

Sejauh mana islam memandang perbuatan homoseks dan pelakunya ?

Simak penjelasan ust Mahfudz Umri. Klik http://m.salamdakwah.com/videos-detail/ensiklopedi-larangan—bab-liwath.html

Perdagangan adalah profesi yang halalkan. Bahkan Nabi dan sebagian para sahabatnya adalah pedagang.

Akan tetapi suatu ketika nabi bersabda: sesungguhnya para pedagang itu adalah orang yang suka berbuat maksiat.

Bahkan pada Jaman Umar bin Khoththob, beliau mengusir sebagian pedagang dari pasar.

Mengapa demikian ?Ada apa dengan para pedagang ?

Simak Ulasan Ust Badrusalam.
Klik http://m.salamdakwah.com/videos-detail/silsilah-hadits-shahih-pertemuan-2.html

Banyak yang mengaku Islam di KTP,
senang melakukan puasa Ramadhan,
bahkan ada yang sudah berhaji,
namun untuk masalah yang satu ini sulit diperhatikan,
yaitu shalat.

Kadang ditinggalkan dan
shalatnya pun bolong-bolong.

Yang lebih parah lagi,
ada yang mengaku Islam di KTP,
namun tidak pernah shalat sama sekali.

Kami teringat dengan
 perkataan khalifah Umar bin Khottob,
“Laa islama liman tarokash sholaah”
[Tidak disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat].

Ini beliau katakan di akhir-akhir hidup beliau di hadapan para sahabat
dan tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya.

Sampai-sampai para ulama katakan
bahwa para sahabat sepakat akan kafirnya orang yang meninggalkan shalat
karena malas-malasan
meskipun meyakini wajibnya.

Hal ini pun dikuatkan
dengan berbagai
dalil yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat,
 diantaranya hadits,
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami)

(*) Baca selengkapnya di rumaysho.com mengenai sanggahan pada pendapat yg tidak mengkafirkan orang yg meninggalkan shalat :

http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3713-meninggalkan-shalat-bisa-membuat-kafir.html.

1) Letakkan tangan pd bag tubuh yg sakit sambil membaca BISMILLAHI (3x) dan selanjutnya lafazkan kalimat berikut ini : A’uudzubillahi wa Qudratihi min syarrimaa a’jidu wa u’haadziru ( 7 x ) artinya : Aku berlindung kpd ALLAH dan kpd kekuasaan-NYA dari kjahatan apa yg aku dpti dan yg aku khawatirkan (H.R Shahih Muslim 2202).

2) Lalu berdo’alah dgn penuh keyakinan kpd-Nya “Allahumma Rabbannasi, adzhibil ba’sa wasyfihi, wa antasy syaafii, Laa syifa-a illa syifaauka, syifaa-an la yughaa diru saqaman” .. Yaa ALLAH, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tdk ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dariMu, kesembuhan yg tidak meninggalkan sedikitpun penyakit ”

(H.R Bukhari no: 5743/ al Fath X/206 dan H.R Muslim no: 2191(46-49)